JurnalPatroliNews – Jakarta – Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mengimbau warga agar lebih teliti dalam membeli produk olahan ikan, terutama siomay.
Langkah ini diambil menyusul adanya temuan penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku makanan. Kepala Dinas KPKP DKI, Hasudungan Sidabalok, menekankan pentingnya mengenali ciri fisik dan rasa produk agar konsumen mendapatkan makanan yang sehat dan layak.
Hasudungan menjelaskan bahwa setidaknya ada empat aspek utama yang bisa menjadi panduan masyarakat dalam membedakan siomay berbahan ikan tenggiri dan ikan sapu-sapu.
Dari segi rasa, siomay ikan sapu-sapu cenderung lebih hambar dan terkadang menyisakan cita rasa tanah atau lumpur jika tidak diolah secara higienis. Sebaliknya, ikan tenggiri memberikan rasa gurih alami yang segar khas hasil laut.
Aspek kedua adalah tekstur. Daging ikan sapu-sapu memiliki serat yang relatif lebih kasar dan daya kenyalnya rendah. Hal ini berbeda dengan ikan tenggiri yang menghasilkan tekstur lebih halus, kenyal, dan elastis, sehingga meningkatkan kualitas siomay saat dikunyah.
Selain itu, aroma juga menjadi indikator krusial. Ikan sapu-sapu berpotensi memicu bau amis yang menyengat atau bau lumpur, terutama jika ikan diambil dari perairan yang tercemar, sementara ikan tenggiri memiliki aroma yang lebih bersih dan menggugah selera.
Secara visual, masyarakat juga dapat membedakan keduanya melalui warna produk. Siomay yang menggunakan bahan baku ikan sapu-sapu biasanya terlihat lebih kusam atau cenderung berwarna keabu-abuan.
Adapun siomay berbahan ikan tenggiri akan tampak lebih cerah, bersih, dan menarik secara tampilan. Dinas KPKP memastikan terus melakukan pengawasan ketat setelah berhasil mengamankan sekitar 11,49 ton ikan sapu-sapu di wilayah Jakarta guna menjamin keamanan pangan warga.














