“Begini, kita melakukan ini dengan konsep kemandirian dari hulu ke hilir. Seperti tadi sudah dilihat, kita mengolah menjadi bahan snack. Banyak komponen yang membutuhkan bahan baku dari sorgum, mereka sudah menghubungi kita.
Dan kita sampaikan ke petani bahwa untuk menjual hasil sorgum tidak usah khawatir. Kita siap memfasilitasi dan kita siap membeli berapapun hasilnya, permintaan sangat banyak. Di sampaing itu kita tidak saja menjual tapi bagaimana kita berupaya untuk mengelola dan mengolahnya supaya menjadi bahan jadi yang siap saji.
Seperti awalnya hanya berupa gabah kita rubah menjadi beras yang dinilainya meningkat, beras kita rubah menjadi tepun yang nilainya meningkat. Tepun ini pun kita masuk ke KWT-KWT untuk ajak mengolah sorgum ini menjadi bahan-bahan makanan yang siap disajikan,” ungkap Dokter Caput yang juga Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Buleleng itu.
BMI Buleleng juga sudah memiliki tim yang akan mendampingi dari hulu ke hilir dengan beragam antisipasi permasalahan. “BMI sudah memiliki tim yang siap untuk mendampingi petani dari hulu ke hilir. Memang dari awal kita sudah membentuk tim ini sehingga apa yang menjadi kendalai sudah kita antisipasi dari awal,” tegasnya lagi.
“Sudah ada kerja sama dengan perusahaan dari luar Bali dan sempat meninjau langsung ke lahan pilot project milik BMI Buleleng,” ujarnya seraya menambahkan, “Juga sudah ada permintaan, namun permintaan melebihi dari hasil panen, tentu menjadi prospek yang bagus,” lanjutnya.
“Namun kita juga mengolahnya menjadi bahan siap saji, seperti dari gabah menjadi beras, jadi tepung,” tambah ketua organisasi sayap PDI Perjuangan Buleleng itu.
Namun, Dokter Caput mengatakan bahwa BMI Buleleng tak dapat berdiri sendiri tetapi perlu juga sinergi dengan pemerintah. Dan menurutnya, apabila semua pihak dapat fokus dalam mengembangkan sorgum maka akan meningkatkan kesejahteraan petani.
“Yang jelas BMI tidak bisa berdiri sendiri, tetap memerlukan kerja sama khususnya dari Pemerintah. Dari pemerintah inilah kita harapkan bisa bersinergi, bisa bekerjasama sesuai program yang tadi disampaikan dari Dinas Pertanian, dan nampaknya ini smabung sekali,” ucap Dokter Caput.
Terkiat hasil panen hari ini, ia menyebutkan, “Hasil panen, perkirakan perha 5 sampai 6 ton, minimal sekitar 6 ton per-ha, sehingga kita saat ini bisa dihitung 6 x 12 ha. Sudah ada permintaan, justru permintaan melebihi dari kita panen. Jadi ini memiliki prospek yang bagus sekali.”
Dokter Caput pun denan santai menepis isu pencitraan yang dialamatkan kepada dirinya terkait pembubidayaan sorgum oleh BMI secara massal di Buleleng. “Kalau saya tidak pernah mengatakan ada yang pencitraan, tetapi kita nilai kegiatan-kegiatan itu tidak berkelanjutan? Salah satunya mungkin faktornya adalah itu (pencitraan, red).








