JurnalPatroliNews – JAKARTA — Harga minyak dunia kembali mengalami tekanan dan kini telah terkoreksi sekitar 20 persen dari level tertingginya sepanjang 2026. Penurunan tersebut dipicu meningkatnya optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan gencatan senjata jangka panjang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026) waktu AS, harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan global turun 1,2 persen menjadi US$92,56 per barel.
Sepanjang Mei 2026, harga Brent tercatat merosot hampir 19 persen, menjadikan bulan ini sebagai periode terburuk bagi pasar minyak sejak masa pandemi Covid-19. Dibandingkan dengan puncak harga yang sempat dicapai pada tahun ini, Brent kini telah kehilangan sekitar seperlima nilainya.
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah beredar laporan bahwa AS dan Iran sebagian besar telah menyepakati nota kesepahaman berdurasi 60 hari untuk menghentikan permusuhan. Kesepakatan tersebut dinilai dapat mengurangi risiko gangguan pasokan energi global dan membuka kembali jalur pelayaran yang lebih aman di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia karena menjadi rute utama ekspor minyak dari negara-negara kawasan Teluk. Selama ini, setiap peningkatan tensi geopolitik di kawasan tersebut kerap memicu lonjakan harga minyak akibat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.
Sebaliknya, prospek perdamaian antara AS dan Iran membuat pelaku pasar mulai mengurangi premi risiko yang sebelumnya dibebankan pada harga minyak, sehingga mendorong tren pelemahan harga.
Meski demikian, investor masih bersikap waspada terhadap perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah. Laporan mengenai serangan rudal yang masih terjadi di kawasan Teluk menunjukkan bahwa risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.
Selain itu, keamanan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama pasar karena jalur tersebut berperan penting dalam menjaga kelancaran pasokan energi global.
Untuk sementara, sentimen positif terkait peluang meredanya konflik antara AS dan Iran menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan pasar minyak. Jika kesepakatan gencatan senjata benar-benar terealisasi dan jalur pelayaran internasional tetap aman, tekanan terhadap harga minyak diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu mendatang.












