Sindiran Pedas Trump untuk Keir Starmer: “Kami Tidak Butuh Bantuan Setelah Perang Menang”

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu ketegangan diplomatik dengan sekutu terdekatnya.

Melalui unggahan di platform Truth Social pada Sabtu (8/3), Trump secara sepihak mengklaim kemenangan Amerika Serikat dalam konflik melawan Iran dan secara terang-terangan menolak bantuan militer dari Inggris.

Pernyataan keras ini muncul setelah Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menunjukkan sikap hati-hati dengan menahan dukungan langsung terhadap operasi militer AS di kawasan Timur Tengah.

Hubungan kedua negara dilaporkan memburuk setelah London memblokir penggunaan pangkalan militer Inggris oleh pasukan AS untuk melancarkan serangan ke wilayah Iran.

Trump menilai keraguan Starmer telah merusak hubungan spesial (special relationship) yang selama ini terjalin antara Washington dan London.

Ia menyindir langkah Inggris yang baru mempertimbangkan keterlibatan militer saat situasi sudah dianggap terkendali oleh AS.

“Kami tidak membutuhkan orang yang bergabung dalam perang setelah kami sudah memenangkannya,” tulis Trump dengan nada provokatif.

Tolak Kiriman Kapal Induk

Trump juga menanggapi laporan mengenai rencana Inggris mengirimkan dua kapal induk ke Timur Tengah guna membantu stabilitas kawasan.

Dengan tegas, Trump menyatakan bahwa bantuan tersebut tidak lagi diperlukan dan menegaskan bahwa AS mampu menghadapi Teheran sendirian.

Lebih lanjut, Trump memberikan peringatan bahwa dirinya tidak akan melupakan sikap Inggris yang dianggap enggan memberikan dukungan sejak awal operasi militer dijalankan.

“Saya akan mengingat kurangnya dukungan Inggris selama konflik dengan Iran,” tegas sang Presiden.

Pembelaan London

Di sisi lain, pemerintah Inggris membela sikap hati-hati yang diambil oleh PM Keir Starmer. Berdasarkan laporan Reuters, London menyatakan bahwa setiap keputusan untuk terlibat dalam konflik bersenjata harus melalui pertimbangan aspek hukum internasional dan strategi keamanan yang matang.

Sikap Inggris ini mencerminkan upaya untuk menghindari eskalasi perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, meski harus berisiko memicu kemarahan dari sekutu utamanya di Gedung Putih.

Hingga saat ini, ketegangan antara Trump dan Starmer diprediksi akan terus membayangi koordinasi keamanan global di masa depan.