Bangkai KM Virgo Masih Sulit Ditembus, Penyelam TNI AL Terus Berpacu

JurnalPatroliNews | Jakarta — Operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8 terus berlanjut dengan memaksimalkan penyelaman ke bagian badan kapal yang karam di perairan Masalembo, Laut Jawa.

Dalam keterangan TNI AL bertanggal Kamis (1/10/2026), tim penyelam TNI AL bersama SAR gabungan melaksanakan empat tahap penyelaman untuk memeriksa sejumlah bagian bangkai kapal yang dinilai masih memungkinkan terdapat korban.

Penyelaman melibatkan personel Satuan Komando Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Satkoppeba) dan Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Koarmada II, bersama Basarnas Special Group (BSG).

Empat Bagian Kapal Jadi Sasaran

Pencarian dilakukan secara bertahap dengan sasaran berbeda.

Pada tahap pertama, penyelam menyisir car deck, dimulai dari bagian buritan hingga menuju haluan. Tim kemudian melanjutkan pemeriksaan pada tahap kedua dengan menyisir deck navigasi dan kawasan cerobong kapal.

Tahap ketiga diarahkan ke bagian anjungan, sebelum penyelaman keempat dilakukan pada deck penumpang kelas ekonomi, kembali dari buritan menuju haluan.

Empat tahapan tersebut menjadi bagian dari pencarian bawah air yang dilakukan secara sistematis terhadap struktur kapal.

Dalam laporan mengenai operasi tersebut, tidak ada korban yang ditemukan dari penyelaman pada bagian-bagian kapal yang diperiksa.

Penyelaman Berlangsung Puluhan Menit

Danguskamla Koarmada II Laksma TNI Edy Setyawan, selaku On Scene Commander dalam operasi kemanusiaan tersebut, menyampaikan setiap tahap penyelaman berlangsung sekitar 30 hingga 32 menit.

Meski belum menemukan korban, seluruh rangkaian operasi disebut berjalan aman dan terkendali.

Bagi tim SAR, kondisi tersebut tidak menghentikan pencarian. Evaluasi terhadap lokasi dan sasaran penyelaman terus dilakukan untuk menentukan bagian kapal maupun sektor lain yang masih perlu diperiksa.

Bangkai Kapal Masih Sulit Ditembus

Pencarian di dalam bangkai KM Virgo Transport 8 menghadapi tantangan teknis.

Basarnas sebelumnya menjelaskan bahwa sejumlah lorong dan akses menuju bagian dalam kapal dalam kondisi tertutup. Posisi kapal yang terbalik juga membuat berbagai benda di dalam kapal berpindah dan berada pada posisi yang menyulitkan penyelam untuk bergerak.

Kondisi badan kapal yang masih dipengaruhi arus dan gelombang turut meningkatkan risiko bagi personel yang melakukan penyelaman.

Karena itu, pencarian tidak dilakukan secara sembarangan. Keselamatan penyelam menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum menentukan titik serta jalur masuk ke dalam bangkai kapal.

57 Korban Masih Dalam Pencarian

Berdasarkan perkembangan Basarnas hingga malam 30 September 2026, dari total 243 orang dalam manifes KM Virgo Transport 8, sebanyak 186 orang telah ditemukan, terdiri dari 108 orang selamat dan 78 orang meninggal dunia.

Dengan demikian, masih terdapat 57 korban yang dalam pencarian. Basarnas mengerahkan lebih dari seribu personel gabungan, termasuk unsur laut, udara, darat serta puluhan penyelam untuk memperkuat operasi.

Data tersebut menjadi salah satu dasar evaluasi untuk menentukan strategi pencarian berikutnya, baik terhadap bangkai kapal maupun wilayah perairan lain yang diperkirakan menjadi lokasi hanyutnya korban.

Pencarian Tidak Hanya Terpusat di Bangkai Kapal

Tim SAR gabungan juga memperluas pencarian ke wilayah lain.

Pada hari ke-18 operasi menurut laporan Basarnas, empat jasad korban ditemukan di wilayah Pantai Lunci, Kabupaten Sukamara, dan Sungai Teruntum, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Tim selanjutnya melakukan penyisiran lanjutan di sekitar lokasi penemuan untuk mencari kemungkinan korban lainnya.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa pencarian KM Virgo Transport 8 dilakukan dalam dua pendekatan sekaligus: pemeriksaan terhadap bangkai kapal dan penyisiran wilayah perairan maupun daratan yang diperkirakan menjadi jalur hanyut korban.

Operasi Berlanjut dengan Evaluasi Harian

Dalam keterangan TNI AL, penyelaman berikutnya dijadwalkan kembali pada Jumat (2/10/2026), dengan sasaran yang disesuaikan berdasarkan evaluasi operasi dan kondisi lapangan.

Setiap hasil penyelaman menjadi bahan untuk menentukan bagian kapal yang perlu diperiksa kembali maupun wilayah baru yang harus mendapat perhatian.

Pola tersebut diperlukan karena kondisi lingkungan bawah laut dapat berubah akibat arus, gelombang, jarak pandang terbatas serta kondisi struktur kapal.

Keselamatan Penyelam Tetap Prioritas

Di tengah tuntutan untuk menemukan seluruh korban, operasi SAR juga menghadapi batas keselamatan personel.

Basarnas telah mengingatkan bahwa beberapa akses ke bagian dalam bangkai kapal masih tertutup dan kondisi kapal yang tidak stabil dapat meningkatkan risiko selama penyelaman.

Karena itu, setiap keputusan penyelaman harus mempertimbangkan kondisi struktur kapal, arus, jarak pandang dan kemampuan akses bagi penyelam.

Prinsip tersebut menjadi penting karena operasi kemanusiaan tidak hanya menargetkan pencarian korban, tetapi juga memastikan personel penyelamat dapat menjalankan tugas tanpa menambah risiko korban baru.

Perjuangan Mencari Korban Terus Dilanjutkan

Penyisiran empat sektor pada 1 Oktober 2026 belum menghasilkan temuan korban dari dalam kapal. Namun pencarian KM Virgo Transport 8 belum berhenti.

TNI AL, Basarnas dan unsur SAR lainnya masih menjalankan pencarian dengan pendekatan bertahap berdasarkan hasil evaluasi di lapangan.

Dengan masih adanya 57 korban yang belum ditemukan menurut data Basarnas, pencarian akan terus diarahkan pada titik-titik yang dinilai memiliki kemungkinan ditemukan korban, baik di sekitar bangkai kapal maupun di wilayah lain yang menjadi jalur hanyut.

Perbedaan penyebutan hari operasi dalam sejumlah laporan juga perlu ditempatkan sesuai sumber masing-masing. Keterangan TNI AL bertanggal 1 Oktober menyebut kegiatan tersebut sebagai hari ke-18, sementara laporan Basarnas menempatkan hari ke-18 pada 30 September. Yang tidak berubah adalah operasi pencarian tetap berlangsung dan seluruh unsur SAR terus melakukan upaya maksimal untuk menemukan korban.

Komentar