JurnalPatroliNews | Internasional — Perjalanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump meninggalkan Turki usai menghadiri KTT NATO ternyata menyimpan operasi pengamanan yang dirahasiakan dari publik.
Trump dilaporkan tidak benar-benar meninggalkan Ankara menggunakan pesawat Air Force One yang terlihat di hadapan wartawan. Di tengah kekhawatiran terhadap ancaman keamanan yang dikaitkan dengan Iran, Trump justru diam-diam dipindahkan ke pesawat militer C-32A.
Laporan The Washington Post pada Senin (10/8/2026) mengungkap, operasi tersebut dirancang untuk menyamarkan keberadaan Trump dan mengurangi risiko terhadap keselamatannya. Air Force One yang sebelumnya dinaiki Trump kemudian berfungsi sebagai pesawat pengalih.
Informasi serupa juga dilaporkan media Amerika Serikat lainnya dengan mengutip pejabat yang mengetahui operasi tersebut.
Rangkaian operasi dimulai setelah Trump secara terbuka menaiki pesawat kepresidenan lama di Ankara. Dari luar, tidak ada tanda bahwa rencana perjalanan tersebut berubah.
Namun, Trump kemudian diam-diam keluar dari pesawat melalui jalur yang tidak diketahui rombongan wartawan. Ia dipindahkan menggunakan kendaraan pengangkut katering menuju lokasi pesawat C-32A.
Pesawat militer yang lebih kecil itu kemudian membawa Trump meninggalkan Turki menuju Inggris.
Sementara itu, para wartawan yang meyakini Trump masih berada di Air Force One tetap berada di pesawat tersebut. Pesawat itu kemudian terbang sebagai bagian dari skenario pengelabuan.
Situasi tersebut membuat sebagian awak media bahkan tidak mengetahui bahwa Trump sudah berada di pesawat berbeda.
Operasi pengamanan tersebut semakin mencolok ketika rombongan wartawan yang berada di Air Force One diminta menutup tirai jendela kabin pers selama penerbangan.
Permintaan tersebut dilakukan ketika pesawat menjalankan penerbangan dari Turki menuju Inggris.
Trump sendiri sempat melontarkan komentar kepada wartawan terkait kondisi penerbangan tersebut.
“Tapi kalau saya pergi, kalian ikut, kan?” ujar Trump kepada wartawan.
Setelah tiba di RAF Mildenhall, Inggris, Trump kemudian kembali terlihat turun dari pesawat Air Force One lama di hadapan wartawan dan kamera.
Laporan tersebut membuat perjalanan Trump terlihat seolah-olah berlangsung normal, meski dalam kenyataannya ia sempat menggunakan C-32A untuk menghindari potensi ancaman.
Operasi pengelabuan itu dilakukan setelah muncul informasi mengenai ancaman terhadap keselamatan Trump yang dinilai serius.
Menurut laporan The Washington Post, ancaman tersebut berkaitan dengan Iran. Gedung Putih tidak secara terbuka mengonfirmasi seluruh detail operasi pemindahan pesawat tersebut.
Namun, juru bicara Gedung Putih Steven Cheung menegaskan bahwa pemerintah AS menggunakan berbagai cara untuk menghadapi ancaman terhadap presiden.
“Ada banyak musuh Amerika yang mengincarnya,” kata Cheung, seperti dikutip dalam laporan tersebut.
Pernyataan itu memperkuat dugaan bahwa aspek keamanan menjadi pertimbangan utama dalam perubahan rute dan moda penerbangan Trump.
Penggunaan Air Force One sebagai pesawat pengalih menjadi bagian paling tidak biasa dalam operasi tersebut.
Pesawat yang selama ini identik sebagai simbol perjalanan resmi Presiden AS justru digunakan untuk menciptakan persepsi bahwa Trump berada di dalamnya.
Dengan cara tersebut, pihak yang berpotensi mengancam keselamatan presiden akan lebih sulit memastikan posisi sebenarnya.
Operasi semacam ini bukan sepenuhnya tanpa preseden dalam sejarah perjalanan presiden Amerika Serikat. Strategi penggunaan pesawat pengalih pernah dilakukan dalam perjalanan presiden AS sebelumnya ketika aspek keamanan menjadi perhatian utama.
Namun, operasi di Turki kali ini menjadi sorotan karena berlangsung setelah Trump menghadiri pertemuan tingkat tinggi NATO di Ankara dan ketika ketegangan dengan Iran masih menjadi salah satu faktor keamanan utama.
Perjalanan Trump juga melibatkan pesawat kepresidenan baru yang diberikan Qatar kepada Amerika Serikat.
Sebelumnya, Trump diketahui menggunakan pesawat tersebut dalam perjalanan ke Turki. Namun, dalam perjalanan keluar dari Ankara, ia justru tidak menggunakan pesawat tersebut secara langsung.
Rangkaian perpindahan pesawat membuat perjalanan Trump semakin sulit dilacak secara terbuka.
Setelah tiba di Inggris, Trump kembali terlihat di hadapan wartawan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Amerika Serikat.
Operasi tersebut menunjukkan bahwa protokol perjalanan seorang presiden AS dapat berubah secara drastis ketika aparat keamanan menilai terdapat ancaman yang kredibel.
Bagi Gedung Putih, keselamatan presiden menjadi prioritas, sementara bagi publik dan media, operasi rahasia tersebut kembali membuka pertanyaan mengenai sejauh mana informasi perjalanan presiden dapat dirahasiakan ketika menyangkut ancaman keamanan nasional.












Komentar