JurnalPatroliNews – Jakarta – Konflik udara besar terjadi antara India dan Pakistan pada 7 Mei dini hari, menyusul serangan udara yang diluncurkan India ke wilayah Pakistan. Serangan ini disebut sebagai tanggapan atas tuduhan bahwa Islamabad mendukung kelompok militan yang sebelumnya melakukan aksi teror di Kashmir India hingga menewaskan 26 warga sipil.
Dalam pertempuran tersebut, sekitar 110 jet tempur dikerahkan dari kedua pihak. Pertempuran ini dipandang sebagai salah satu bentrokan udara paling besar dan modern dalam beberapa dekade terakhir. Pensiunan pejabat tinggi Angkatan Udara Inggris, Marsekal Greg Bagwell, menyebut bentrokan ini sebagai momen penting dalam sejarah peperangan udara modern. Ia menyoroti bahwa seluruh pesawat tetap beroperasi dalam wilayah udara masing-masing, tanpa pelanggaran batas nasional.
Konflik memuncak ketika Kepala Angkatan Udara Pakistan, Marsekal Zaheer Sidhu, memerintahkan armada jet tempur J-10C buatan Tiongkok untuk menyerang jet Rafale milik India. Rafale, yang dikenal sebagai jet tempur andalan Prancis, selama ini belum pernah ditembak jatuh dalam pertempuran nyata.
Laporan Reuters menyebutkan bahwa setidaknya satu Rafale berhasil dijatuhkan oleh rudal PL-15 milik jet J-10C, yang diluncurkan dari jarak sekitar 200 kilometer menjadikannya salah satu tembakan udara-ke-udara terjauh yang pernah tercatat. Meski pihak India belum secara resmi mengakui kehilangan jet Rafale tersebut, otoritas militer Prancis telah menyebut adanya bukti visual dari jatuhnya pesawat tersebut, termasuk dua unit lain milik India, salah satunya pesawat tempur Sukhoi buatan Rusia.
Pakar militer menilai insiden ini bukanlah bukti kelemahan Rafale, melainkan kegagalan intelijen India dalam mengantisipasi kemampuan jangkauan rudal canggih buatan Tiongkok. Keunggulan Pakistan dalam pertempuran ini juga diperkuat oleh keberhasilan mereka membangun sistem komando dan pengawasan tempur terintegrasi, yang dikenal dengan istilah “kill chain”.
Salah satu teknologi utama dalam sistem tersebut adalah Data Link 17, sistem jaringan komunikasi militer buatan Pakistan yang menghubungkan jet tempur J-10 dengan pesawat pengintai buatan Swedia dan sensor dari berbagai elemen militer. Kombinasi ini memungkinkan jet Pakistan terbang mendekat ke wilayah India dengan radar dimatikan, memanfaatkan umpan data dari pesawat pengintai jarak jauh—membuat mereka sulit dideteksi.
Sebagai tanggapan atas kerugian ini, India memperkuat serangan balasan. Pada 10 Mei, pemerintah India mengklaim telah menghantam sembilan lokasi strategis Pakistan, termasuk pangkalan udara, radar, dan fasilitas militer lainnya. Mereka juga berhasil menghancurkan pesawat pengintai Pakistan yang berada di dalam hanggar di wilayah selatan negara itu, menggunakan rudal jelajah supersonik BrahMos buatan dalam negeri.
Konflik udara ini membuka babak baru dalam perlombaan teknologi militer di Asia Selatan, sekaligus memunculkan pertanyaan besar mengenai kesiapan dan adaptasi kekuatan tempur Barat dalam menghadapi teknologi militer alternatif dari Tiongkok.










