Gara-Gara Omongan SBY, Demokrat ke Pendukung Jokowi: Belajar Dulu, Baca Yang Lengkap Baru Ngegas!

  • Whatsapp
Kredit Foto: Antara/Asprilla Dwi Adha

Omongan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY soal kemiskinan dan pengangguran bikin panas kuping para pendukung Presiden Jokowi.

Emosi mereka terpancing lantaran merasa SBY sedang membandingkan dengan kinerja Jokowi. Mereka pun langsung menyerang SBY.

Bacaan Lainnya

Pidato SBY itu disampaikan saat sidang promosi doktor anak bungsunya, Edhie Baskara Yudhoyono yang kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), yang disiarkan di YouTube, Kamis (10/6). Dalam kesempatan itu, SBY mengenakan jas almamater IPB.

Apa yang disampaikan? Di awal, SBY mengenang pengalamannya saat berkuliah S3 di IPB pada 2004 atau 17 tahun lalu. Kata dia, sama seperti Ibas, ia juga pernah mengikuti sidang terbuka untuk meraih gelar doktor.

Saat itu, SBY mempersiapkan disertasi dengan judul “Upaya Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi, Mengurangi Kemiskinan dan Pengangguran dengan Menggalakkan Pembangunan Pertanian Perdesaan dan Infrastruktur dari Sisi Ekonomi Politik Kebijakan Fiskal”.

Isinya mengenai upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan pengangguran dengan menggalakkan pembangunan pertanian, pedesaan, dan infrastruktur dari sisi ekonomi politik kebijakan fiskal.

Tiga bulan setelah sidang tersebut, kata SBY, kemudian terpilih menjadi presiden. Dan menurut SBY, apa yang dituliskan dalam disertasinya itu kemudian diwujudkan dalam kebijakan ekonomi selama menjabat presiden dua periode dari 2004-2014.

Ia pun bersyukur berbagai kebijakannya itu membuahkan hasil positif. Pengangguran dan kemiskinan berhasil turun dengan drastis. Pertumbuhan ekonomi pun meningkat. “Dan alhamdulillah, sejarah membuktikan, dulu setelah (saya) selesai memimpin, pengangguran kita drop. Kemiskinan kita drop secara signifikan, dan pertumbuhan meningkat dengan baik,” kata SBY.

Omongan SBY itu rupanya bikin panas kuping para pendukung Jokowi. Politisi PPP, Achmad Baidlowi menyebut, SBY tidak fair dan tak objektif dalam membuat perbandingan. “Boleh-boleh saja membandingkannya. Tapi harus apple to apple,” kata Awiek, sapannya.

Menurut dia, saat ini ada pandemi Covid-19. Sementara di era SBY tak ada pandemi. “Kalau mau sama-sama dibandingkan dalam kondisi normal,” ujarnya.

Senada disampaikan politisi PKB Faisol Riza. Kata dia, kinerja SBY dan Jokowi tak bisa dibandingkan lantaran saat ini ada krisis akibat pandemi yang menghantam semua negara. Ia memastikan, pemerintah bekerja keras agar perekonomian tetap berjalan.

Sementara Waketum Gerindra Habiburakhman lebih tenang. Kata dia, SBY memang berhak membanggakan keberhasilan di masa kepemimpinannya. “Meskipun saat itu kami oposisi, tapi Gerindra selalu menghargai setiap pemimpin yang pernah menjabat, termasuk Pak SBY. Kami yakin semua pemimpin berupaya melakukan yang terbaik untuk bangsa ini,” ujarnya.

Politisi senior PDIP, Hendrawan Supratikno bicara lebih luwes. Kata dia, tidak masalah mengenang prestasi. Namun, tidak bisa dibandingkan lantaran setiap periode memiliki kelemahan dan kekuatan masing-masing.

Dia bilang, memang betul ada penurunan kemiskinan dan pengangguran di masa SBY. Hanya saja, Hendrawan memberikan beberapa catatan. Kata dia, selama 10 tahun pemerintahan SBY tak ada badai krisis yang menyulitkan. Ada memang satu dua gelombang, misalnya terjadi 2013 saat Amerika Serikat melakukan kebijakan normalisasi fiskal dan moneternya.

Kata Hendrawan, kemiskinan dan pengangguran di era kepemimpinan Jokowi periode pertama juga menurun. Bukan cuma itu, indeks ketimpangan juga turun. Hanya, di periode kedua, ada pandemi yang datang secara tiba-tiba dan megakibatkan resesi.

Bagaimana tanggapan Demokrat? Wasekjen Demokrat, Irwan Fecho, heran kenapa para pendukung Jokowi pada emosi sehingga mengritik balik SBY. “Apa tidak lihat dulu video saat pak SBY sambutan. Tidak ada satupun diksi atau kalimat yang membandingkan dengan Jokowi. Makanya belajar dulu tentang hubungan nilai kebaruan pada disertasi dengan aplikasinya untuk pembangunan,” kata Irwan, tadi malam.

Staf pribadi SBY yang juga pengurus Demokrat Ossy Dermawan ikutan bicara. Kata dia, SBY sedang tidak membandingkan prestasinya dengan yang sekarang. Untuk apa? Beliau hanya sampaikan dalam Sidang Doktor di IPB bahwa desertasinya di tahun 2004 dapat diterapkannya jadi kebijakan sehingga dapat turunkan kemiskinan dan pengangguran. “Baca dulu yang lengkap baru nge-gas,” kicau @ossydermawan.

Apa yang disampaikan SBY memang tak mengada-ada. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan dan pengangguran menunjukkan tren penurunan selama SBY menjabat. Pada 2014, BPS mencatat angka pengangguran berjumlah 10,25 juta. Di akhir kepemimpinan SBY, jumlah pengangguran mencapai level terendah yakni 7,14 juta orang.

Angka kemiskinan pun mengalami penurunan. Menurut data BPS, jumlah penduduk miskin pada 2004 ada di angka 36,15 juta atau 16,6 persen. Pada September 2014, jumlah penduduk miskin bisa ditekan menjadi 27,73 juta orang, atau 10,96 persen.

Di periode pertama Jokowi, jumlah pengangguran mencapai level terendah pada Februari 2019 yakni 6,89 juta orang. Namun setelah itu naik menjadi 7,1 juta orang di Agustus 2019 dan tembus 9,76 juta orang pada Agustus 2020. Kenaikan itu lantaran ada pandemi. Data BPS terakhir mengungkapkan jumlah pengangguran berkurang menjadi 8,74 juta orang pada Februari 2021.

Begitu juga dengan kemiskinan. Di era Jokowi untuk pertama kali tingkat kemiskinan mencapai satu digit yaitu 9,8 persen atau sekitar 26 juta yakni pada Maret 2018. Namun, pada September 2020, tingkat kemiskinan kembali ke dua digit sebesar 10,19 persen, dengan jumlah penduduk miskin mencapai 27,55 juta orang.

 

 

Pos terkait