JurnalPatroliNews | Solo — Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa tantangan baru bagi profesi hubungan masyarakat (humas), terutama dalam menjaga akurasi informasi dan kepercayaan publik.
Persoalan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2026 yang digelar Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) di The Sunan Hotel Solo, Jawa Tengah, Sabtu hingga Minggu (17–18/10/2026).
Ketua Umum Perhumas, Boy Kelana, mengatakan konvensi tahunan tersebut menjadi ruang untuk membahas perkembangan isu komunikasi, tantangan profesi humas, serta strategi menghadapi perubahan lingkungan informasi.
Tahun ini, KHI mengusung tema “Humas sebagai Daya Bangsa, Menenun Kepercayaan, Menggerakkan Indonesia”. Tema tersebut menekankan pentingnya peran humas dalam membangun kepercayaan sekaligus mendukung komunikasi strategis di tengah dinamika nasional dan global.
“Kami menggelar konvensi dan kenapa tahun ini digelar di Kota Solo. Karena sesuai dengan tema yang kami angkat di konvensi kali ini adalah Humas sebagai daya bangsa, menenun kepercayaan, menggerakkan Indonesia. Bagaimana Indonesia ini harus digerakkan oleh humas,” ujar Boy, Sabtu (17/10).
Kepercayaan Publik Tidak Bisa Dibangun Instan
Boy menegaskan, kepercayaan atau trust merupakan fondasi utama dalam praktik kehumasan. Kepercayaan tidak dapat dibentuk melalui komunikasi sesaat, melainkan harus dipelihara secara konsisten melalui penyampaian informasi yang akurat, transparan, dan bertanggung jawab.
Menurutnya, situasi yang semakin kompleks, termasuk dinamika geopolitik dan berbagai persoalan di dalam negeri, menuntut praktisi humas untuk memiliki perspektif yang lebih luas. Peran humas tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memahami konteks dan dampak pesan yang dikomunikasikan kepada masyarakat.
“Dalam berkomunikasi kita harus membangun kepercayaan, apalagi di situasi sekarang yang cukup rumit. Tantangan-tantangan geopolitik yang terjadi di dalam negeri. Bagaimana kita sebagai humas bisa berperan tidak hanya menyebarkan informasi tapi bisa melihat segala sesuatu dalam aspek yang lebih besar lagi,” paparnya.
Boy juga menyoroti perlunya perubahan pendekatan dalam menjalankan profesi humas. Menurutnya, kemampuan menyusun siaran pers saja tidak lagi memadai. Praktisi humas perlu terlibat secara strategis dalam merumuskan pesan, menentukan arah komunikasi, serta mendukung tujuan institusi yang diwakilinya.
AI Buka Peluang, Disinformasi Jadi Ancaman
Selain perubahan peran profesi, perkembangan AI menjadi tantangan yang perlu dihadapi secara cermat. Teknologi tersebut dapat membantu pekerjaan komunikasi, tetapi juga berpotensi disalahgunakan untuk menghasilkan informasi keliru, disinformasi, hingga konten manipulatif seperti deepfake.
Boy mengingatkan bahwa pemanfaatan AI harus disertai pertimbangan etika. Kemudahan teknologi tidak boleh mengesampingkan tanggung jawab dalam memastikan kebenaran informasi yang disampaikan kepada publik.
“Apakah kita menggunakan dengan etika? Apakah tidak dengan memanfaatkan AI terus membuat informasi yang salah, disinformasi, deepfake. Dan kita juga sering lihat sendirilah di platform-platform media sosial pasti ada hal-hal itu. Perlu memilah dan memilih informasi yang benar untuk terus kita sebarkan lagi,” katanya.
Ia menekankan bahwa verifikasi informasi menjadi bagian penting dari tanggung jawab profesi humas. Di tengah derasnya arus konten digital, praktisi kehumasan dituntut mampu memilah informasi, memeriksa kebenaran sumber, serta memastikan pesan yang disebarluaskan tidak menyesatkan masyarakat.
Etika komunikasi, lanjut Boy, harus menjadi landasan dalam setiap aktivitas kehumasan. Dengan menjaga akurasi dan integritas informasi, praktisi humas dapat mempertahankan kredibilitas institusi sekaligus membangun hubungan yang lebih kuat dengan publik.
KHI 2026 Diharapkan Hasilkan Rekomendasi Strategis
Melalui penyelenggaraan KHI 2026 di Solo, Perhumas berharap berbagai gagasan dari konvensi dapat dirumuskan menjadi rekomendasi strategis yang bermanfaat bagi praktisi humas di seluruh Indonesia.
Boy berharap forum tersebut dapat menjadi ruang pertukaran pemikiran untuk memperkuat standar profesionalisme, meningkatkan kualitas komunikasi, serta memberikan panduan dalam menghadapi tantangan industri kehumasan yang terus berkembang.
“Bagaimana kita membangun trust itu. Dengan Konvensi Humas Indonesia 2026 di Kota Solo ini, kita akan bisa mengumpulkan gagasan-gagasan, menghasilkan rekomendasi strategis dan menjadi panduan bagi seluruh humas-humas di Indonesia,” pungkasnya.
Tantangan era AI pada akhirnya menempatkan kepercayaan publik sebagai salah satu aspek penting dalam pekerjaan humas. Penguasaan teknologi perlu berjalan seiring dengan etika, ketelitian dalam memverifikasi informasi, dan tanggung jawab profesional agar komunikasi institusi tetap kredibel.









Komentar