Gandeng Oman Terapkan Tarif Selat Hormuz, Rencana Strategis Iran Ditentang Keras Donald Trump

JurnalPatroliNews – Teheran – Pemerintah Iran secara resmi menyatakan bahwa kawasan strategis Selat Hormuz akan tetap dibuka untuk aktivitas pelayaran internasional.

Kendati demikian, otoritas Teheran bakal memberlakukan regulasi baru yang mencakup pengenaan biaya transit bagi setiap kapal yang melintas di jalur tersebut.

Pernyataan sensitif tersebut disampaikan langsung oleh Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, di tengah guncangan geopolitik yang melanda kawasan Timur Tengah.

Langkah pengenaan tarif ini mencuat di kala arus pasokan minyak dan gas bumi dunia mengalami gangguan hebat akibat eskalasi perang antara Iran dengan poros Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Jalali menegaskan bahwa jalur selat tersebut dipastikan tetap terbuka, namun harus memenuhi syarat-syarat baru yang akan ditentukan bersama oleh otoritas Iran dan Oman.

Penjelasan tersebut dipaparkan Jalali dalam sebuah sesi wawancara khusus dengan surat kabar Rusia, Izvestia, yang kemudian dikutip oleh Reuters pada Senin (8/6/2026).

Lebih lanjut, Jalali menggarisbawahi bahwa pihak Iran dan Oman selama ini secara aktif menyediakan berbagai layanan kedaruratan dan navigasi yang berkaitan dengan jalur pelayaran tersebut.

Oleh karena itu, pengenaan tarif baru dipandang sebagai langkah rasional untuk mendanai fasilitas operasional di sepanjang selat.

Berdasarkan laporan Reuters, Iran sebelumnya telah menegaskan bahwa kesepakatan damai permanen di masa depan harus memberi hak bagi Teheran untuk memungut biaya dari kapal yang lewat.

Mengenai besaran nominal, tarif transit tersebut nantinya akan dibuat berbeda-beda tergantung pada jenis kapal, kapasitas muatan, hingga kondisi yang berlaku saat pelayaran berlangsung.

Penolakan Keras dari Poros Washington

Gagasan pengenaan biaya transit di jalur maritim internasional tersebut langsung memantik respons negatif dan penolakan keras dari Presiden AS, Donald Trump.

Pada akhir Mei lalu, pihak otoritas Washington secara terbuka bahkan telah mengeluarkan peringatan tegas kepada Oman agar tidak terlibat dalam rencana pungutan bersama tersebut.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengklaim bahwa Duta Besar Oman untuk AS sudah menyampaikan komitmen bahwa negaranya tidak memiliki rencana untuk memberlakukan tarif tersebut.

Sebagai informasi, Selat Hormuz memegang peranan krusial sebagai salah satu urat nadi logistik energi paling penting dan paling diawasi di dunia.

Jalur laut sempit yang memisahkan Teluk Oman dan Teluk Persia ini tercatat rutin dilalui oleh sekitar 20 persen dari total keseluruhan pasokan minyak global.

Meskipun sejumlah kapal tanker pengangkut dilaporkan mulai kembali berlayar dalam beberapa pekan terakhir, kondisi arus pengiriman energi global belum pulih sepenuhnya.

Data pantauan Reuters menunjukkan bahwa volume riil pengiriman komoditas minyak mentah serta Gas Alam Cair (LNG) melalui Selat Hormuz saat ini masih berada jauh di bawah kondisi normal.

Komentar