18 Migran Tewas Saat Berenang ke Spanyol, Krisis Ceuta Kembali Jadi Sorotan Dunia

JurnalPatroliNews | Madrid – Gelombang migrasi besar kembali mengguncang perbatasan Eropa setelah puluhan ribu migran menyeberang dari Maroko menuju wilayah Ceuta, enklave milik Spanyol di Afrika Utara. Lonjakan kedatangan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir memicu tekanan serius terhadap otoritas Spanyol sekaligus memunculkan kembali ketegangan soal kebijakan migrasi di kawasan Uni Eropa.

Berdasarkan informasi yang disampaikan aparat kepolisian Spanyol, sekitar 40 ribu migran berhasil memasuki Ceuta, wilayah yang hanya dihuni sekitar 80 ribu penduduk. Arus kedatangan berlangsung hampir tanpa henti, terutama sepanjang Kamis malam hingga Jumat (31/7/2026) dini hari.

Ratusan migran, termasuk perempuan dan anak-anak, dilaporkan nekat berenang mengitari pagar pembatas yang memisahkan wilayah Maroko dengan Ceuta. Sebagian menggunakan pelampung sederhana untuk membantu menyeberangi laut sebelum akhirnya mencapai daratan Spanyol.

Namun, upaya tersebut harus dibayar mahal. Sedikitnya 18 orang dilaporkan meninggal dunia dalam perjalanan menuju wilayah Spanyol akibat kondisi penyeberangan yang berbahaya.

Menghadapi situasi tersebut, Pemerintah Spanyol segera mengirim personel keamanan tambahan ke kawasan Ceuta guna mengendalikan situasi di lapangan. Perdana Menteri Pedro Sánchez bersama Menteri Dalam Negeri dijadwalkan meninjau langsung Pos Perbatasan Tarajal sebagai pusat penanganan krisis.

Gelombang migrasi ini juga memicu reaksi dari sejumlah negara Eropa. Pemerintah Prancis mengumumkan akan memperketat pemeriksaan di perbatasan dengan Spanyol guna mengantisipasi perpindahan migran ke wilayahnya.

Sementara itu, Italia mengusulkan agar Spanyol dikenai penangguhan dari kawasan bebas perbatasan Schengen. Usulan tersebut langsung ditolak Madrid yang menilai pernyataan Roma bernuansa politis dan tidak membantu penyelesaian persoalan kemanusiaan yang sedang berlangsung.

Meski demikian, hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai faktor utama yang memicu lonjakan migran dari Maroko menuju Ceuta.

Fenomena serupa pernah terjadi pada 2021 ketika lebih dari 10 ribu migran memasuki Ceuta dalam waktu dua hari di tengah memburuknya hubungan diplomatik antara Spanyol dan Maroko terkait isu Sahara Barat. Ketegangan tersebut kemudian mereda setelah Spanyol mengubah sikap politiknya dengan mendukung proposal Maroko mengenai wilayah sengketa tersebut.

Di tengah krisis yang masih berlangsung, Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan proses pemulangan migran terus dilakukan. Hingga Jumat sore waktu setempat, tercatat 48.300 orang telah kembali ke wilayah Maroko melalui jalur perbatasan resmi.

Ceuta dan Melilla selama ini menjadi dua pintu masuk utama menuju Uni Eropa dari Benua Afrika. Posisi geografis kedua wilayah tersebut menjadikannya salah satu titik paling sensitif dalam dinamika migrasi internasional, sekaligus tantangan besar bagi kebijakan pengelolaan perbatasan Eropa.

Komentar