JurnalPatroliNews – Jakarta – Nilai dagang komoditas energi internasional mengalami koreksi tajam hingga menyentuh zona terendah dalam kurun waktu tiga bulan terakhir menyusul bergulirnya draf kesepakatan geopolitik baru.
Penurunan drastis harga minyak mentah di pasar global ini dipicu secara masif oleh rilis laporan bahwa Pemerintah Amerika Serikat berencana memberikan lampu hijau bagi Iran untuk kembali melakukan aktivitas penjualan minyak mentah ke pasar internasional.
Relaksasi sanksi ekonomi tersebut bersyarat pada tercapainya nota kesepakatan final untuk mengakhiri rangkaian konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah yang sempat memanas dalam beberapa bulan ke belakang.
Situasi ini seketika menumbuhkan gelombang optimisme di kalangan pelaku pasar komoditas terhadap potensi terciptanya stabilitas keamanan yang lebih permanen di sirkuit logistik energi dunia.
Meredanya tensi geopolitik di kawasan produsen utama tersebut diperkirakan bakal mendongkrak volume pasokan minyak mentah secara global sekaligus mengeliminasi risiko gangguan distribusi energi antarnegara.
Pada sesi penutupan perdagangan harian global hari Selasa waktu setempat, harga minyak mentah jenis Brent yang menjadi barometer acuan internasional dilaporkan ambles hingga 5 persen untuk mendarat ke level 78,96 dolar AS per barel.
Catatan koreksi ini sekaligus menandai momen perdana bagi minyak Brent ditransaksikan di bawah ambang batas psikologis 80 dolar AS per barel sejak periode akhir kuartal pertama tahun ini.
Di saat yang sama, performa minyak mentah domestik Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate atau WTI mencatatkan kemerosotan yang jauh lebih dalam dengan penurunan sebesar 5,8 persen dan ditutup pada posisi 76,05 dolar AS per barel.
Para investor dan pelaku pasar merespons positif skenario kembalinya pasokan minyak dari Teheran, mengingat tambahan suplai dari negara anggota OPEC tersebut secara otomatis akan meredam kepanikan kelangkaan pasokan global.
Ekspektasi terhadap pemulihan hubungan dagang antara Washington dan Teheran ini dinilai efektif memotong premi risiko ketidakpastian ekonomi yang selama ini membebani pergerakan harga komoditas global.
Di sisi lain, jajaran pelaku industri pelayaran kapal tanker internasional menyambut baik draf prospek perdamaian ini, kendati mereka menyatakan tetap bersikap hati-hati dalam menyusun rencana operasional pelayaran.
Perhatian utama sektor maritim saat ini tertuju pada realisasi draf pembukaan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz yang menjadi jalur arteri utama bagi distribusi sepertiga komoditas minyak dunia melalui jalur laut.















Komentar