Obsesi Nazi Dalam Upaya Melacak Mitos Ras Arya di Tibet, Yang Diyakini Unggul dan Berasal Dari ‘Kota Atlantis’ Yang Hilang

  • Whatsapp
Bruno Beger, kedua dari kiri, dan rekan-rekannya dalam sebuah pertemuan di Lhasa, Tibet, pada 1939.

JunralPatroliNews – Pada 1938, Heinrich Himmler, seorang petinggi Partai Nazi dan perancang Holokos, mengirim sebuah tim beranggotakan lima orang ke Tibet untuk melacak asal-usul ras Arya yang mereka yakini sebagai ras nan unggul. Vaibhav Purandare, selaku penulis buku mengenai Hitler, mengisahkan bagaimana ekspedisi yang melintasi India itu berlangsung.

Setahun sebelum Perang Dunia dimulai, sekelompok orang Jerman tiba di perbatasan India bagian timur secara diam-diam.

Mereka tengah mengemban misi untuk menemukan “asal-muasal ras Arya”.

Adolf Hitler meyakini bahwa orang-orang ‘Arya’ dari kawasan Nordik mencapai India dari utara sekitar 1.500 tahun sebelumnya. Para insan Arya itu kemudian melakoni “kesalahan fatal” dengan mengawini orang-orang “bukan Arya” sehingga menghilangkan semua kekhasan yang membuat mereka superior dari bangsa lainnya di muka bumi.

Hitler berulang kali mengutarakan kebencian mendalam terhadap rakyat India dan perjuangan mereka untuk merdeka. Kebencian itu tertuang dalam pidato, tulisan, dan debat-debatnya.

Meski demikian, menurut Himmler selaku salah satu bawahan terpercaya Hitler, sekaligus kepala organisasi kepolisian SS bentukan Nazi, kawasan India masih layak dijelajahi.

Di sinilah kemudian Tibet muncul dalam pemikiran mereka.

Orang-orang yang mengagung-agungkan ras kulit putih Nordik meyakini bahwa dulu, ada kota Atlantis. Di kota yang hilang tersebut, menurut keyakinan mereka, bangsa “darah murni” bermukim.

Kota tersebut dipercayai berada di Samudera Atlantik, antara Inggris dan Portugal. Belakangan pulau mitos ini diyakini tenggelam setelah dihantam petir Ilahi.

Tidak semua penduduk Atlantis tewas, menurut keyakinan sejumlah orang.

Para penyintas dikira pindah ke tempat yang lebih aman. Nah, wilayah Himalaya, khususnya Tibet, diyakini sebagai tempat aman tersebut karena terkenal dengan julukan “atap dunia”.

Pada 1935 Himmler membentuk sebuah unit di dalam SS yang disebut Ahnenerbe—atau Biro Warisan Nenek Moyang—guna melacak jejak orang-orang Atlantis setelah kota itu diyakini dihantam petir.

Selang tiga tahun kemudian dia mengirim lima orang Jerman ke Tibet dalam “operasi pencarian”.

Ada dua anggota tim tersebut yang kemampuannya menonjol. Pertama adalah Ernst Schafer, seorang pakar zoologi yang pernah ke perbatasan India-China-Tibet sebanyak dua kali.

Schafer bergabung dengan SS sesaat setelah Partai Nazi berjaya di Jerman pada 1933, jauh sebelum Himmler menjadi atasannya dalam ekspedisi ke Tibet.

Schafer amat tergila-gila berburu dan gemar mengoleksi piala di rumahnya di Berlin.

Dalam suatu ekspedisi berburu, ketika sedang berupaya menembak seekor bebek dari perahu yang ditumpangi dia dan istrinya, Schafer tergelincir dan menembak kepala istrinya sampai tewas secara tidak sengaja.

Orang kedua adalah Bruno Beger, seorang ahli antropologi muda yang bergabung dengan SS pada 1935.

Beger berniat mengukur tengkorak dan semua detil pada wajah orang-orang Tibet untuk dibuat sebagai topeng wajah.

Itu dilakukan, kata dia, “khususnya untuk mengoleksi bahan-bahan mengenai proporsi, asal-usul, signifikansi, dan perkembangan ras Nordik di wilayah ini”.

Kapal yang membawa kelima orang Jerman itu berlabuh di Kolombo, Sri Lanka, pada awal Mei 1938. Dari sana, mereka menumpang kapal lainnya ke Madras (sekarang Chennai), lantas ke Calcutta (sekarang Kolkata).

Aparat Inggris di India mengetahui keberadaan kelima orang Jerman itu, yang disangka sebagai mata-mata.

Aparat Inggris awalnya enggan mengizinkan mereka melintasi India. Bahkan surat kabar Times of India yang dikelola Inggris menerbitkan tulisan dengan judul “Agen Gestapo di India”.

Pejabat politik Inggris di Gangtok, di Negara Bagian Sikkim, India timur laut, yang saat itu merupakan kerajaan independen, juga tidak antusias dalam mengizinkan kelima orang Jerman itu masuk ke Tibet melalui Sikkim.

Tapi pada akhirnya tim Nazi tersebut berhasil. Pada akhir tahun, kelima orang Jerman dengan bendera swastika terpampang pada keledai dan koper-koper mereka, masuk Tibet.

Swastika, atau dikenal dengan nama lokal ‘yungdrung‘, adalah lambang yang terlihat di mana-mana di Tibet. Schafer dan rekan-rekannya tentu juga telah melihat simbol itu saat berada di India karena umat Hindu menganggap swastika sebagai lambang kemujuran.

Hingga sekarang simbol tersebut jelas terlihat di mana-mana, seperti di rumah, di dalam kuil, di tikungan jalan, sampai di bagian belakang truk.

Saat mereka berada di Tibet, situasinya berubah.

Dalai Lama ke-13 telah meninggal dunia pada 1933 dan penggantinya baru berusia tiga tahun, sehingga Kerajaan Tibet yang dihuni umat Buddha dikendalikan oleh seorang bupati.

Orang-orang Jerman itu diperlakukan luar biasa baik oleh sang bupati dan rakyatnya.

Beger, yang ingin membuat topeng wajah, bahkan sempat bertindak sebagai dokter bagi para warga setempat.

Yang tidak diketahui rakyat Tibet saat itu adalah kelima orang Nazi ini menganggap Buddhisme dan Hinduisme adalah agama yang melemahkan semangat dan fisik ras Arya ketika orang-orang Atlantis tersebut disangka datang ke Tibet.

Akan tetapi, misi “riset” Schafer dan rekan-rekannya yang berkedok investigasi ilmiah di bidang zoologi dan antropologi tiba-tiba terhenti pada Agustus 1939 akibat perang.

Padahal, saat itu Beger telah mengukur tengkorak dan fisik 376 orang Tibet, mengabadikan 2.000 foto, “membuat cetakan gips kepala, wajah, tangan, dan telinga 17 orang” serta mengoleksi “sidik jari dan cetakan tangan 350 orang lainnya”.

Dia juga telah mengumpulkan 2.000 “artefak etnografi”.

Sementara seorang rekannya telah mengabadikan 18.000 meter film hitam putih dan 40.000 foto.

Karena ekspedisi mereka terhenti tiba-tiba, Himmler mengupayakan timnya menumpang pesawat dari Calcutta. Himmler juga yang menyambut kedatangan mereka saat pesawat mendarat di Munich, Jerman.

Schafer mengambil sebagian besar “harta” Tibet tersebut ke sebuah kastil di Salzburg, tempatnya bermukim selama Perang Dunia II.

Namun, begitu pasukan sekutu tiba pada 1945, tempat itu diserbu sehingga sebagian besar foto dan bahan lainnya dari Tibet menjadi rusak.

“Hasil-hasil ilmiah” dari ekspedisi itu bernasib sama saat perang berlangsung: entah itu hilang atau hancur. Setelah perang pun tidak ada yang mencoba melacak bahan-bahan dari Tibet karena masa lalu Nazi yang memalukan.

Vaibhav Purandare adalah penulis buku Hitler And India: The Untold Story of His Hatred For the Country And Its People, diterbitkan oleh Westland Books.

Pos terkait