Gawat! PM Inggris Sempat Chat dengan Penipu yang Mengaku Ajudan Trump

JurnalPatroliNews | London — PM Inggris Andy Burnham menjadi sasaran aksi penipuan digital setelah bertukar pesan dengan seseorang yang mengaku sebagai Susie Wiles, Kepala Staf Gedung Putih di bawah Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Laporan tersebut pertama kali diungkap Politico dan kemudian dikonfirmasi oleh sejumlah media internasional. Burnham diketahui sempat berkomunikasi melalui pesan dengan orang yang diyakininya sebagai Wiles sebelum akhirnya menyadari adanya kejanggalan dan menghentikan komunikasi.

Insiden tersebut cukup serius hingga Kedutaan Besar Inggris di Washington menyampaikan persoalan itu kepada pihak Gedung Putih. Hingga kini, waktu pasti pertukaran pesan dan rincian percakapan tidak dipublikasikan karena menyangkut aspek keamanan.

Downing Street memilih tidak mengungkap detail komunikasi maupun langkah pengamanan yang akan dilakukan pemerintah Inggris. Laporan yang tersedia menyebut tidak ada informasi sensitif yang dibagikan dalam pertukaran pesan tersebut.

Burnham resmi menjadi Perdana Menteri Inggris pada 20 Juli 2026, setelah menggantikan Keir Starmer. Pemerintah Inggris mengonfirmasi Burnham sebagai pemegang jabatan perdana menteri saat ini.

Tak lama setelah menjabat, Burnham juga telah berkomunikasi dengan Trump melalui telepon. Hubungan antara London dan Washington membuat insiden penyamaran tersebut mendapat perhatian lebih besar karena menyangkut komunikasi tingkat tinggi kedua negara.

Kasus ini menunjukkan bahwa pejabat tinggi pemerintahan tetap menjadi sasaran modus impersonation, yakni pelaku menyamar sebagai tokoh penting untuk mendapatkan akses komunikasi atau informasi.

Burnham bukan satu-satunya pejabat Inggris yang menjadi sasaran modus serupa.

Pada 2024, pemerintah Inggris pernah merilis rekaman percakapan yang memperlihatkan Menteri Luar Negeri saat itu, David Cameron, berkomunikasi dengan seseorang yang mengaku sebagai mantan Presiden Ukraina Petro Poroshenko.

Pemerintah Inggris ketika itu menyatakan rekaman tersebut dirilis untuk mencegah pelaku menggunakan percakapan hasil manipulasi untuk tujuan tertentu.

Kasus penyamaran terhadap Susie Wiles juga bukan fenomena baru. Sebelumnya, aparat Amerika Serikat telah menangani upaya penyamaran terhadap Wiles yang menyasar sejumlah tokoh politik dan kalangan bisnis.

Dalam kasus terbaru yang melibatkan Burnham, Gedung Putih disebut memastikan perangkat milik Wiles tidak diretas. Artinya, insiden tersebut lebih mengarah pada aksi penyamaran identitas daripada pembobolan perangkat pejabat Gedung Putih.

Insiden ini kembali menyoroti tantangan keamanan komunikasi digital bagi pejabat pemerintahan, khususnya ketika komunikasi berlangsung melalui saluran yang tidak mudah diverifikasi.

Komentar