Tragedi Nepal Bukan Sekadar Banjir, Perubahan Iklim Mulai Kirim Sinyal Bahaya

JurnalPatroliNews | Yogyakarta — Bencana banjir bandang yang menerjang Nepal setelah keruntuhan gletser di kawasan Himalaya menjadi peringatan serius mengenai meningkatnya risiko bencana akibat perubahan iklim.

Pakar Tata Kelola Bencana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rahmawati Husein, menilai peristiwa tersebut tidak semestinya dipandang hanya sebagai bencana lokal di Nepal. Menurutnya, keruntuhan massa es dan batu di kawasan Himalaya menunjukkan bagaimana perubahan kondisi lingkungan di wilayah pegunungan dapat memicu bencana berantai dengan dampak luas.

“Ini bagian dari bukti perubahan iklim yang nyata. Banyak orang mungkin masih tidak percaya perubahan iklim, tetapi longsoran es dan batu itu sebetulnya menjadi bukti dari pemanasan global yang memaksa es mencair,” kata Rahmawati, Sabtu (5/9/2026).

Rahmawati menilai persoalan tersebut telah melampaui batas satu negara.

“Dari sisi tata kelola, penyelesaiannya tidak hanya menjadi urusan satu negara. Ini sudah menjadi urusan dunia dan menjadi alarm bagi penduduk bumi,” lanjutnya.

Keruntuhan Gletser Picu Banjir Dahsyat

Bencana bermula dari keruntuhan gletser dan material batuan di kawasan Himalaya dekat perbatasan Nepal-Tibet pada 26 Agustus 2026.

Material berupa es, batu, lumpur dan sedimen kemudian bergerak mengikuti sistem sungai dan memicu banjir bandang yang menyapu permukiman, infrastruktur serta sejumlah fasilitas pembangkit listrik tenaga air.

Laporan Reuters menyebut bencana tersebut telah menewaskan sedikitnya 1.344 orang di Nepal, sementara sekitar 4.887 lainnya masih dinyatakan hilang. Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung, termasuk di lokasi proyek pembangkit listrik yang diduga masih menampung pekerja terjebak di dalam terowongan.

Fenomena tersebut juga memperlihatkan bagaimana perubahan kondisi gletser dapat berinteraksi dengan topografi pegunungan dan menghasilkan bencana berintensitas tinggi.

Pemanasan Global Mengubah Risiko Bencana

Rahmawati mengatakan mencairnya es di kawasan pegunungan tidak hanya berpotensi memicu longsoran atau banjir bandang.

Perubahan tersebut juga memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap sistem hidrologi dan permukaan laut.

“Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada bahaya langsung seperti longsoran. Yang paling berbahaya kalau es banyak mencair adalah permukaan air laut ikut naik,” tegasnya.

Menurut dia, persoalan tersebut harus menjadi perhatian serius Indonesia karena karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau, termasuk pulau-pulau kecil.

Indonesia Tak Boleh Hanya Melihat Nepal

Rahmawati mengingatkan bahwa jarak geografis Indonesia dengan Himalaya bukan alasan untuk menganggap dampak perubahan iklim tidak berkaitan dengan Indonesia.

Perubahan iklim berlangsung dalam sistem global. Kenaikan suhu bumi dapat memengaruhi gletser, pola hujan, kenaikan permukaan laut serta intensitas berbagai jenis bencana di sejumlah wilayah.

Karena itu, tragedi Nepal semestinya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat kebijakan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

“Kalau naik, Indonesia harus waspada karena pulau-pulau kecil bisa terdampak. Jadi, kita tidak bisa hanya melihat bencana Nepal sebagai kejadian di satu wilayah, tetapi sebagai peringatan bagi negara lain,” ujar Rahmawati.

Ancaman Terbesar Bukan Hanya Banjir Bandang

Bencana di Nepal memperlihatkan bahwa ancaman perubahan iklim dapat muncul melalui rangkaian risiko yang saling berkaitan.

Keruntuhan gletser dapat memicu aliran material dalam jumlah besar, kemudian merusak permukiman dan infrastruktur yang berada di sepanjang jalur sungai.

Dalam konteks yang lebih luas, meningkatnya pencairan es dunia juga berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut.

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, ancaman tersebut berhubungan dengan kerentanan kawasan pesisir, pulau kecil dan wilayah yang berada pada elevasi rendah.

Tata Kelola Bencana Harus Diperkuat

Rahmawati mendorong pemerintah tidak hanya berfokus pada penanganan setelah bencana terjadi.

Penguatan sistem peringatan dini, pemetaan wilayah berisiko, kesiapsiagaan masyarakat dan pembangunan infrastruktur yang tahan bencana harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang.

Sistem peringatan dini menjadi semakin penting karena bencana yang dipicu perubahan kondisi lingkungan dapat berkembang sangat cepat.

Pengalaman Nepal menunjukkan bahwa medan yang sulit dan kerusakan infrastruktur dapat memperlambat proses evakuasi sekaligus menyulitkan pencarian korban.

Pengurangan Emisi Tetap Jadi Kunci

Menurut Rahmawati, respons terhadap perubahan iklim tidak cukup hanya dilakukan melalui adaptasi.

Pemerintah dan masyarakat juga perlu mendorong pengurangan emisi gas rumah kaca, penghijauan serta perlindungan ekosistem.

Upaya tersebut harus berjalan bersamaan karena perubahan iklim merupakan persoalan global yang sumber dan dampaknya melintasi batas negara.

Kerja sama antarnegara menjadi penting, terutama dalam pertukaran data, teknologi pemantauan, sistem peringatan dini serta penguatan kapasitas penanganan bencana.

Indonesia Punya Pelajaran dari Himalaya

Bagi Indonesia, bencana Nepal dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat kembali kesiapan menghadapi dampak perubahan iklim.

Bukan berarti Indonesia akan mengalami peristiwa yang sama persis dengan Nepal. Namun, mekanisme risikonya memperlihatkan bahwa perubahan lingkungan dapat memperbesar potensi bencana dan menciptakan dampak berantai.

Karena itu, kebijakan pembangunan perlu semakin memperhitungkan risiko iklim, terutama di wilayah pesisir, pulau kecil, daerah aliran sungai dan kawasan rawan bencana.

Alarm yang Tak Boleh Diabaikan

Bencana Nepal pada akhirnya bukan sekadar kisah tentang banjir besar di kawasan Himalaya.

Peristiwa tersebut menjadi gambaran mengenai bagaimana perubahan iklim dapat memperbesar ketidakpastian dan menciptakan risiko baru yang sulit diprediksi.

Bagi Indonesia, alarm tersebut semakin relevan karena kenaikan permukaan laut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Karena itu, pesan Rahmawati menjadi penting: perubahan iklim harus dihadapi secara bersama melalui mitigasi, adaptasi, sistem peringatan dini, penguatan tata kelola bencana dan kerja sama internasional.

Banjir Nepal boleh terjadi ribuan kilometer dari Indonesia. Namun, pesan yang dibawanya jauh lebih dekat: ketika iklim berubah, batas geografis tidak lagi cukup untuk melindungi sebuah negara dari dampaknya.

Komentar