10 dibaca,  1 dibaca hari ini

JurnalPatroliNews-Jakarta – Selama berabad-abad, masyarakat Trunyan di Bali menguburkan jenazah keluarga atau kerabat mereka di dalam sangkar bambu yang diletakkan di tempat terbuka hingga membusuk dan meninggalkan kerangka.

Ritual ini masih terus dilakukan, bahkan saat pandemi virus corona melanda dunia dan protokol kesehatan melarang acara pemakaman dihadiri banyak orang.

Di Indonesia, petugas pemakaman wajib mengenakan pakaian hazmat dan mayat harus dikubur dengan cepat, semuanya dalam upaya mencegah penyebaran penyakit Covid-19.

Tetapi di Bali, pejabat setempat mengklaim virus corona, yang telah menginfeksi sedikitnya 8 juta dan menewaskan lebih dari 430.000 secara global, belum mencapai wilayah timur laut terpencil tempat masyarakat Trunyan bermukim.

“Proses pemakaman tetap sama tetapi sekarang kita wajib memakai masker,” kata kepala desa, Wayan Arjuna, seperti yang dikutip dari AFP pada Selasa (16/6).

Meski ritual tetap dilakukan, namun untuk sementara turis dilarang mengunjungi acara pemakaman yang menjadi atraksi wisata budaya itu demi mencegah penularan virus corona.

Tidak seperti mayoritas masyarakat Hindu di Bali, masyarakat Trunyan – yang memadukan kepercayaan animisme, adat istiadat leluhur, dengan interpretasi mereka sendiri tentang Hindu – tidak melakukan penguburan di dalam tanah atau mengkremasinya.

Alih-alih, mereka membiarkan alam melakukan proses penguburan alami ketika mayat-mayat membusuk di tempat terbuka, karena mereka percaya bahwa itu adalah cara untuk menjaga hubungan dengan orang yang telah meninggal.

“Ini membuat kita merasa terhubung dengan orang yang kita cintai,” kata Arjuna.

“Seperti ketika nenek saya meninggal, saya merasa dia masih berada di sini,” tambahnya.

Pulau Tengkorak

Pemakaman Trunyan yang berupa pulau kecil bisa dijangkau dengan naik perahu dari Desa Trunyan. Selama perjalanan perahu, turis bisa melihat pemandangan gunung berapi Batur dan komplek candi Hindu yang luas.

Ada 11 sangkar bambu berisi mayat di pulau itu, ditempatkan dekat dengan pohon beringin wangi yang mampu menyembunyikan bau busuk, kata penduduk setempat.

Dalam satu sangkar bambu, seorang wanita yang baru saja meninggal terlihat seperti seseorang yang sedang tertidur, tetapi kulitnya yang pucat menegaskan bahwa ia adalah mayat.

Di dekatnya, kaki tanpa daging mencuat dari pakaian, sementara di sangkar bambu yang lain terlihat kerangka yang sedang terbaring dengan rahang yang menganga.

“Awalnya saya sempat merasa takut saat datang ke sini, tapi sekarang saya sudah terbiasa,” kata Wayan Sukarmin, pemandu wisata yang telah 20 tahun membawa turis mengunjungi tempat pemakaman yang disebut Pulau Tengkorak itu.

Di Pulau Tengkorak terlihat papan pengumuman yang bertuliskan wajib mengenakan pakaian sopan dan dilarang berbicara bahaya yang buruk.

Sandal karet, bungkus rokok, pasta gigi, panci, dan wajan terlihat di sekitar sangkar bambu, bersama dengan ‘keranjang berisi koin dan uang lusuh – semua ditinggalkan oleh pelayat’ untuk digunakan almarhum di akhirat.

“Penduduk lokal tidak ada yang mengambilnya karena itu milik orang yang telah meninggal. Itu keyakinan kami,” kata Sukarmin.

“Saya tidak tahu apa akibatnya jika Anda mengambil itu, tetapi saya percaya pada karma,” tambahnya.

Kebiasaan lama ribuan tahun

Jika sangkar bambu telah penuh maka mayat lama dipindahkan ke tempat terbuka, untuk memberi ruang bagi mayat yang baru.

Kemudian ketika tidak ada lagi daging yang tersisa, tengkorak mereka diletakkan di atas altar batu, sampai hancur dengan sendirinya karena proses alam.

Di dekatnya, ada pemakaman kedua untuk orang yang belum menikah dan anak-anak, sedangkan lokasi ketiga adalah bagi mereka yang meninggal tidak wajar seperti pembunuhan atau penyakit.

Masyarakat Trunyan yang juga disbeut Bali Aga atau orang gunung, mengklaim sebagai keturunan asli Bali dan candi utama di desa Trunyan telah berdiri sejak abad ke-10 menurut catatan sejarah mereka.

Asal usul kebiasaan pemakaman di tempat terbuka masih dipertanyakan.

Salah satu legenda mengatakan bahwa penduduk awal di kawasan itu memperebutkan pohon Banyan yang berharga, sehingga untuk menjaga perdamaian, para pemimpin memutuskan untuk menempatkan orang mati di sana, percaya bau dari mayat akan membuat area di sekitar pohon Banyan kurang menarik.

Cerita lain menunjukkan bahwa ritual itu diadopsi untuk menghindari kemarahan gunung berapi di dekatnya saat ada kegiatan kremasi.

“Ada beberapa versi legenda jadi saya tidak bisa memastikan mana yang benar,” kata Arjuna.

Ritual penguburan di tempat terbuka begitu mengakar dalam budaya masyarakat Trunyan, sehingga tidak ada yang berniat mengubahnya bahkan selama masa pandemi virus corona.

“Relatif lebih mudah untuk mencegah infeksi di tempat-tempat terpencil dan jauh seperti di sini,” kata kepala satuan tugas virus Bali Dewa Made Indra.

“Tidak ada kasus yang dilaporkan di Trunyan. Tetapi jika itu terjadi, maka kita akan menanganinya dengan prosedur khusus dan saya pikir penduduk desa akan mengerti”.(/lk/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *