JurnalPatroliNews – JAKARTA – Ketidakhadiran Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, dalam upacara penghormatan tiga prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon menuai beragam tafsir di tengah masyarakat.
Namun, Direktur Garuda Institute, Irvan Mahmud, menilai absennya Gibran dalam momentum kenegaraan tersebut tidak perlu dipersoalkan, terlebih upacara tersebut telah dihadiri langsung oleh Presiden RI, Prabowo Subianto.
“Secara politik, ketidakhadiran Gibran bukan cerminan perbedaan sikap atau arah kebijakan,” ujar Irvan kepada RMOL di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Ia menjelaskan, dalam praktik pemerintahan, pembagian tugas antarpejabat negara menjadi hal yang lazim dan kerap memengaruhi kehadiran dalam suatu agenda resmi. Oleh karena itu, ketidakhadiran wakil presiden dinilai sebagai bagian dari dinamika kerja pemerintahan yang proporsional.
Menurut Irvan, publik tidak perlu memberikan tafsir berlebihan, apalagi yang bernada negatif dan tidak memberikan kontribusi terhadap kebijakan pemerintahan.
“Dalam praktik pemerintahan, pembagian tugas sering kali menjadi faktor utama yang mempengaruhi kehadiran pejabat dalam suatu acara,” katanya.
Lebih lanjut, ia meyakini bahwa secara substansi, komitmen Indonesia dalam menjalankan kebijakan luar negeri, termasuk partisipasi dalam misi perdamaian dunia seperti United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), tetap berjalan konsisten.
Irvan juga menilai pemerintah perlu terus memperkuat dukungan terhadap pasukan penjaga perdamaian, baik dari sisi diplomasi, perlengkapan, maupun mitigasi risiko di wilayah konflik.
“Negara harus meningkatkan dukungan, baik dari sisi diplomasi, perlengkapan, maupun mitigasi risiko bagi pasukan penjaga perdamaian,” ujarnya.














