JurnalPatroliNews – TOKYO — Saham Honda Motor Co., Ltd. melonjak lebih dari 7 persen pada perdagangan Jumat (15/5/2026), meski perusahaan baru saja membukukan kerugian operasional tahunan pertama dalam hampir 70 tahun.
Dalam laporan keuangan terbaru, Honda mencatat kerugian operasional sebesar 414,3 miliar yen atau sekitar Rp45,9 triliun untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026. Angka tersebut berbanding terbalik dengan laba operasional sebesar 1,2 triliun yen yang berhasil dibukukan pada tahun sebelumnya.
Penurunan kinerja ini dipicu oleh melemahnya bisnis kendaraan listrik (electric vehicle/EV), besarnya investasi pengembangan EV, persaingan ketat dari produsen otomotif China, serta dampak tarif Amerika Serikat yang mencapai 346,9 miliar yen.
Dalam pernyataan resminya, Honda mengakui kondisi bisnis saat ini berada dalam situasi penuh tantangan dan ketidakpastian.
“Lingkungan bisnis di sekitar perusahaan telah berubah dengan cepat, dan prospeknya tetap tidak pasti,” tulis Honda, dikutip dari CNBC International.
Sebagai bagian dari perubahan strategi, Honda memutuskan membatalkan sejumlah rencana peluncuran dan pengembangan kendaraan listrik di Amerika Utara. Restrukturisasi bisnis EV tersebut diperkirakan akan menelan biaya lebih dari 9 miliar dolar AS.
Perusahaan juga menyoroti semakin agresifnya produsen kendaraan listrik asal China yang membuat persaingan pasar semakin ketat. Dalam kondisi tersebut, Honda memilih merevisi sejumlah rencana peluncuran model EV agar lebih sesuai dengan kondisi pasar saat ini.
Di tengah tekanan industri otomotif global, Honda juga menghadapi tantangan dari cepatnya pertumbuhan produsen EV China. Peneliti dari German Council on Foreign Relations, Aya Adachi, menilai Jepang mulai tertinggal dalam transisi kendaraan listrik berbasis baterai.
“Meskipun memelopori teknologi hybrid, lambatnya transisi Jepang ke kendaraan listrik berbasis baterai membuat posisinya melemah di pasar kendaraan energi baru China,” ujar Adachi.
Selain tekanan persaingan pasar, Honda juga sempat diterpa persoalan reputasi akibat isu mesin dan penarikan kendaraan. Pada Maret lalu, mesin Honda yang digunakan oleh Aston Martin dilaporkan menyebabkan kegagalan baterai.
Sebelumnya pada Januari, Honda juga menghadapi gugatan di Kanada terkait dugaan cacat mesin turbo 1,5 liter pada sejumlah model kendaraan.
Meski demikian, analis dari Citigroup dan Nomura Holdings masih mempertahankan rekomendasi beli terhadap saham Honda, menunjukkan optimisme pasar terhadap prospek jangka panjang perusahaan tersebut.














