JurnalPatroliNews – Jakarta – Perusahaan kedirgantaraan Jeff Bezos, Blue Origin, telah mengembangkan teknologi selama lebih dari setahun untuk membangun pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa, menurut laporan Wall Street Journal yang dikutip dari sumber yang dekat dengan masalah tersebut.
Sementara itu, SpaceX milik Elon Musk berencana memanfaatkan versi terbaru satelit Starlink untuk menampung payload komputasi AI, sekaligus menawarkannya sebagai bagian dari penjualan saham yang dapat menilai perusahaan hingga 800 miliar dolar AS, menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut.
Baik Blue Origin maupun SpaceX belum memberikan komentar resmi atas laporan ini, sementara Reuters juga belum dapat memverifikasi informasi tersebut.
Meski demikian, konsep pusat data orbit luar angkasa kini semakin menjadi perhatian perusahaan teknologi global, terutama karena meningkatnya kebutuhan listrik dan air untuk pendinginan server di Bumi.
Pada Oktober 2025, Jeff Bezos memprediksi bahwa pusat data berskala gigawatt akan dibangun di luar angkasa dalam 10 hingga 20 tahun mendatang.
Menurutnya, energi matahari yang tersedia secara terus-menerus akan membuat pusat data orbit lebih efisien dibandingkan yang ada di permukaan Bumi.
“Kami akan mampu menekan biaya pusat data di orbit dibanding di Bumi dalam beberapa dekade ke depan,” ujar Bezos dikutip Yahoo Tech, Kamis (11/12/2025).
Ia menambahkan bahwa kluster pelatihan AI raksasa lebih cocok dibangun di luar angkasa karena mendapat pasokan tenaga surya 24 jam tanpa gangguan cuaca.
Di sisi lain, SpaceX sedang menyiapkan peningkatan kapasitas satelit Starlink untuk membawa payload komputasi AI.
Langkah ini berkaitan dengan rencana perusahaan melakukan penawaran saham perdana (IPO) pada 2026, dengan target perolehan lebih dari 25 miliar dolar AS dan potensi valuasi melebihi 1 triliun dolar AS, menurut laporan Reuters.
Meski sempat muncul laporan bahwa SpaceX mengincar valuasi 800 miliar dolar AS, Elon Musk membantah kabar tersebut dan menegaskan bahwa informasi itu tidak akurat.
Persaingan Bezos dan Musk memasuki babak baru. Kedua raksasa antariksa asal Amerika Serikat ini kini berlomba memanfaatkan orbit bumi rendah sebagai pusat komputasi AI masa depan.
Langkah tersebut sekaligus mengurangi ketergantungan pada infrastruktur pusat data di Bumi yang makin terbebani.














