PBB Minta Houthi Deeskalasi, Konflik Laut Merah Dinilai Bisa Picu Krisis Baru

JurnalPatroliNews | New York – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan keprihatinan mendalam atas kembali meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Laut Merah.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres memperingatkan bahwa eskalasi tersebut tidak hanya mengancam keselamatan pelayaran internasional, tetapi juga berpotensi menggagalkan upaya perdamaian di Yaman serta memicu dampak ekonomi, kemanusiaan, dan lingkungan yang lebih luas.

Melalui pernyataan resmi yang disampaikan juru bicaranya pada 24 Juli 2026, Guterres menyatakan dirinya sangat prihatin dengan dimulainya kembali serangan Houthi terhadap kapal-kapal dagang dan ancaman baru terhadap kebebasan navigasi di Laut Merah.

Menurutnya, tindakan tersebut berisiko meningkatkan ketegangan regional dan memperluas siklus eskalasi yang dapat menyeret Yaman lebih dalam ke konflik kawasan.

Sekjen PBB menilai bahwa setiap peningkatan permusuhan akan semakin memperkecil peluang tercapainya penyelesaian politik di Yaman. Ia juga mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat membawa konsekuensi serius terhadap stabilitas ekonomi, kondisi kemanusiaan, serta lingkungan, baik di Timur Tengah maupun di kawasan lain yang bergantung pada jalur perdagangan internasional melalui Laut Merah.

Karena itu, Guterres menyerukan seluruh pihak untuk segera menurunkan eskalasi. Secara khusus, ia mendesak kelompok Houthi menghentikan seluruh serangan terhadap kapal-kapal komersial dan menghindari tindakan lain yang dapat memperburuk situasi keamanan di kawasan.

Seruan tersebut juga mengacu pada Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2722 Tahun 2024, yang menuntut penghentian serangan terhadap kapal dagang serta menjamin kebebasan navigasi di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling strategis bagi perdagangan dunia.

Pernyataan PBB muncul setelah kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat nirawak. Kelompok tersebut menyatakan serangan dilakukan sebagai bagian dari blokade maritim yang mereka umumkan terhadap Arab Saudi dan mengklaim kedua kapal telah melanggar larangan pelayaran yang diberlakukan.

Beberapa hari sebelumnya, Houthi juga mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi di kawasan Laut Merah. Langkah tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur pelayaran internasional yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika, serta mendorong Arab Saudi menyatakan akan memperkuat perlindungan terhadap kapal-kapal yang melintasi wilayah tersebut.

Komentar