JurnalPatroliNews | Jakarta – Aksi Rakyat Bela Indonesia (ARBI) dijadwalkan menggelar aksi akbar di Lapangan Hijau Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (8/11/2026). Gerakan tersebut membawa lima tuntutan terkait persatuan bangsa, persoalan oligarki, pelaksanaan konstitusi, hingga penegakan hukum.
Rangkaian kegiatan akan diawali dengan salat Subuh berjamaah di Masjid Agung Al-Azhar. Sementara acara utama dijadwalkan berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB.
Ketua Aksi Rakyat Bela Indonesia, Ustaz Bachtiar Nasir, mengatakan gerakan tersebut lahir dari keresahan sejumlah tokoh terhadap perkembangan situasi kebangsaan yang dinilai membutuhkan perhatian bersama.
Menurut Bachtiar, pembentukan ARBI berawal dari pertemuan sejumlah tokoh dan pimpinan organisasi kemasyarakatan pada 5 November 2026. Pertemuan tersebut dipimpin Ketua Pembina Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al-Azhar, Jimly Asshiddiqie.
Sejumlah tokoh yang disebut terlibat dalam pertemuan tersebut antara lain Ferry Juliantono, KH Zainuddin, Erick Yusuf, Widodo Muktiyo, Azizan, Syafi’i Muta’ali, Fathurrahman Mahfud, Adian Husaini, Muhammad Zaitun Rasmin, dan Aris Susanto.
Dalam struktur awal gerakan, Jimly Asshiddiqie ditunjuk sebagai ketua pembina, Ferry Juliantono sebagai ketua pengarah, sedangkan Bachtiar Nasir dipercaya menjadi ketua pelaksana atau organizing committee (OC).
Terbuka bagi Seluruh Elemen Masyarakat
Bachtiar menegaskan, ARBI tidak hanya diperuntukkan bagi umat Islam, meskipun gerakan tersebut berawal dari pertemuan sejumlah tokoh dan organisasi kemasyarakatan Islam.
Menurutnya, seluruh elemen masyarakat, termasuk kelompok perempuan, memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam gerakan yang mengusung semangat menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.
“Kami tetap membuka semua jaringan terutama jaringan ibu-ibu demi menjaga keutuhan negara kita dan bangsa kita,” kata Bachtiar dalam konferensi pers, Sabtu (7/11/2026).
Ia juga berharap gerakan serupa dapat berkembang di berbagai daerah dengan membawa semangat menjaga keamanan, persatuan, serta tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Lima Tuntutan ARBI kepada Pemerintah
Dalam aksi akbar di Al-Azhar, ARBI akan menyampaikan lima tuntutan utama yang ditujukan kepada pemerintah dan seluruh elemen bangsa.
Pertama, mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu dalam membela Indonesia serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kedua, mengajak masyarakat bersatu melawan pihak-pihak yang oleh ARBI disebut sebagai pengkhianat bangsa dan negara.
Ketiga, menyerukan perlawanan terhadap oligarki dan negara-negara asing yang dinilai menjadi pelindung kepentingan oligarki.
Keempat, mendesak agar Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 dilaksanakan secara penuh dan konsisten, terutama terkait prinsip pengelolaan sumber daya ekonomi untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Kelima, menuntut penegakan hukum secara konsisten sesuai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA), termasuk persoalan hukum yang berkaitan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Tuntutan kelima tersebut menjadi salah satu isu yang disoroti ARBI dalam menyampaikan pandangannya mengenai kepastian hukum dan pelaksanaan putusan lembaga peradilan.
ARBI Janji Kawal Tuntutan
Bachtiar menegaskan, pihaknya akan terus mengawal kelima tuntutan tersebut agar memperoleh perhatian dan tindak lanjut dari pemerintah serta lembaga terkait.
Menurutnya, gerakan ARBI tidak berhenti pada pelaksanaan aksi massa, tetapi diharapkan menjadi wadah partisipasi masyarakat dalam menyuarakan persoalan kebangsaan.
“Rakyat yang diwakili oleh Aksi Rakyat Bela Indonesia akan mengawal sampai ini terlaksana,” tandasnya.
Melalui aksi tersebut, ARBI berharap semakin banyak elemen masyarakat terlibat dalam menyampaikan aspirasi mengenai persatuan nasional, pengelolaan ekonomi, pelaksanaan konstitusi, dan penegakan hukum melalui mekanisme yang berlaku.















Komentar