Intern NATO Dituduh Jadi Agen Negara Ketiga, Belgia Lakukan Penahanan

JurnalPatroliNews | Brussel – Otoritas Belgia menangkap seorang perempuan berkewarganegaraan Kanada keturunan China yang tengah menjalani program magang di Supreme Headquarters Allied Powers Europe (SHAPE) atas dugaan melakukan kegiatan spionase. Perempuan tersebut diduga bekerja untuk kepentingan negara ketiga serta terlibat dalam organisasi kriminal.

Penangkapan dilakukan pada Jumat (24/7/2026) setelah aparat Belgia melakukan penggeledahan di kediaman dan tempat kerja terduga yang berada di kompleks markas komando militer NATO di Mons, Belgia.

Kantor Kejaksaan Federal Belgia menyatakan penyelidikan bermula dari informasi yang disampaikan layanan keamanan NATO kepada intelijen militer Belgia.

“Dia dicurigai melakukan spionase atas nama negara ketiga dan menjadi anggota organisasi kriminal,” demikian pernyataan Kantor Kejaksaan Federal Belgia, dikutip Minggu (26/7/2026).

Meski demikian, hingga kini pihak kejaksaan belum mengungkap identitas terduga maupun negara yang diduga menjadi tujuan aktivitas spionase tersebut. Penyelidikan juga masih berlangsung untuk mengungkap sejauh mana akses informasi yang dimiliki tersangka selama menjalani program magang.

Perempuan tersebut diketahui menjalani magang di SHAPE, markas strategis NATO yang menjadi pusat perencanaan, koordinasi, dan komando berbagai operasi militer gabungan negara-negara anggota aliansi. Fasilitas tersebut juga memiliki peran penting dalam pengelolaan sistem keamanan siber NATO.

Menanggapi kasus tersebut, NATO menegaskan bahwa tidak ada dampak terhadap kesiapan operasional maupun sistem komando aliansi.

Juru bicara SHAPE, Kolonel Martin L. O’Donnell, menyatakan seluruh aktivitas militer tetap berjalan sebagaimana mestinya.

“Saat ini, tidak ada indikasi bahwa kesiapan operasional NATO atau SHAPE, pengaturan komando dan kendali, atau tugas-tugas yang sedang berlangsung telah terpengaruh secara negatif. SHAPE terus memenuhi tanggung jawabnya tanpa gangguan,” ujarnya.

Kasus ini muncul di tengah meningkatnya kewaspadaan NATO terhadap ancaman intelijen dan keamanan dari berbagai pihak. Dalam sejumlah pernyataan sebelumnya, para pemimpin NATO menyebut China terus memperkuat kemampuan militernya, memperluas aktivitas siber, serta menjalankan kampanye disinformasi yang dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan dan keamanan negara-negara anggota.

Namun, hingga berita ini diturunkan, otoritas Belgia belum menyatakan adanya keterlibatan resmi pemerintah China dalam perkara tersebut. Dugaan yang disampaikan masih berada pada tahap penyidikan terhadap individu yang ditangkap.

Di sisi lain, kasus ini juga terjadi ketika NATO tengah menghadapi dinamika geopolitik yang semakin kompleks, termasuk penyesuaian kebijakan keamanan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump terhadap komitmen pertahanan di kawasan Eropa.

Dalam KTT NATO sebelumnya, 32 negara anggota aliansi telah menyepakati peningkatan belanja pertahanan hingga 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) masing-masing negara. Komitmen tersebut mencakup penguatan kemampuan militer, pembangunan infrastruktur strategis, serta peningkatan investasi di bidang keamanan siber sebagai respons terhadap berkembangnya ancaman keamanan global.

Hingga saat ini, penyelidikan oleh otoritas Belgia masih berlangsung, sementara NATO menyatakan akan terus bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk memastikan keamanan informasi dan integritas sistem pertahanan aliansi tetap terjaga.

Komentar