Ketum SMSI Bicara Jurnalistik Digital dan Masa Depan Media di Seminar Online Universitas Medan Area

  • Whatsapp
Ketua Umum SMSI Pusat Firdaus. (Humas SMSI)

JurnalPatroliNews – Jakarta,– Seminar online yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Medan Area Prodi Ilmu Komunikasi dengan tajuk “Semiloka Rekonstruksi Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka” menjadi hangat dengan tampilnya Ketua Umum SMSI Pusat Firdaus yang memberikan paparan tentang dasar-dasar jurnalistik di era digital.

Turut hadir sebagai narasumber yaitu Ketua SMSI Sumut Hermansyah, Wakil Penanggung Jawab Harian Waspada Drs. H. Sofyan Harahap, Manager Komunikasi PT PLN UIW Sumut Jimmi A.A, Ketua IJTI Sumut dan praktisi jurnalis televisi Syaiful Anwar Lubis, Dewan Redaksi Kaldera.id/Dosen UINSU Fakhrur Rozi, Manager Kadiv & Public Relation Regional 1 Aldi Wilman, ST, MIPR (Ketua BPC Perhumasan Meda) Saurma MGP Siahaan, Youtuber Chandi Mohammad, alumni Influencer Conten Creator dan penyanyi Tulangtio serta Dr. Dedy Sahputra yang bertindak sebagai moderator.

BACA JUGA :

Di awal bicara mengenai dasar jurnalistik di era digital saat ini, menurut Firdaus, ada beberapa masalah yang dialami media, di antaranya mencari model media, meningkatkan kepercayaan pembaca, membangun iklim bisnis, bersaing dengan media sosial yang banyak menarik minat pengguna internet untuk segementasi hiburan dan praktik media terus berubah akibat disrubsi digital.

Saat ini, lanjut Firdaus, media baru telah mengubah jurnalisme dalam empat cara. Pertama, sifat konten berita berubah akibat dari munculnya teknologi media baru yaitu konten interaktif, realtime. Kedua, cara wartawan melakukan pekerjaannya berbasiskan digital dan multimedia, multiplatform. Ketiga, struktur ruang redaksi dan industri berita sedang mengalami transformasi mendasar. Keempat, media baru membentuk kembali bagaimana hubungan antara unsur di dalam organisasi berita yaitu jurnalis dan audiens termasuk narasumber, pesaing, pengiklan dan pemerintah.

“Contoh, audien tidak hanya sebagai penerima berita tapi juga pemasok berita. (Jhon P Pavlik, 2001),” ujar Firdaus, Selasa (2/3).

Selain itu, di era digital telah muncul karakter baru media digital.

“Teori gate keeping yang menjelaskan berita diseleksi dan ditentukan tim redaksi sebelum berita ditayangkan tidak berlaku dalam media digital. Dan berubah menjadi gate keeping digital, online, virtual karena interaktivitas audien membuat audien berpartisipasi sebagai penjaga gerbang sekunder di internet. Media digital dan media sosial memungkinkan audien untuk berpartisipasi dalam dialog, berinteraksi langsung dengan bisnis, institusi, dan pembuat berita. (Shoemaker & Vos, 2009),” papar Firdaus.

Ditambahkan Firdaus, dalam menulis judul di media digital ditentukan oleh Google dengan sistem click bait yaitu istilah untuk judul berita yang dibuat untuk menggoda pembaca yaitu menggunakan bahasa yang provokatif dan menarik perhatian.

“Karena judul adalah elemen yang paling pertama dibaca netizen di hasil pencarian, maka dengan mengoptimasi judul jumlah klik bisa bertambah. Klik tidak melalui konten berkualitas, melalui tajuk utama halaman depan yang menarik, provokatif dan sensasional yang bertujuan mengeksploitasi keingintahuan pengguna,” jelasnya.

Diterangkan Firdaus, di era digital, jurnalis menggunakan media sosial sebagai alat pengumpul informasi, memeriksa berita media lain, mendapatkan berita terkini, mewawancarai narasumber, memvalidasi informasi dan menyebarkan pemberitaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Trending topic media sosial dapat memiliki pengaruh signifikan dalam memproduksi informasi yang mempengaruhi agenda publik. Media menggunakannya agar tidak tertinggal informasi yang sedang diperbincangkan para nitizen,” tuturnya.

Media menjadikan media sosial sebagai medium penyebarluasan berita. Karena media sosial dapat memperluas kemampuan berkomunikasi.

“Penyajian berita pada media sosial tersebut dilakukan dalam format foto, infografis, video pendek berdurasi satu sampai enam menit, videografis, dan live streaming,” urai Firdaus.

Masih dalam paparannya, owner Teras Grup itu juga menjelaskan berbagai bentuk berita, di antaranya hard news yang memiliki daya tarik tinggi bagi pembaca karena sifatnya informatif, aktual, dan realtime. Selanjutnya berita opini yang mengulas persoalan secara khusus dengan pendekatan akademik dan jurnalisme sastrawi.

“Berita-berita opini memiliki nilai tersendiri bagi para pembacanya. Berita opini untuk refrensi dalam beberapa kasus, seperti isu lingkungan, hukum, politik, ekonomi dan sosial,” kata Firdaus.

“Berita investigasi memiliki nilai lebih dalam memberikan kepuasan pembaca, sehingga berita ini akan sangat ekslusif dalam memberikan berita. Tingkat kerumitan dan proses panjang membuat berita ini akan mampu menarik pembaca dari berbagai segementasi pembaca,” imbuh Firdaus.

Sementara itu, bicara perihal masa depan jurnalistik, Firdaus menerangkan, menurut Burgess & Hurcombe (2019:365), jurnalisme digital adalah praktik-praktik pengumpulan berita, pelaporan, produksi teks dan komunikasi tambahan yang mencerminkan, merespons, dan membentuk logika sosial, budaya dan ekonomi dari lingkungan media digital yang terus berubah.

Jadi, jurnalistik digital tidak hanya memindahkan produk media konvensional ke media digital tapi juga harus membuat model bisnis.

Firdaus mencontohkan model bisnis The Long Tail yang dipopulerkan oleh Chris Anderson tahun 2004. Istilah ini mendeskripsikan strategi bisnis pada segmen pasar tertentu seperti yang dilakukan oleh Amazon.com atau Netflix, yang menjual sejumlah besar item unik di mana masing-masing memiliki kuantitas yang sedikit ke pangsa pasar yang besar.

Lalu model bisnis Siberindo.co, media digital yang motori Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) menjadi newsroom terbesar di Indonesia merupakan model bisnis media digital yang memproduksi konten, di mana konten bisa digunakan anggota SMSI se-Indonesia. Kolaborasi ini berpotensi secara ekonomi dengan tetap memegang teguh prinsip akuntabilitas penulisan informasi.

Di akhir paparan, Firdaus menyebut bahwa masa depan jurnalistik adalah bagaimana mengombinasikan jurnalisme lama dan baru yaitu fungsi pers sebagai penjaga pintu tak menghilang sepenuhnya melainkan hanya mengecil dimensinya tentang apa yang mesti disediakan pers.

“Pers harus menampilkan seperangkat fungsi yang lebih kompleks dari sekadar penjaga pintu dan mengadopsi format baru gaya bertutur, penyebaran dan pelibatan publik dalam berita. Pers masih menjadi mediator tetapi dengan peran mediasi yang lebih beragam dan kompleks dan menjalankannya di dunia komunikasi tanpa batas seperti sekarang akan lebih sulit. (Kovach dan Rosentiels, 2012:180),” pungkas Firdaus. (RED)

Pos terkait