Mengapa Houthi Terus Serang Arab Saudi pada 2026? Ini Akar Konfliknya

JurnalPatroliNews | Jakarta — Serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi kembali meningkat pada September 2026. Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik Yaman yang sempat mereda dalam beberapa tahun terakhir belum benar-benar menemukan penyelesaian politik.

Pada 24 September 2026, Houthi mengklaim melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah target di Arab Saudi, termasuk Riyadh dan fasilitas Saudi Aramco di Yanbu. Pada saat yang sama, otoritas Saudi menyatakan telah mencegat enam rudal balistik yang mengarah ke wilayah Taif dan Yanbu. Klaim mengenai serangan ke Riyadh dan adanya kerusakan di sejumlah lokasi belum seluruhnya dikonfirmasi pemerintah Saudi.

Eskalasi tersebut berlangsung ketika kawasan Timur Tengah masih berada dalam tekanan akibat konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Reuters melaporkan bahwa sejak pecahnya konflik pada Februari 2026, Iran dan kelompok-kelompok yang bersekutu atau sejalan dengannya di kawasan semakin terlibat dalam rangkaian aksi balasan terhadap kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya.

Lantas, mengapa Houthi terus menjadikan Arab Saudi sebagai salah satu sasaran tekanan militernya?

Konflik Yaman Menjadi Akar Utama

Houthi, yang secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah, merupakan gerakan yang berakar pada komunitas Zaydi di Yaman bagian utara. Gerakan tersebut berkembang menjadi kekuatan politik dan militer sebelum mengambil alih Sanaa pada 2014.

Perebutan kekuasaan itu kemudian berkembang menjadi perang saudara. Pada 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer yang melakukan intervensi untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan menghadapi ekspansi Houthi. Intervensi tersebut membuat konflik domestik Yaman berubah menjadi perang regional dengan keterlibatan sejumlah negara.

Sejak saat itu, Riyadh dipandang Houthi bukan lagi sekadar negara tetangga, tetapi salah satu pihak utama yang mendukung lawan politik dan militer mereka di Yaman.

Karena itu, serangan lintas batas terhadap wilayah Saudi menjadi salah satu instrumen yang digunakan Houthi untuk memberikan tekanan terhadap Riyadh.

Gencatan Senjata Meredakan Konflik, Bukan Menyelesaikannya

Pada April 2022, pemerintah Yaman, koalisi pimpinan Saudi dan Houthi menyepakati gencatan senjata yang antara lain mencakup penghentian operasi ofensif lintas batas. Perserikatan Bangsa-Bangsa saat itu menyebut kesepakatan tersebut sebagai peluang penting untuk meredakan konflik dan memperbaiki kondisi kemanusiaan.

Namun, gencatan senjata tersebut tidak menghasilkan penyelesaian politik permanen.

Front konflik memang relatif lebih tenang dalam beberapa tahun berikutnya, tetapi persoalan mendasar seperti pembagian kekuasaan, ekonomi, akses terhadap pendapatan negara, status wilayah dan masa depan pemerintahan Yaman tetap belum terselesaikan.

Karena itu, ketika situasi regional kembali memburuk pada 2026, konflik lama dengan mudah kembali memperoleh dimensi militer.

Saudi Tetap Menjadi Target Strategis

Bagi Houthi, tekanan terhadap Saudi mempunyai dimensi politik sekaligus militer.

Arab Saudi merupakan negara yang pernah memimpin intervensi langsung terhadap mereka. Riyadh juga menjadi pendukung penting pemerintah Yaman yang berhadapan dengan Houthi.

Dalam konflik sebelumnya, serangan Houthi ke Saudi antara lain menggunakan rudal dan drone terhadap fasilitas militer, infrastruktur energi dan sasaran strategis. Hubungan tersebut membuat setiap eskalasi di Yaman berpotensi kembali merembet ke wilayah Saudi.

Pada September 2026, Saudi bahkan mengeluarkan peringatan keamanan yang lebih luas setelah serangkaian serangan yang dikaitkan dengan Houthi. Reuters juga melaporkan adanya ancaman terhadap jalur ekspor minyak Saudi di kawasan Laut Merah.

Laut Merah dan Bab el-Mandeb Menjadi Titik Kunci

Persoalan lain yang membuat konflik ini jauh lebih besar daripada perang darat di Yaman adalah posisi geografis Houthi.

Kelompok tersebut menguasai wilayah yang cukup luas di Yaman bagian barat, termasuk kawasan pesisir Laut Merah. Dari wilayah itu, mereka memiliki kemampuan untuk memberikan tekanan terhadap lalu lintas laut yang menuju atau keluar dari Bab el-Mandeb.

Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Bagi Saudi, jalur tersebut semakin strategis ketika gangguan di Selat Hormuz membatasi pilihan rute ekspor energi.

Situasi ini membuat serangan terhadap kapal atau kepentingan Saudi memiliki konsekuensi ekonomi yang jauh melampaui medan perang Yaman.

Reuters pada September melaporkan meningkatnya biaya asuransi risiko perang bagi kapal tanker yang berhubungan dengan Saudi di Laut Merah. Gangguan tersebut terjadi ketika Riyadh berupaya mengandalkan jalur Laut Merah untuk mempertahankan arus ekspor minyak setelah gangguan di kawasan Hormuz.

Tekanan Ekonomi sebagai Instrumen Konflik

Bagi Houthi, serangan terhadap kepentingan Saudi tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan dampak militer.

Tekanan terhadap infrastruktur energi, kapal dan jalur pelayaran dapat meningkatkan biaya ekonomi yang harus ditanggung Riyadh. Dengan demikian, konflik dapat diproyeksikan menjadi alat tawar dalam pertarungan politik dan negosiasi yang berkaitan dengan masa depan Yaman.

Dalam perkembangan terbaru, Houthi juga mengklaim menyerang fasilitas Saudi Aramco di Yanbu. Otoritas Saudi mengonfirmasi pencegatan rudal menuju wilayah tersebut, tetapi tidak segera mengonfirmasi seluruh klaim Houthi mengenai serangan dan kerusakan di lokasi.

Perbedaan antara klaim pihak yang menyerang dan konfirmasi pihak yang menjadi sasaran menjadi bagian penting dalam membaca perkembangan konflik secara hati-hati.

Seberapa Besar Peran Iran?

Hubungan Houthi dengan Iran merupakan salah satu faktor yang paling sering dibahas dalam konflik ini.

Council on Foreign Relations mencatat bahwa Iran merupakan pendukung internasional utama Houthi dan telah dikaitkan dengan penyediaan bantuan militer. Namun, para ahli juga menilai hubungan tersebut tidak sesederhana hubungan komando langsung, karena Houthi memiliki agenda dan kepentingan politiknya sendiri di Yaman.

Temuan Conflict Armament Research pada 2026 memperlihatkan bahwa jaringan persenjataan Houthi mencakup komponen asal Iran. CAR mendokumentasikan lebih dari 800 komponen rudal dan kendaraan udara nirawak yang diperoleh dari penyitaan maritim dan menemukan bukti adanya material yang berasal dari Iran. Lembaga tersebut juga mencatat semakin banyak komponen yang dapat dirakit menjadi sistem senjata di Yaman.

Artinya, terdapat bukti mengenai dukungan material dan teknologi kepada Houthi, tetapi hubungan tersebut tetap perlu dibedakan dari anggapan bahwa setiap operasi Houthi merupakan perintah langsung dari Teheran.

Mengapa Eskalasi Kembali Terjadi pada 2026?

Konteks 2026 membuat konflik Yaman kembali terhubung dengan persaingan regional yang lebih luas.

Reuters melaporkan bahwa setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026 serta gencatan senjata sementara pada April, ketegangan tetap berlangsung. Kelompok-kelompok yang bersekutu atau sejalan dengan Iran, termasuk jaringan di Yaman, ditempatkan dalam posisi siap merespons perkembangan kawasan.

Dalam kondisi tersebut, Houthi memiliki dua kepentingan yang berjalan bersamaan.

Pertama, mempertahankan posisi dan pengaruhnya dalam konflik internal Yaman. Kedua, menggunakan kemampuan militer dan posisi geografisnya untuk memberikan tekanan terhadap Saudi dan kepentingan regional yang dianggap berkaitan dengan lawan mereka.

Eskalasi di Laut Merah kemudian bertemu dengan persoalan energi global, terutama karena gangguan di Hormuz membuat setiap ancaman terhadap jalur Laut Merah menjadi semakin sensitif.

Konflik Yaman Kini Terhubung dengan Keamanan Energi Dunia

Serangan Houthi terhadap Saudi pada 2026 menunjukkan bahwa konflik Yaman tidak lagi dapat dibaca hanya sebagai pertarungan antara satu kelompok bersenjata dengan pemerintah Yaman.

Ada sedikitnya empat lapisan yang saling berkelindan: perebutan kekuasaan di Yaman, sejarah intervensi Arab Saudi, persaingan regional Saudi-Iran, serta pertarungan atas jalur perdagangan dan energi di Laut Merah.

Dampaknya juga tidak berhenti di kawasan.

Peringatan penerbangan Eropa pada 30 September 2026 terhadap wilayah udara Saudi menunjukkan bahwa eskalasi tersebut telah menghasilkan konsekuensi keamanan yang lebih luas. Reuters juga melaporkan bahwa ancaman terhadap jalur ekspor minyak Saudi dan meningkatnya risiko pelayaran di Laut Merah telah menjadi perhatian pasar energi.

Dengan demikian, serangan Houthi terhadap Arab Saudi pada 2026 bukan semata-mata kelanjutan permusuhan lama. Konflik tersebut merupakan persimpangan antara perang saudara Yaman, kepentingan keamanan Saudi, jaringan dukungan regional dan posisi strategis Bab el-Mandeb.

Selama belum tercapai kesepakatan politik yang mampu menyelesaikan sengketa utama di Yaman serta meredakan rivalitas regional, jalur konflik masih terbuka untuk kembali mengalami eskalasi.

Komentar