Pezeshkian Mendarat di AS, Sidang PBB Jadi Panggung di Tengah Konflik Iran-AS

JurnalPatroliNews | New York – Presiden Iran Masoud Pezeshkian tiba di New York, Amerika Serikat, untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81. Kehadirannya menjadi perhatian karena berlangsung ketika konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat masih berlangsung.

Kehadiran Pezeshkian berlangsung di tengah agenda High-Level Week Sidang Umum PBB yang digelar 22–29 September 2026 di Markas Besar PBB, New York. Para kepala negara dan pemerintahan berkumpul untuk menyampaikan pandangan mereka mengenai berbagai persoalan internasional.

Laporan mengenai kedatangan Pezeshkian di New York muncul setelah ia bertolak dari Teheran menuju Amerika Serikat. Reuters sebelumnya melaporkan Presiden Iran itu berangkat ke New York untuk menghadiri sidang tahunan PBB, sementara AP menyebut Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah berada di New York dalam rangkaian agenda tersebut.

Kunjungan tersebut berlangsung setelah Pemerintah Amerika Serikat memberikan visa kepada Pezeshkian, Araghchi, dan anggota delegasi inti Iran. Washington menyatakan kehadiran mereka diizinkan sejalan dengan kewajiban AS sebagai negara tuan rumah PBB berdasarkan perjanjian markas besar PBB.

Namun, izin tersebut disertai pembatasan. Menurut Reuters, delegasi Iran dibuat lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya dan dikenai pembatasan pergerakan serta larangan membeli sejumlah barang mewah. Aktivitas delegasi juga dibatasi pada lokasi tertentu di New York.

Pidato Pezeshkian Jadi Sorotan

Pezeshkian dijadwalkan tampil dalam forum Sidang Umum PBB. Kehadirannya memberi ruang bagi pemerintah Iran untuk menyampaikan posisi Tehran di hadapan komunitas internasional, termasuk mengenai konflik yang sedang berlangsung dan jalur diplomasi.

Reuters melaporkan delegasi Iran yang berada di New York memiliki kewenangan untuk membuka kembali pembicaraan diplomatik dengan Amerika Serikat. Pemerintah Iran sebelumnya juga menyampaikan proposal melalui mediator pada 16 September 2026 terkait penghentian permusuhan.

Meski demikian, belum ada agenda pertemuan langsung antara Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump dalam rangkaian kegiatan PBB tersebut.

Situasi tersebut membuat forum PBB menjadi salah satu ruang penting bagi penyampaian sikap kedua negara. Trump sendiri dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada 22 September kembali membahas konflik dengan Iran dan menyerukan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Dengan demikian, kehadiran Pezeshkian di New York tidak hanya berkaitan dengan agenda seremonial Sidang Umum PBB, tetapi berlangsung bersamaan dengan upaya diplomatik yang masih berjalan di tengah konflik.

AS Tolak Visa Abbas

Di sisi lain, kehadiran delegasi Iran tersebut berlangsung bersamaan dengan keputusan Washington menolak visa Presiden Palestina Mahmoud Abbas serta memperpanjang pembatasan visa bagi sejumlah pejabat Palestina.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan keputusan itu berkaitan dengan kebijakan terhadap pejabat Otoritas Palestina dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), termasuk tindakan yang menurut Washington berupaya “menginternasionalisasi” konflik Israel-Palestina.

Karena tidak dapat datang langsung ke New York, Abbas memperoleh kesempatan untuk menyampaikan pernyataan melalui rekaman video.

Majelis Umum PBB pada 17 September 2026 mengesahkan resolusi yang memungkinkan Palestina mengikuti debat tingkat tinggi secara virtual. Pemungutan suara menghasilkan 152 suara mendukung, tiga menolak, dan empat abstain. Tiga negara yang menolak adalah Amerika Serikat, Israel, dan Paraguay.

Perbedaan perlakuan terhadap delegasi Iran dan Palestina menjadi salah satu perkembangan diplomatik yang mengemuka menjelang dan selama High-Level Week Sidang Umum PBB tahun ini.

Diplomasi di Tengah Konflik

Sidang Umum PBB ke-81 berlangsung ketika konflik di Timur Tengah menjadi salah satu isu utama dalam pembahasan para pemimpin dunia. AP melaporkan perang Iran-AS, perkembangan di Gaza, konflik di Yaman, serta persoalan keamanan regional menjadi bagian dari agenda yang membayangi pertemuan tahun ini.

Bagi Iran, kehadiran Pezeshkian memberikan kesempatan untuk menyampaikan posisi pemerintahnya langsung di forum multilateral terbesar dunia.

Sementara bagi negara-negara anggota PBB, rangkaian pertemuan di New York juga menjadi ruang untuk menguji kemungkinan diplomasi di tengah konflik yang masih berlangsung.

Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada jalannya pertemuan para pejabat dan komunikasi melalui mediator selama rangkaian sidang berlangsung.

Komentar