JurnalPatroliNews – Sel kanker memiliki kemampuan untuk menyebar ke cairan serebrospinal (CSF) yang melindungi otak dan sumsum tulang belakang. Obat kemoterapi yang diminum seringkali tidak mampu menembus lapisan pelindung ini. Oleh karena itu, diperlukan metode pengobatan khusus yang disebut kemoterapi intratekal (IT).
Kemoterapi IT dilakukan dengan menyuntikkan obat antikanker langsung ke dalam ruang intratekal, yaitu area yang berisi CSF, di antara dua lapisan jaringan pelindung otak (meninges). Metode ini paling sering digunakan untuk mengobati jenis kanker yang berisiko tinggi menyebar ke otak atau sumsum tulang belakang, seperti beberapa kasus leukemia dan limfoma. Contohnya, penderita leukemia limfoblastik akut (LLA) seringkali menerima kemoterapi IT sebagai tindakan pencegahan.
Pemberian kemoterapi IT dapat dilakukan melalui dua cara utama:
- Pungsi Lumbal (Spinal Tap): Dokter akan menggunakan jarum untuk menyuntikkan obat ke dalam CSF di antara ruas tulang belakang. Proses ini memakan waktu sekitar 30 menit, dan pasien dianjurkan untuk beristirahat selama satu jam setelahnya.
- Reservoir Ommaya: Jika pasien membutuhkan dosis berulang atau terapi jangka panjang, dokter dapat memasang perangkat kecil berbentuk kubah di bawah kulit kepala. Perangkat ini terhubung langsung ke ruang intratekal, memungkinkan pemberian obat atau pengambilan sampel CSF tanpa perlu melakukan pungsi lumbal berulang kali. Meskipun lebih nyaman, metode ini memiliki risiko infeksi seperti halnya prosedur operasi lainnya.








