Pemuda Muhammadiyah: Stop Polarisasi, Kedepankan Kemanusiaan dalam Penanganan Bencana Sumatera

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah mengecam keras peredaran potongan video yang menyerang Menteri Koordinator sekaligus Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, di tengah upaya penanganan bencana di Sumatera.

Organisasi tersebut menilai serangan bermuatan politik di saat bangsa berduka sebagai tindakan tak bermoral dan berpotensi memperkeruh suasana.

Kontroversi ini bermula dari penyebaran ulang video dokumenter internasional Years of Living Dangerously, yang merekam pertemuan aktor Hollywood Harrison Ford dengan Zulkifli Hasan ketika ia masih menjabat Menteri Kehutanan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Video itu dipotong tanpa konteks dan dipasangi narasi seolah-olah Zulhas menjadi penyebab bencana di Sumatera akibat konsesi sawit di Tesso Nilo, Riau.

Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Bagus Ardeni, menegaskan bahwa framing tersebut menyesatkan publik.

“Videonya dipelintir. Orang dikasih potongan setengah menit dari dokumenter panjang lalu disuruh menyimpulkan sendiri. Konteksnya diputarbalikkan. Waktu itu Pak Zulhas justru bersikap tegas — dan ceritanya jauh berbeda dari narasi hoaks yang beredar,” jelas Bagus, Rabu, 3 November 2025.

Tidak berhenti di situ, video kehadiran Zulkifli Hasan di lokasi bencana pun ikut diserang dengan tudingan bermotif politik. Padahal, menurut Bagus, kedatangan Zulhas ke titik terdampak bencana dilakukan sebagai pejabat negara yang memikul tanggung jawab memastikan bantuan dan negara hadir bagi masyarakat.

Bagus menilai respons Zulhas bukan sekadar formalitas. Kehadirannya dianggap sebagai bentuk kepedulian langsung terhadap warga terdampak.

“Pemimpin itu bukan hanya datang untuk bicara dari podium. Pak Zulhas turun mendengar keluhan warga, mencari apa yang mendesak, lalu memastikan ada tindakan nyata. Itu bukan panggung politik, itu empati,” tegasnya.

Menurut Pemuda Muhammadiyah, Zulkifli Hasan memahami bahwa setiap lokasi bencana menyimpan cerita dan penderitaan manusia — rumah yang hilang, harapan yang terguncang, dan masa depan yang harus dibangun kembali. Karena itu, kehadiran pejabat di lapangan tidak boleh dipersempit menjadi sekadar isu politik.

Bagus mengatakan bahwa serangan fitnah di tengah suasana duka bangsa justru menambah luka sosial.

“Jika kesedihan masyarakat dijadikan alat untuk menjatuhkan lawan politik, maka yang dilakukan bukan kritik, tapi pengkhianatan terhadap rasa kemanusiaan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling nyaring menuduh, melainkan siapa yang tulus hadir dan bekerja untuk rakyat. Karena itu, Pemuda Muhammadiyah meminta semua pihak menahan diri dan tidak menjadikan tragedi sebagai arena polarisasi.

“Yang nanti dikenang bukan siapa yang paling ribut, tapi siapa yang benar-benar menolong. Hentikan kegaduhan. Saat ini yang dibutuhkan Sumatera adalah solidaritas, bukan fitnah,” tutup Bagus.