JurnalPatroliNews | New York — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan kritik keras terhadap Qatar dan Turki dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York, Kamis (24/9/2026).
Dalam pidato tersebut, Netanyahu menuduh sejumlah negara menggelontorkan dana besar untuk menyebarkan apa yang dia sebut sebagai kebohongan mengenai Israel. Qatar menjadi salah satu negara yang secara khusus disorotnya.
Menurut Netanyahu, Qatar selama bertahun-tahun mendanai universitas di Amerika Serikat dan media Al Jazeera. Ia menuduh langkah tersebut digunakan untuk membentuk opini publik yang bermusuhan terhadap Israel, Amerika Serikat dan negara-negara Barat.
“Beberapa negara asing telah menghabiskan miliaran dana yang tak terhitung jumlahnya untuk menyebarkan kebohongan tentang negara saya,” kata Netanyahu dalam pidatonya.
“Yang pertama melakukan hal tersebut adalah Qatar. Puluhan tahun lalu, mereka mulai mendanai secara masif universitas-universitas di Amerika dan media-media beracun seperti Al Jazeera,” lanjutnya.
Netanyahu juga menuduh Qatar menampung para pemimpin Hamas yang menurutnya terkait dengan serangan 7 Oktober 2023 terhadap Israel.
“Ini adalah Qatar yang sama yang menampung para algojo Hamas pada tanggal 7 Oktober,” ujar Netanyahu.
Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu ketika ia berupaya membela posisi Israel di tengah kritik internasional terkait perang Gaza. Dalam pidato yang sama, Netanyahu juga menolak tuduhan bahwa Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina dan menyebut tuduhan tersebut sebagai kebohongan.
Erdogan Disebut “Tiran”
Serangan Netanyahu kemudian diarahkan kepada Turki dan Presiden Recep Tayyip Erdogan.
Netanyahu menyebut Turki sebagai negara terbaru yang menurutnya menjadi penyebar narasi antisemit terhadap Israel. Ia kemudian secara langsung menyebut Erdogan sebagai “tiran”.
“Sekarang, negara terbaru yang menjadi pemicu utama penyebaran kebohongan antisemit adalah Turki. Erdogan, Erdogan adalah seorang tiran, dia juga menampung para pemimpin teror Hamas,” kata Netanyahu.
Netanyahu selanjutnya melontarkan sejumlah tuduhan terhadap pemerintahan Erdogan. Ia menyinggung persoalan warga Kurdi, isu genosida Armenia, penahanan jurnalis dan tokoh oposisi, serta kebijakan Turki di Siprus Utara dan hubungan dengan Yunani.
Ia juga menuduh Erdogan berupaya memperluas pengaruh Turki ke Suriah.
Pernyataan Netanyahu tersebut merupakan tuduhan dan penilaian politik dari pemerintah Israel terhadap Erdogan dan Turki. Pemerintah Turki sendiri selama ini secara terbuka mengecam operasi militer Israel di Gaza dan menyerukan tekanan internasional terhadap Israel. Dalam pidatonya di PBB pada 22 September, Erdogan kembali mengkritik situasi kemanusiaan di Gaza dan menyerukan pengakuan yang lebih luas terhadap Palestina.
Netanyahu Singgung Yerusalem
Perseteruan verbal antara Netanyahu dan Erdogan kemudian mengarah pada isu Yerusalem.
Netanyahu mengatakan Erdogan disebut ingin menjadi penguasa Yerusalem. Namun, ia menegaskan Israel tidak akan menerima hal tersebut.
“Sekarang dia ingin mengambil alih Suriah. Yah, itu tidak mengejutkan, karena dia menyerukan kehancuran Israel hampir setiap hari. Dia mengatakan bahwa dia akan menjadi penguasa Yerusalem,” ujar Netanyahu.
“Tidak, Tuan. Anda tidak akan bisa. Ini adalah negara kami, kota kami, ibu kota abadi kami,” tegasnya.
Pernyataan Netanyahu mengenai Yerusalem menjadi salah satu bagian paling keras dalam serangannya terhadap Erdogan dalam pidato tersebut. Media Israel juga mencatat bahwa Netanyahu secara khusus menyebut Erdogan sebagai “tiran” dan menuduh Turki menjadi penyebar narasi antisemit terhadap Israel.
Pidato Netanyahu Diwarnai Walkout
Pidato Netanyahu berlangsung dalam situasi diplomatik yang tegang. Sejumlah delegasi meninggalkan ruang sidang ketika perdana menteri Israel tersebut mulai berbicara.
Netanyahu kemudian menanggapi aksi tersebut dengan menyebut mereka sebagai “moral cowards” dan meminta delegasi yang masih berada di ruangan untuk meninggalkan sidang jika tidak ingin mendengarkan pidatonya.
Pidato tersebut menjadi salah satu momen paling kontroversial dalam Sidang Umum PBB tahun ini. Netanyahu menggunakan panggung PBB untuk membela tindakan Israel, menyerang kritik internasional terhadap negaranya, serta mengarahkan kritik langsung kepada Qatar, Turki dan sejumlah pihak lain.
Di tengah meningkatnya ketegangan politik di kawasan, pernyataan Netanyahu mengenai Qatar dan Turki kembali memperlihatkan tajamnya perbedaan posisi Israel dengan sejumlah negara yang secara terbuka mengkritik kebijakan pemerintahannya terhadap Palestina.












Komentar