Menkeu Suahasil Buka Target Baru Ekonomi RI, Semester II Dibidik Tembus 5,5 Persen

JurnalPatroliNews | Jakarta — Pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di atas 5,5 persen pada semester II 2026. Sasaran tersebut menjadi pijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional bergerak menuju level 6 persen.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemerintah masih melihat ruang bagi ekonomi Indonesia untuk tumbuh kuat pada kuartal III dan IV 2026, meski kondisi perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian.

“Saya yakin di kuartal III dan IV, di setengah tahun kedua ini, kita masih bisa tumbuh di atas 5,5 persen, dan ini merupakan pertumbuhan yang cukup baik,” kata Suahasil di Jakarta, dikutip Sabtu (26/9/2026).

Optimisme tersebut muncul setelah ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan 5,45 persen pada semester I 2026. Berdasarkan data BPS, ekonomi pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan, setelah pada kuartal I mencatat pertumbuhan 5,61 persen.

Target 6 Persen Masih Dibidik

Suahasil mengatakan pemerintah tetap memiliki aspirasi untuk membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju angka 6 persen.

Namun, ia mengakui pencapaian tersebut membutuhkan upaya yang tidak ringan, terutama karena perekonomian domestik masih berhadapan dengan dinamika ekonomi dan geopolitik global.

“Kalau aspirasi kita menuju 6 persen. Pada kondisi dunia seperti ini, kita lihat bagaimana gerak ekonomi Indonesia,” ujar Suahasil.

Pemerintah karena itu tidak hanya mengandalkan momentum pertumbuhan, tetapi juga berupaya menjaga sejumlah indikator fundamental agar tetap berada dalam kondisi yang mendukung ekspansi ekonomi.

Inflasi Jadi Salah Satu Perhatian

Salah satu indikator yang menjadi perhatian pemerintah adalah inflasi.

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indonesia secara tahunan pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen, dengan inflasi bulanan sebesar 0,21 persen dan inflasi tahun kalender 1,86 persen.

Suahasil menekankan pentingnya menjaga inflasi agar tetap terkendali sehingga daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi dapat terus berjalan.

Selain inflasi, pemerintah juga memantau laju pertumbuhan ekonomi dan kredit sebagai indikator yang menggambarkan aktivitas perekonomian.

Menurut Suahasil, pertumbuhan ekonomi perlu dipertahankan di atas 5,45 persen, sementara pertumbuhan kredit diharapkan berada di sekitar 13 persen.

“Ini adalah indikator-indikator yang baik buat fundamental kita, juga APBN-nya berjalan dengan baik,” tandasnya.

Semester I Jadi Modal untuk Semester II

Kinerja ekonomi sepanjang semester I menjadi salah satu dasar pemerintah melihat prospek pertumbuhan pada paruh kedua tahun ini.

Pada kuartal I 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Pertumbuhan kemudian berada di level 5,29 persen pada kuartal II.

Secara kumulatif, ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi masih berada di kisaran 5 persen lebih meskipun terdapat perlambatan pada kuartal II.

Pemerintah kini berharap momentum tersebut dapat dijaga sekaligus diperkuat pada dua kuartal terakhir 2026.

APBN dan Sinergi Fiskal-Moneter

Upaya mendorong pertumbuhan juga dibarengi dengan penguatan koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia.

Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia pada 24 September 2026 menegaskan perlunya memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Suahasil mengatakan koordinasi akan terus diperkuat, termasuk melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Kementerian Keuangan juga menyatakan kebijakan fiskal perlu tetap kredibel sekaligus mampu menjaga momentum pertumbuhan, melindungi masyarakat dan membuka ruang bagi investasi.

Dalam pembahasan RAPBN 2027, pemerintah dan Badan Anggaran DPR juga menyepakati asumsi pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 6 persen.

Dengan demikian, angka 6 persen bukan hanya menjadi aspirasi pertumbuhan pada periode mendatang, tetapi juga tercermin dalam sasaran ekonomi makro yang disepakati untuk tahun anggaran berikutnya.

Menjaga Fundamental di Tengah Ketidakpastian

Pemerintah menyadari tantangan untuk menjaga pertumbuhan tetap tinggi tidak hanya berasal dari dalam negeri.

Perubahan kondisi ekonomi global, dinamika geopolitik dan volatilitas pasar keuangan dapat memengaruhi perdagangan, investasi, nilai tukar maupun aktivitas ekonomi domestik.

Karena itu, menjaga fundamental menjadi bagian penting dari strategi pemerintah.

Inflasi yang terkendali, pertumbuhan kredit, keberlanjutan aktivitas sektor riil serta APBN yang tetap kredibel menjadi sejumlah indikator yang terus dipantau.

Pemerintah berharap kombinasi kebijakan fiskal dan moneter dapat menjaga daya tahan ekonomi sekaligus menciptakan ruang bagi pertumbuhan yang lebih tinggi.

Dengan target pertumbuhan di atas 5,5 persen pada semester II dan aspirasi menuju 6 persen, kinerja ekonomi pada kuartal III dan IV 2026 akan menjadi salah satu penentu penting terhadap capaian pertumbuhan nasional sepanjang tahun.

Komentar