JurnalPatroliNews – Purwokerto – Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) memperkuat fondasi spiritual bagi generasi muda di tengah arus globalisasi yang semakin pesat. Langkah tersebut diwujudkan melalui forum diskusi bertajuk “Ramadan Bersama Gen Z Lintas Negara” yang digelar pada 7–8 Maret 2026.
Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara untuk mendiskusikan strategi internasionalisasi kampus sekaligus penguatan nilai spiritual dalam kurikulum pendidikan tinggi.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Amien Suyitno mengatakan, forum tersebut kembali diselenggarakan di Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto karena kampus tersebut dinilai berhasil menarik minat mahasiswa asing dari berbagai negara.
Menurutnya, internasionalisasi kampus kini menjadi salah satu prioritas utama pemerintah dalam pengembangan pendidikan tinggi keagamaan Islam.
Salah satu langkah strategis yang tengah disiapkan adalah program fast track yang memungkinkan mahasiswa menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister hanya dalam waktu lima tahun. Program ini dirancang bagi mahasiswa berprestasi dari dalam maupun luar negeri dengan dukungan skema beasiswa tertentu.
Forum tersebut juga menyoroti inovasi kurikulum melalui penerapan Love-Based Curriculum atau Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Direktur Diktis Sahiron menegaskan bahwa nilai spiritual harus menjadi fondasi utama dalam proses pembelajaran.
Ia menjelaskan bahwa KBC dirancang untuk memperkuat akal sekaligus rohani agar manusia mampu mengelola emosi dan membangun kehidupan yang harmonis.
“Spiritualitas tidak hanya berhenti pada teori, tetapi harus menjadi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menurut Sahiron, nilai tersebut dimulai dari kecintaan kepada Sang Pencipta yang kemudian berkembang menjadi kepedulian sosial terhadap sesama manusia dan lingkungan.
Selain penguatan spiritual, Kementerian Agama juga mendorong kepemimpinan generasi muda melalui program Akademi Kepemimpinan Mahasiswa Nasional (AKMINAS). Sepanjang 2025, program ini telah melibatkan sekitar 1.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam.
Kemenag juga membuka peluang karier global bagi lulusan perguruan tinggi keagamaan Islam dengan menyediakan ijazah dalam versi bahasa Inggris dan Arab. Langkah ini diharapkan dapat mempermudah alumni dalam melanjutkan studi maupun berkarier di tingkat internasional.
Sementara itu, Rektor UIN Saizu Purwokerto Ridwan memaparkan visi kampusnya melalui tagline “Kampus Desa Mendunia”. Saat ini UIN Saizu telah menampung 56 mahasiswa asing dari 17 negara dan menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 117 mahasiswa internasional pada 2027.
Untuk mencapai target tersebut, kampus tengah menyiapkan berbagai langkah strategis, termasuk pengajuan penilaian QS Stars dengan target tiga bintang, serta persiapan untuk masuk dalam QS World University Rankings dan mengikuti pemeringkatan Times Higher Education pada 2027.
Selain itu, UIN Saizu juga memperluas kolaborasi global melalui program international teaching yang melibatkan dosen dari 22 negara. Kampus tersebut juga menjalankan sepuluh riset internasional sepanjang tahun ini serta merencanakan pembangunan pusat riset baru untuk memperkuat kapasitas penelitian.
Program mobilitas mahasiswa turut diperluas melalui kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) dan praktik pengalaman lapangan (PPL) di sejumlah negara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina.
Kegiatan talkshow lintas negara tersebut ditutup dengan buka puasa bersama yang menjadi simbol kebersamaan sekaligus praktik nyata moderasi beragama dan persaudaraan global di lingkungan kampus.














