JurnalPatroliNews – VATIKAN — Pemimpin Gereja Katolik Paus Leo XIV memperingatkan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berpotensi menimbulkan “malapetaka sosial” apabila memicu pengangguran massal dan hilangnya lapangan kerja di masa depan.
Peringatan tersebut disampaikan Paus Leo XIV dalam ensiklik pertamanya, yakni dokumen resmi ajaran Gereja Katolik, yang turut menyerukan perlunya regulasi terhadap perkembangan teknologi AI.
Dalam dokumen tersebut, Paus menegaskan bahwa perusahaan tidak boleh mengorbankan manusia demi mengejar keuntungan ekonomi semata.
“Pengejaran keuntungan yang lebih besar tidak dapat membenarkan pilihan yang secara sistematis mengorbankan lapangan kerja, karena manusia adalah tujuan, bukan sarana,” tulis Paus Leo XIV, dikutip Rabu, 27 Mei 2026.
Pandangan tersebut dinilai sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran global terkait dampak AI terhadap pasar tenaga kerja. Di Amerika Serikat, para trader di platform prediksi Kalshi memperkirakan peluang sebesar 60 persen bahwa tingkat pengangguran di negara tersebut akan melampaui 8 persen sebelum tahun 2030.
Bahkan, peluang pengangguran menembus level 9 persen diperkirakan mencapai 47 persen.
Tingkat pengangguran setinggi itu umumnya hanya terjadi saat resesi besar atau gelombang pemutusan hubungan kerja massal. Di luar pandemi COVID-19 pada 2020, tingkat pengangguran di atas 9 persen tercatat hanya beberapa kali terjadi di Amerika Serikat sejak Perang Dunia II.
Selain itu, para trader juga menilai AI mulai menjadi faktor utama pemutusan hubungan kerja. Mereka memperkirakan peluang sebesar 78 persen bahwa AI menjadi penyebab dominan PHK pada Mei tahun ini berdasarkan data yang akan dirilis perusahaan riset ketenagakerjaan Challenger, Gray & Christmas.
Meski sebagian pendukung AI meyakini teknologi tersebut hanya akan menggantikan sebagian pekerjaan dan menciptakan jenis pekerjaan baru, Paus Leo XIV menekankan bahwa pekerjaan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia dan tatanan sosial.
Menurut dia, masyarakat berisiko mengalami “kemiskinan manusia dan budaya” apabila kemajuan teknologi hanya memberikan manfaat ekonomi bagi segelintir pihak, sementara sebagian besar masyarakat kehilangan peran dalam kehidupan sosial dan dunia kerja.














