Korea Selatan Bersiap ke Selat Hormuz, P-8 Poseidon hingga Tim EOD Mulai Disiapkan

JurnalPatroliNews | Seoul — Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali memunculkan langkah strategis dari Korea Selatan. Militer Negeri Ginseng dilaporkan mulai melakukan persiapan konkret untuk kemungkinan mengerahkan aset angkatan laut ke jalur pelayaran penting tersebut.

Laporan eksklusif SBS menyebut paket kekuatan yang tengah dipersiapkan mencakup pesawat patroli maritim P-8 Poseidon, tim penjinak bahan peledak atau Explosive Ordnance Disposal (EOD), serta kapal dukungan logistik.

Seorang pejabat penting Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan kepada SBS menyatakan bahwa persiapan pengerahan tersebut telah masuk tahap konkret.

Namun, perkembangan tersebut belum berarti Seoul telah mengambil keputusan final untuk mengirim pasukannya ke kawasan Teluk Persia.

Kantor Kepresidenan Korea Selatan pada Jumat, 4 September 2026, menegaskan bahwa pembahasan masih berlangsung dan belum ada keputusan akhir mengenai pengerahan militer ke Selat Hormuz.

P-8 Poseidon Masuk Rencana

Dalam skenario pengerahan yang dilaporkan SBS, pesawat patroli maritim P-8 Poseidon menjadi salah satu aset utama.

Pesawat tersebut diproyeksikan menjalankan misi pemantauan terhadap kapal permukaan maupun ancaman bawah laut di kawasan Selat Hormuz apabila pengerahan benar-benar diputuskan.

Selain P-8, Korea Selatan juga menyiapkan tim EOD yang berasal dari unsur pasukan khusus Angkatan Laut. Tim tersebut diperkirakan menjalankan fungsi penanganan ancaman bahan peledak dan dapat beroperasi bersama angkatan laut negara lain di kawasan tersebut.

Sementara itu, kapal dukungan logistik diproyeksikan bertugas menopang operasi kedua unsur tersebut selama menjalankan misi.

Persiapan yang dilakukan juga disebut mencakup pembahasan mengenai titik persinggahan serta basis operasional yang dibutuhkan apabila aset Korea Selatan bergerak menuju kawasan Hormuz.

Seoul Belum Putuskan Pengerahan

Di tengah laporan mengenai persiapan militer tersebut, pemerintah Korea Selatan berusaha menegaskan bahwa keputusan politik dan hukum belum final.

Pejabat Kantor Kepresidenan menyatakan Seoul masih mengkaji berbagai opsi kontribusi. Bentuknya tidak harus berupa operasi tempur, tetapi dapat pula berupa misi non-tempur maupun pencarian dan dukungan lainnya.

Pemerintah juga mempertimbangkan dampak keputusan tersebut terhadap kesiapan pertahanan Korea Selatan, khususnya mengingat situasi keamanan di Semenanjung Korea.

Dengan kata lain, setiap kemungkinan keterlibatan di Hormuz harus tetap berada dalam batas yang tidak mengganggu kesiapan pertahanan nasional Seoul.

Kantor Kepresidenan juga menegaskan bahwa pembahasan belum mencapai tahap pengajuan persetujuan kepada parlemen. Setiap pengerahan pasukan memerlukan keputusan Dewan Keamanan Nasional, resolusi dalam rapat kabinet, serta persetujuan Majelis Nasional.

Tekanan Amerika Serikat

Rencana tersebut muncul ketika Korea Selatan berada dalam tekanan kuat dari Amerika Serikat untuk memberikan kontribusi terhadap upaya menjaga keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya berulang kali menekan Seoul terkait kontribusi militer di kawasan tersebut. Perkembangan ini membuat isu pengerahan ke Hormuz tidak hanya menjadi persoalan operasi militer, tetapi juga berkaitan dengan hubungan strategis Seoul-Washington.

Namun, pemerintah Korea Selatan tetap mengambil posisi hati-hati.

Seoul menyatakan kemungkinan kontribusi militer harus disesuaikan dengan kondisi kesiapan pertahanan di Semenanjung Korea dan prosedur hukum domestik.

Sikap tersebut menunjukkan adanya kalkulasi antara kepentingan menjaga jalur pelayaran internasional, hubungan dengan Amerika Serikat, serta kebutuhan mempertahankan kemampuan pertahanan di dalam negeri.

Hormuz Jadi Ujian bagi Seoul

Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam lalu lintas energi dunia. Setiap gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi berdampak luas terhadap perdagangan dan pasokan energi global.

Karena itu, keterlibatan Korea Selatan—bila akhirnya diputuskan—akan menjadi langkah yang memiliki dimensi militer sekaligus ekonomi dan diplomatik.

Untuk saat ini, yang sudah terlihat adalah persiapan teknis di tubuh militer, sementara keputusan politik mengenai pengerahan masih berada dalam tahap kajian.

Dengan demikian, kabar bahwa Korea Selatan akan segera mengirim pasukan ke Hormuz belum dapat disebut sebagai keputusan final. Yang telah dikonfirmasi adalah adanya persiapan konkret menurut sumber pertahanan Korea Selatan yang dikutip SBS, sedangkan Kantor Kepresidenan menegaskan bahwa opsi pengerahan masih ditelaah.

Komentar