PWI Tegaskan Sikap soal Sawit: Dukung Industri, Tapi Kritik Tetap Jalan

JurnalPatroliNews | Yogyakarta — Masa depan industri kelapa sawit Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produksi, tetapi juga oleh sejauh mana sektor tersebut mampu membuktikan tata kelola yang berkelanjutan, ramah lingkungan, berpihak kepada masyarakat dan adaptif menghadapi tekanan perdagangan global.

Persoalan itu mengemuka dalam Workshop Jurnalistik GAPKI dan PWI yang digelar di Yogyakarta, Jumat (28/8/2026). Forum tersebut mempertemukan pengusaha, insan pers dan akademisi untuk membedah posisi strategis sawit sekaligus mengingatkan pentingnya pemberitaan berbasis data dalam mengawal industri komoditas tersebut.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi workshop bukan tanpa alasan. Yogyakarta dikenal bukan sebagai sentra perkebunan kelapa sawit sehingga forum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai keberadaan sawit dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Eddy, produk turunan sawit telah masuk ke berbagai sektor kehidupan, termasuk kebutuhan industri dan konsumsi masyarakat. Ia bahkan mencontohkan penggunaannya dalam berbagai kebutuhan industri batik di Yogyakarta.

Namun di tengah kontribusinya terhadap perekonomian nasional, Eddy menyebut sektor sawit masih menghadapi tantangan regulasi, salah satunya berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan.

Ia mengatakan pelaku usaha yang tergabung dalam GAPKI turut membantu penanganan kebakaran, termasuk ketika api berada di luar wilayah konsesi seperti yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan dan Riau.

Persoalan muncul ketika kebakaran kemudian masuk ke wilayah konsesi. Eddy menyoroti penerapan prinsip strict liability sebagaimana diatur dalam Pasal 88 UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“Apabila terjadi kebakaran—sekalipun titik apinya terbukti dari luar dan masuk ke dalam konsesi—kita otomatis dianggap lalai. Padahal tidak mungkin ada perusahaan atau masyarakat yang sengaja membakar asetnya sendiri,” ujar Eddy.

Ia mengusulkan adanya klausul atau mekanisme pengecualian tertentu dalam penerapan aturan, khususnya ketika menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang meningkatkan risiko kebakaran.

PWI: Pers Jangan Menjadi Corong Industri

Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir menilai industri sawit memiliki posisi strategis yang tidak dapat dilepaskan dari kepentingan ekonomi Indonesia. Namun posisi tersebut bukan alasan bagi media untuk mengurangi fungsi kontrolnya.

Menurutnya, pers harus mampu menyajikan fakta mengenai industri sawit secara utuh di tengah persaingan global yang juga melibatkan pertarungan narasi terkait lingkungan, ketenagakerjaan dan keberlanjutan.

“Tantangan utama industri sawit adalah membuktikan tata kelola yang bermanfaat bagi masyarakat. Dunia sangat membutuhkan kelapa sawit karena ini adalah minyak nabati paling produktif,” kata Akhmad.

Karena itu, ia mendorong jurnalis tidak sekadar mengandalkan pernyataan, tetapi memperkuat pemberitaan dengan data dan fakta empiris.

Praktik industri yang baik perlu mendapat ruang pemberitaan, sementara persoalan lingkungan, ketenagakerjaan maupun tata kelola tetap harus dikritisi.

“Pers harus mengedepankan kepentingan nasional dengan mendukung industri kelapa sawit yang ramah lingkungan, sehat bagi tenaga kerja, dan berkelanjutan. Inilah tugas mulia yang perlu kita kerjakan bersama,” tegasnya.

Sawit Disebut Aset Strategis Indonesia

Guru Besar Universitas Jember Prof. Dr. Ermanto Fahamsyah melihat sawit sebagai salah satu kekuatan ekonomi yang memberikan kontribusi terhadap devisa, lapangan kerja, pangan dan energi.

Namun, besarnya manfaat tersebut menurutnya harus dibarengi dengan pengelolaan yang bertanggung jawab sehingga nilai ekonomi yang dihasilkan tidak hanya dinikmati sebagian pihak.

“Sawit adalah anugerah. Kita harus bersyukur karena komoditas ini memberi kontribusi besar bagi devisa, lapangan kerja, dan ketahanan pangan serta energi nasional. Tugas kita bersama adalah mengelola anugerah ini dengan tata kelola yang baik agar manfaatnya dirasakan seluruh rakyat,” ujarnya.

Sementara itu, Ekonom Senior INDEF sekaligus President of ASAE Prof. Dr. Bustanul Arifin menilai tantangan terbesar ke depan berada di sektor hulu, khususnya perkebunan rakyat.

Menurutnya, peningkatan produktivitas petani menjadi penting untuk mempersempit yield gap. Peremajaan kebun rakyat, sertifikasi keberlanjutan serta penguatan pola kemitraan antara petani, BUMN dan swasta juga harus menjadi prioritas.

“Sawit berkelanjutan adalah keniscayaan nasional, bukan sekadar respons atas desakan luar negeri,” kata Bustanul.

Ia juga menekankan perlunya memperkuat diplomasi internasional, terutama ketika kebutuhan energi domestik meningkat dan aturan perdagangan global semakin ketat.

Kebebasan Pers Harus Berjalan Bersama Kepentingan Nasional

Persoalan pemberitaan sawit kemudian dibahas lebih jauh oleh Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat Agus Sudibyo.

Ia mengatakan kebebasan pers tetap menjadi prinsip utama. Namun, media juga harus memahami bahwa industri sawit memiliki posisi strategis dalam struktur perekonomian Indonesia.

Menurut Agus, sawit memiliki sejumlah peran penting, antara lain sebagai penyumbang devisa, penyerap tenaga kerja, penopang ekonomi daerah, bagian dari pengembangan biodiesel dan ketahanan energi, serta pemasok bahan baku industri pangan dan minyak nabati.

“Kebebasan pers itu universal. Tetapi kesejahteraan nasional itu nilainya lebih tinggi,” ujarnya.

Meski demikian, Agus menegaskan media tidak boleh kehilangan sikap kritis hanya karena sawit dianggap strategis bagi negara.

“Perhatian kita terhadap isu lingkungan dan masalah lainnya terkait sawit minimal harus seimbang dengan apresiasi, pembelaan, dan pengakuan kita bahwa sawit adalah saka guru atau pilar utama perekonomian nasional,” tegasnya.

Menurut Agus, prinsip keseimbangan menjadi penting karena kritik terhadap industri harus tetap diberikan ketika memang terdapat masalah. Pada saat yang sama, pemberitaan juga tidak seharusnya mengabaikan fakta mengenai kontribusi sawit terhadap perekonomian nasional.

Ia menilai negara-negara lain pada dasarnya juga memiliki kepentingan dalam melindungi produk domestiknya di tengah persaingan minyak nabati dunia. Karena itu, jurnalisme Indonesia perlu membaca persoalan sawit bukan hanya dari sisi domestik, tetapi juga dari konteks persaingan global.

“Oleh sebab itu, kebebasan pers, profesionalisme media, dan sikap kritis terhadap industri sawit jangan sampai hilang jika memang ada masalah. Tetapi, kita juga harus semakin sadar mengenai apa kepentingan nasional kita dalam diskursus tentang minyak nabati global,” pungkas Agus.

Workshop tersebut pada akhirnya mempertemukan dua kebutuhan yang tidak seharusnya dipertentangkan: industri membutuhkan ruang untuk menjelaskan kontribusinya, sementara publik membutuhkan pers yang independen untuk menguji setiap klaim dan persoalan yang muncul.

Bagi GAPKI, forum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi dengan insan pers. Sementara bagi PWI, kegiatan itu menjadi pengingat bahwa pemberitaan industri strategis harus dibangun di atas data, verifikasi dan keberimbangan.

Satu hal menjadi benang merah diskusi di Yogyakarta: industri sawit tidak cukup hanya dibela dengan narasi, tetapi harus dibuktikan melalui tata kelola yang transparan, keberlanjutan yang terukur dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Komentar