JurnalPatroliNews – Jakarta Rentetan aksi kekerasan bersenjata dalam skala masif dilaporkan kembali mengguncang daratan Amerika Selatan dengan menelan puluhan korban jiwa mengenaskan.
Sedikitnya empat puluh delapan orang dilaporkan tewas seketika dalam sebuah bentrokan berdarah yang melibatkan dua faksi pembangkang dari gerakan gerilya Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia yang sejatinya telah dibubarkan.
Insiden kontak tembak yang melibatkan eks kombatan FARC tersebut meletus di pedalaman hutan Amazon wilayah Kolombia pada hari Kamis waktu setempat.
Eskalasi pertempuran antarkelompok pemberontak ini mencuat ke permukaan hanya berselang beberapa hari menjelang perhelatan pesta demokrasi pemilihan presiden yang dijadwalkan bergulir pada tanggal tiga puluh satu Mei mendatang.
Wali Kota San Jose del Guaviare, Willy Rodriguez, memberikan konfirmasi resmi kepada awak media mengenai kondisi ngeri di ladang pembantaian tersebut.
Rodriguez memaparkan bahwa puluhan jenazah korban dilaporkan masih tergeletak menumpuk di area terbuka dan membutuhkan tindakan evakuasi medis darurat secepatnya.
Gelombang turbulensi kekerasan harian terus merongrong wilayah Kolombia pasca-keputusan bersejarah FARC untuk meletakkan senjata dan berdamai dengan pemerintah pada tahun dua ribu enam belas silam.
Langkah perdamaian tersebut sekaligus menyudahi draf konflik bersenjata horizontal yang sempat berkecamuk selama setengah abad di negara tersebut.
Namun pasca-pembubaran, faksi-faksi gerilya pecahan dalam skala yang lebih kecil justru saling angkat senjata guna berebut kendali atas wilayah geografis yang sebelumnya dikuasai tentara induk.
Mereka juga terpantau saling bantai demi memperebutkan jalur pundi-pundi pasokan uang dari sektor bisnis hitam perdagangan narkoba internasional serta aktivitas penambangan emas ilegal.
Laporan Intelijen Militer Hingga Mobilisasi Pasukan Keamanan Skala Penuh
Pihak otoritas setempat mengonfirmasi bahwa bentrokan maut antarfaksi bersenjata ini pecah di perimeter dusun terpencil Vereda Piripal.
Akumulasi jumlah korban tewas tersebut berhasil diidentifikasi berkat adanya pasokan draf informasi dan laporan cepat dari komunitas masyarakat lokal.
Sumber internal dari jajaran militer Kolombia membisikkan informasi bahwa eskalasi kontak tembak sejatinya sudah berlangsung lama sejak hari Senin kemarin.
Hingga laporan berkala ini diturunkan oleh redaksi, belum dapat dipastikan secara detail apakah draf pertempuran di dalam hutan tersebut masih berkecamuk atau sudah mereda.
Kondisi geografis yang ekstrem dan berbahaya juga membuat tim penyelamat kemanusiaan dilaporkan belum berhasil menginjakkan kaki di draf lokasi kejadian.
Merespons ancaman instabilitas keamanan menjelang pemilu, Menteri Pertahanan Kolombia, Pedro Sanchez, langsung mengambil langkah taktis defensif.
Sanchez menegaskan bahwa sedikitnya empat ratus delapan ribu anggota pasukan keamanan gabungan telah disiagakan secara penuh di berbagai objek vital.
Mobilisasi draf kekuatan militer tersebut turut disokong oleh armada pesawat tempur, kapal perang, drone pengintai, sistem persenjataan anti-drone, hingga barisan kendaraan lapis baja.
Langkah pengamanan super ketat ini sengaja ditempuh demi menjamin seluruh proses pemungutan suara nasional dapat berlangsung dalam draf suasana yang damai dan kondusif.









Komentar