AI Makin Populer di Asia Tenggara, Hanya 1–2 Persen yang Membayar Langganan

JurnalPatroliNews | Jakarta — Adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) generatif di Asia Tenggara berkembang pesat, menjangkau sekitar 243 juta orang dalam waktu kurang dari tiga tahun. Namun, besarnya jumlah pengguna belum otomatis menghasilkan pendapatan dari biaya langganan individu. Peluang monetisasi AI justru terbuka luas melalui peningkatan penjualan, efisiensi operasional, dan optimalisasi layanan pelanggan.

Laporan tahunan e-Conomy SEA yang disebut dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company pada Rabu (21/10/2026) mencatat, pengguna AI generatif di Asia Tenggara telah setara dengan 58 persen populasi usia kerja. Kecepatan adopsinya bahkan disebut empat kali lebih tinggi dibandingkan perkembangan penggunaan internet seluler pada masa awal pertumbuhannya.

Meski demikian, baru sekitar 1–2 persen penduduk di kawasan tersebut yang membayar langganan AI untuk penggunaan pribadi. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa popularitas teknologi AI tidak selalu berbanding lurus dengan kesediaan konsumen membayar layanan secara langsung.

Florian Hoppe, mitra Bain & Company, menilai perusahaan tetap dapat memperoleh manfaat ekonomi dari AI meskipun pengguna tidak membayar biaya berlangganan secara langsung.

“Monetisasi AI tidak bergantung pada pembayaran dari kita,” kata Hoppe kepada CNBC International.

Menurut Hoppe, perusahaan dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan peluang transaksi di platform belanja daring, mengoptimalkan efektivitas iklan digital, serta menangani pertanyaan pelanggan yang bersifat rutin. Dengan otomatisasi tersebut, karyawan dapat lebih berfokus pada pekerjaan yang memerlukan analisis dan penanganan lebih kompleks.

Konsumen pun dapat menikmati manfaat AI secara tidak langsung melalui layanan yang lebih responsif, rekomendasi produk yang relevan, dan proses transaksi yang semakin efisien.

Ekonomi Digital Asia Tenggara Diproyeksikan Terus Tumbuh

Peluang tersebut muncul di tengah pertumbuhan ekonomi digital Asia Tenggara. Berdasarkan laporan yang dikutip dalam bahan ini, nilai barang dan jasa yang diperdagangkan secara bruto atau gross merchandise value (GMV) diperkirakan meningkat 17 persen menjadi US$368 miliar pada 2026.

Nilai ekonomi digital kawasan itu juga diproyeksikan melampaui US$1 triliun pada 2035. Proyeksi tersebut memperlihatkan potensi pasar yang dapat dimanfaatkan perusahaan untuk mengembangkan layanan digital berbasis AI, meskipun realisasinya tetap bergantung pada kondisi pasar dan perkembangan teknologi.

Laporan tersebut turut menunjukkan peningkatan kepercayaan konsumen terhadap agen AI. Sebanyak 75 persen pengguna disebut bersedia membiarkan agen AI mencari harga terbaik dan menyelesaikan pembelian atas nama mereka. Sementara itu, 62 persen responden mengaku lebih percaya terhadap perangkat AI dibandingkan setahun sebelumnya.

Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian konsumen mulai terbuka terhadap penggunaan AI dalam proses belanja, termasuk ketika teknologi tersebut membantu membandingkan produk dan mengambil langkah tertentu dalam transaksi.

AI Berpotensi Meningkatkan Penjualan dan Efisiensi

Bagi pelaku usaha, penggunaan AI bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Penerapannya berpotensi mendukung proses pengambilan keputusan konsumen, meningkatkan efektivitas pemasaran, dan menekan biaya operasional.

Sekitar 69 persen pembeli disebut menggunakan AI untuk membandingkan produk yang memerlukan pertimbangan lebih kompleks, seperti perangkat elektronik. Sejumlah studi kasus awal dalam bahan laporan tersebut juga menunjukkan potensi peningkatan rasio konversi penjualan sebesar 10 persen per tahun serta kenaikan rata-rata nilai belanja per pesanan hingga 75 persen.

Angka tersebut perlu dipahami sebagai hasil atau potensi yang dilaporkan dalam studi kasus, bukan jaminan bahwa setiap perusahaan akan memperoleh peningkatan serupa. Hasil implementasi dapat berbeda bergantung pada jenis bisnis, karakteristik konsumen, dan kualitas sistem yang digunakan.

Salah satu contoh penerapan datang dari Shopee. Platform perdagangan elektronik tersebut disebut telah menggunakan chatbot berbasis AI untuk menangani sekitar 80 persen pertanyaan pelanggan. Penggunaan teknologi ini dilaporkan membantu memangkas biaya per interaksi pelanggan sebesar 30 persen per tahun.

Contoh tersebut menggambarkan bagaimana manfaat finansial AI dapat muncul dari efisiensi layanan, bukan semata-mata dari penjualan akses teknologi kepada pengguna.

Kesenjangan Adopsi Menjadi Peluang Pengembangan

Meski pertumbuhan penggunaan AI di Asia Tenggara berlangsung cepat, tingkat penggunaan per orang di kawasan ini disebut masih sekitar 10 persen dari tingkat penggunaan di Amerika Serikat.

Kesenjangan tersebut membuka ruang pengembangan lebih lanjut bagi perusahaan teknologi maupun pelaku usaha di Asia Tenggara. Peluangnya mencakup peningkatan efisiensi operasional, periklanan digital, perdagangan elektronik, perjalanan daring, transportasi, hingga layanan pesan-antar makanan.

Ke depan, kemampuan perusahaan mengintegrasikan AI ke dalam kebutuhan bisnis sehari-hari akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan nilai ekonomi teknologi tersebut. Tantangannya bukan hanya memperluas jumlah pengguna, tetapi juga memastikan implementasi AI menghasilkan manfaat nyata, terukur, dan berkelanjutan.

Dengan demikian, pertumbuhan adopsi AI di Asia Tenggara menawarkan peluang bisnis yang lebih luas daripada sekadar langganan berbayar. Efisiensi, peningkatan pengalaman pelanggan, dan pertumbuhan transaksi menjadi jalur penting bagi perusahaan untuk mengubah penggunaan AI menjadi nilai ekonomi.

Komentar