Batu Bara dan Sawit Berpotensi Jadi Bahan Baku Petrokimia, Industri Nasional Cari Alternatif Impor

JurnalPatroliNews | Jakarta – Industri petrokimia nasional mulai menghadapi kebutuhan untuk mencari alternatif bahan baku di tengah tantangan pemenuhan bahan baku industri kimia dari dalam negeri. Batu bara dan kelapa sawit disebut berpotensi menjadi sumber alternatif untuk mendukung pengembangan industri petrokimia Indonesia.

Namun, upaya memperkuat kemandirian industri kimia nasional masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar, salah satunya keterbatasan kualitas bahan baku lokal. Kondisi tersebut terlihat pada industri garam yang hingga kini belum sepenuhnya mampu memenuhi spesifikasi teknis untuk kebutuhan industri kloralkali.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, menjelaskan bahwa kandungan magnesium, kalsium, dan boron dalam garam lokal masih relatif tinggi sehingga belum memenuhi persyaratan teknis industri tersebut.

“Kenapa garam Indonesia belum mampu digunakan sebagai bahan baku industri dalam hal ini untuk kloralkali? Karena kandungan MGCA-nya masih tinggi, belum bisa diinstal kami,” kata Fajar dalam Media Gathering Forwin, Sabtu (7/11/2026).

Menurutnya, kandungan zat pengotor tersebut bukan sekadar persoalan kualitas produk, tetapi juga berkaitan langsung dengan aspek keselamatan operasional fasilitas industri.

Dalam proses produksi kloralkali, bahan baku harus memenuhi spesifikasi tertentu. Apabila kandungan zat pengotor melampaui ambang batas, terdapat risiko terjadinya reaksi yang tidak diinginkan di dalam sistem produksi.

“Kalau untuk spesialis untuk kloralkali, concern kami di tiga tadi. Karena itu begitu lewat dari spesifikasi, potensi dia bereaksi dengan oksigen di reaktor, itu lebih mahal biayanya daripada harganya. Itu risikonya berat sekali,” ujarnya.

Biaya Pengolahan Jadi Tantangan Industri

Fajar menjelaskan, persoalan kualitas garam lokal juga berkaitan dengan kondisi sumber air dan tingkat salinitas yang belum memadai untuk menghasilkan bahan baku sesuai standar industri kloralkali.

Secara teknis, garam lokal sebenarnya masih memungkinkan untuk ditingkatkan kualitasnya melalui proses pengolahan atau treatment. Namun, proses tersebut membutuhkan biaya tambahan yang dinilai belum ekonomis bagi kebutuhan industri.

Ia menegaskan, keterbatasan tersebut tidak berarti seluruh produksi garam dalam negeri tidak memenuhi standar industri.

Garam lokal masih dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan lain, termasuk industri farmasi, makanan dan minuman, serta garam konsumsi, sepanjang memenuhi persyaratan mutu masing-masing sektor.

Dengan demikian, persoalan utama terletak pada kesesuaian spesifikasi bahan baku untuk proses produksi kloralkali yang memiliki standar teknis dan keselamatan lebih ketat.

Pemerintah Dorong Investasi Garam Industri

Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian, Sri Bimo Pratomo, mengakui pemenuhan kebutuhan garam industri dalam negeri masih menghadapi tantangan, terutama terkait keterbatasan kapasitas produksi dan teknologi pengolahan.

Menurutnya, sejumlah pelaku industri memang telah mengembangkan produksi garam industri, tetapi jumlah dan kapasitasnya masih belum mencukupi kebutuhan nasional.

“Memang sudah ada beberapa industri, tapi belum cukup jumlahnya yang sudah berusaha untuk ini,” kata Bimo.

Pemerintah, lanjutnya, terus mendorong masuknya investasi baru untuk meningkatkan kapasitas produksi garam industri sekaligus memperkuat kemampuan teknologi pengolahan di dalam negeri.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat rantai pasok industri nasional, terutama di tengah kebijakan penghentian impor garam industri.

Pengembangan fasilitas produksi baru diharapkan dapat meningkatkan kemampuan industri domestik dalam menyediakan bahan baku yang sesuai dengan kebutuhan sektor pengguna.

Batu Bara dan Sawit Jadi Peluang Hilirisasi

Di luar persoalan garam industri, pemanfaatan batu bara dan kelapa sawit sebagai alternatif bahan baku petrokimia juga membuka peluang pengembangan industri hilir nasional.

Batu bara memiliki potensi untuk diolah melalui berbagai teknologi konversi menjadi produk kimia dan bahan baku industri. Sementara itu, kelapa sawit dapat dikembangkan menjadi bahan baku oleokimia yang digunakan dalam berbagai produk industri.

Diversifikasi bahan baku tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap sumber bahan baku konvensional yang selama ini masih bergantung pada rantai pasok tertentu.

Namun, pengembangannya membutuhkan dukungan teknologi, investasi, efisiensi produksi, serta kepastian pasar agar produk yang dihasilkan mampu bersaing secara ekonomi.

Bagi Indonesia, penguatan industri petrokimia tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga kemampuan mengoptimalkan sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi.

Tantangan berikutnya adalah memastikan ketersediaan bahan baku lokal benar-benar diikuti peningkatan kualitas, teknologi pengolahan, dan kesiapan industri pengguna.

Dengan strategi hilirisasi yang terintegrasi, batu bara, kelapa sawit, dan sumber daya mineral lainnya berpotensi menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi industri kimia nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Komentar