JurrnalPatroliNews – Jakarta – Universitas Paramadina kini resmi memiliki kampus permanen setelah puluhan tahun berpindah lokasi. Peresmian kampus yang terletak di kawasan Cipayung, Jakarta Timur ini ditandai dengan pesan dari Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Paramadina. Ia menegaskan bahwa sejak awal, Nurcholish Madjid (Cak Nur) telah menanamkan nilai intelektualisme terbuka dan moderat yang harus terus dijaga Paramadina.
Acara peresmian dihadiri tokoh penting, antara lain Pembina Yayasan Wakaf Paramadina (YWP) Ahmad Ganis dan Abdul Latief, jajaran pengurus YWP Hendro Martowardojo, Silmy Kariem, serta Wijayanto Samirin. Hadir pula mantan Rektor Paramadina Anies Baswedan, Rektor aktif Prof. Didik J. Rachbini, hingga keluarga besar pendiri dan mantan rektor, termasuk Omi Komariah Madjid dan Ratna Indraswari (Nana).
Kampus baru berdiri di atas lahan seluas 22.000 m² dengan konsep Green Campus bergaya tropis-minimalis. Kompleks ini mencakup tiga gedung utama: Gedung Nurcholish Madjid (8 lantai), Gedung TP. Rachmat (3 lantai), serta Gedung H.M. Jusuf Kalla (3 lantai), dengan kapasitas tampung hingga 10.000 mahasiswa.
Dalam sambutannya secara daring, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto mengapresiasi pencapaian Paramadina. Ia menyebut, kampus ini diharapkan menjadi pusat lahirnya pemikiran kritis, inovasi, dan karya nyata bagi bangsa.
Peresmian kampus juga dihadiri para dermawan yang mendukung pembangunan, seperti Victor Hartono (Djarum Group), Prijono Sugiarto (Astra Group), Aminuddin mewakili TP. Rachmat (Triputra Group), Patrick Walujo (GO-TO), dan Saleh Husin (Sinar Mas Group), serta mitra internasional seperti KAS-Jerman.
Omi Komariah Madjid mengenang kembali perjalanan Paramadina yang dimulai dari percakapan Cak Nur dengan sahabatnya, Utomo Danandjaya, tentang pentingnya niat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan Islam modern dan terbuka.
Rektor Paramadina Prof. Didik J. Rachbini menyebut momen ini sebagai hasil perjuangan panjang dan bentuk silaturahmi dengan para donatur. Hal senada disampaikan Hendro Martowardojo yang menegaskan bahwa Paramadina berdiri atas tiga prinsip utama warisan Cak Nur: keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan.
Tokoh Paramadina Anies Baswedan menilai, regenerasi kepemimpinan sudah berjalan. Menurutnya, generasi penerus akan melanjutkan gagasan besar Cak Nur melalui pendidikan yang melahirkan pemimpin berintegritas, berjiwa wirausaha, dan beretika.
Para donatur juga menyampaikan harapan besar. Victor Hartono menekankan komitmen keluarga besar Djarum dalam mendukung pendidikan, sementara Prijono Sugiarto menyebut dukungan Astra bagi Paramadina adalah bentuk kontribusi nyata dalam empat bidang: pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan UMKM.
Dukungan juga datang dari TP. Rachmat yang melalui suratnya menyampaikan rasa bangga atas perkembangan Paramadina sebagai institusi yang mengabdi bagi kemajuan bangsa.
Sebagai penghormatan, aula utama kampus diberi nama Aula Firmanzah, mengenang jasa almarhum rektor Paramadina yang wafat muda namun penuh dedikasi. Selain itu, perpustakaan kampus dinamai Perpustakaan Utomo Danandjaya, untuk mengenang sahabat Cak Nur yang ikut berjuang sejak awal pendirian universitas.
Dengan peresmian kampus baru ini, Universitas Paramadina meneguhkan komitmennya menjadi rumah intelektual yang menjunjung tinggi nilai integritas, anti-korupsi, serta cita-cita luhur membangun generasi muda Indonesia yang modern, terbuka, dan berdaya saing global.








