Bos Saudi Aramco Batal Hadiri Forum Energi Dunia, Pilih Pantau Dampak Perang


JurnalPatroliNews – RIYADH — Chief Executive Officer (CEO) Saudi Aramco, Amin H. Nasser, membatalkan kehadirannya dalam konferensi energi internasional CERAWeek di Houston, Amerika Serikat. Ia memilih tetap berada di Arab Saudi untuk memantau langsung perkembangan konflik yang melibatkan Iran.

Mengutip CNBC, Senin (23/3/2026), CERAWeek yang diselenggarakan oleh S&P Global merupakan salah satu forum energi paling bergengsi di dunia, yang rutin mempertemukan para pemimpin industri, pejabat pemerintah, dan pembuat kebijakan global. Nasser biasanya menjadi salah satu tokoh kunci dalam forum tersebut.

Namun kali ini, Nasser tidak hanya absen secara langsung, tetapi juga tidak mengirimkan pesan video. Keputusan tersebut mencerminkan tingginya tekanan yang dihadapi Aramco di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat.

Perang yang telah memasuki pekan keempat dilaporkan menewaskan lebih dari 2.000 orang dan mengguncang pasar energi global. Serangan balasan Iran turut mengganggu aktivitas di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk, termasuk milik Aramco, juga menjadi sasaran.

Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang fasilitas energi Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka. Ancaman tersebut memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.

Dalam pernyataan sebelumnya, Nasser telah mengingatkan potensi dampak serius dari situasi ini. Ia menyebut gangguan berkelanjutan di Selat Hormuz dapat memicu konsekuensi besar bagi pasar minyak dunia.

Sebagai langkah antisipasi, Aramco mengalihkan distribusi minyak melalui jaringan pipa dari pantai timur ke barat serta memangkas produksi sekitar 2 juta barel per hari. Namun, jalur alternatif ini juga menghadapi risiko setelah serangan drone dan rudal menyasar fasilitas energi di kawasan Laut Merah.

Serangan dilaporkan tidak hanya terjadi di Arab Saudi, tetapi juga meluas ke negara Teluk lainnya seperti Kuwait dan Qatar. Bahkan, sebagian kapasitas produksi LNG Qatar disebut harus dihentikan akibat dampak serangan tersebut.

Absennya sejumlah petinggi energi dari kawasan Teluk dalam forum CERAWeek semakin menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah telah memasuki fase kritis dan berpotensi mengguncang stabilitas energi global.