Monumen Perjuangan Yuda Mandala Tama Jadi Tempat Mangkal ABG dan Waria

Tugu Perjuangan Laskar Rakyat Buleleng. [doc.pjn]

Jurnalpatrolinews, Buleleng — Didirikannya monumen berupa orang yang bertelanjang dada dengan tangan menunjuk kearah laut dengan pandangan yang berlawanan ini, adalah untuk mengenang perjuangan rakyat Buleleng saat melawan tentara NICA serta pertanda bahwa disanalah Sang Saka Merah Putih berkibar untuk pertama kalinya.

Tugu perjuangan laskar rakyat Buleleng yang berdiri tegak di eks Pelabuhan Buleleng ini dibangun tahun 1987 pada era kepemimpinan Bupati Nyoman Tastera, yang diberina nama monumen Yuda Mandala Tama.

Makna dari nama Yudha Mandala Tama ini adalah tempat perang yang utama, karena ditempat inilah perang yang utama terjadi. “Kemudian dibuatlah sebuah tugu berupa laskar rakyat yang menggunakan ‘kancut’ dan tidak menggunakan baju dengan tangan menunjuk kearah laut dengan pandangan yang menghadap kearah yang berlawanan, bermakna dia ingin memberitahukan kepada kawan-kawan lainnya yang berada di darat bahwa ada kapal Belanda yang akan melabuh.”

Kisah heroik perjuangan rakyat Buleleng saat menurunkan bendera Belanda, dengan mengganti bendera merah putih setelah bendera warna biru dirobek mengakibatkan gugurnya seorang pemuda pejuang, Ketut Merta dari Liligundi, Singaraja. Ia ditemukan terkapar berlumuran darah di dekat tiang bendera oleh Kapten Muka dan Anang Ramli, yang sebelumnya sudah terlatih sebagai tentara PETA (Pembela Tanah Air).

Patung orang bertelanjang dada yang hanya mengenakan kain kancut itu di-design oleh putra Baleagung, bertetangga dengan Liligundi, yakni Made Hardika yang mengambil sosok tubuh rekannya, yakni Metra.yang kini sudah almarhum.

Pengunjung yang ingin menikmati suasana indahnya pantai Pelabuhan tentu akan datang saat pagi hari atau sore hari. Lokasi ini menjadi suasana yang sangat risih untuk dikunjungi, pada malam hari.

Kenapa? Pemandangan di malam hari, jadi ajang lokasi mangkalnya ABG dan para waria. Dijadikannya tempat mangkal para waria, setelah tergusur dari taman klimpit (istilah para waria) di kawasan jalan Pramuka, sejak kawasan itu dijadikan Kawasan Tertib Hukum oleh Polres Buleleng.

“Kalau mau cari anak ABG atau Cabe-cabean yang begitulah, jam tuju sampai jam sembilan malam ramai. Kalau lewat dari tengah malam bencong aja isinya,” ungkap Komang Wirawan.

Ironis memang, saat Jurnalpatrolinews masih Kondisi Kesehatan Normal bertahan hingga pukul 23.00 Wita, di lokasi ini hampir setiap tempat terlihat pasangan anak muda bercumbu tanpa punya rasa malu.

Bahkan, saat menjelang tengah malam, para waria mulai berdatangan menggoda para lelaki yang masih ramai di lokasi ini. Tidak tanggung-tanggung kalangan ABG dan waria ini secara terbuka memasang tarif untuk kencan di balik semak-semak dan gedung tua bekas perkantoran pelabuhan.

“Untuk sekali jos (berhubungan seks), ABG disini tarifnya Rp300 ribu. Kalau warianya ada yang Rp50 ribu sampai Rp70 ribu,” papar Wirawan.

Sebagai tempat rekreasi warga kota, baik siang maupun malam hari, dituntut kepedulian Pemkab Buleleng melalui UPT Pengelola Obyek Daya Tarik Wisata eks Pelabuhan Buleleng untuk membuat ”Terang Cita-Cita” didirikannya Monumen Yuda Mandala Tama. Sebab, dengan suasana gelap di malam hari, khususnya di pelataran monumen dan sekitarnya, hingga sisi barat, tembok Pura Segara membuat peluang segala kemungkinan terjadi.

Salah satu peninggalan sejarah perjuangan lascar rakyat Buleleng saat melawan Belanda di Pelabuhan, adalah jembatan Putih melengkung yang hingga kini masih tetap kokoh dan tidak difungsikan.

Pos terkait