Panglima Jilah Gandeng Habib Abu Djibril, Hujan Jadi Harapan Redakan Karhutla

JurnalPatroliNews | Kalimantan — Panglima Jilah gandeng Habib Abu Djibril Basyaiban dan sejumlah tokoh masyarakat serta ulama dalam ikhtiar membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Kolaborasi tersebut menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan, ajakan menjaga kebersamaan, serta pendekatan spiritual melalui doa dan munajat.

Dalam keterangan yang disampaikan pada Kamis (29/10/2026), Habib Abu Djibril mengapresiasi kepedulian Panglima Jilah terhadap kondisi Kalimantan, khususnya wilayah yang terdampak kebakaran dan kabut asap.

Menurut Habib Abu Djibril, upaya membantu masyarakat menghadapi karhutla perlu dilakukan melalui kebersamaan, termasuk mengajak tokoh agama dan masyarakat berdoa memohon pertolongan Tuhan Yang Maha Esa.

Ia menyebut hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan pada Rabu (28/10/2026) sebagai “hujan rahmat” yang disambut dengan rasa syukur oleh masyarakat. Menurutnya, hujan tersebut diharapkan membantu mengurangi dampak kebakaran yang telah berlangsung selama musim kering.

Panglima Jilah Ajak Tokoh Masyarakat dan Ulama Bersinergi

Panglima Jilah merupakan pemimpin Pasukan Merah dari organisasi masyarakat adat Dayak Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR). Ia sebelumnya bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada 28 Agustus 2026 untuk membahas penanganan karhutla di Kalimantan Barat.

Dalam pertemuan itu, Panglima Jilah menyampaikan perlunya dukungan pemerintah untuk mempercepat penanganan kebakaran, termasuk penguatan personel dan sarana pendukung pemadaman. Pemerintah juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat adat yang memahami wilayah dan kondisi hutan setempat.

Setelah pertemuan tersebut, Panglima Jilah disebut terus mengupayakan keterlibatan berbagai unsur masyarakat dalam membantu penanganan karhutla. Selain koordinasi dan dukungan di lapangan, ia juga menggandeng tokoh agama untuk memperkuat kepedulian sosial dan mengajak masyarakat menghadapi kondisi sulit secara bersama-sama.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa kebakaran hutan dan lahan merupakan persoalan yang membutuhkan perhatian banyak pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat adat, relawan, tokoh agama, hingga warga yang tinggal di sekitar kawasan terdampak.

Habib Abu Djibril Sebut Doa sebagai Ikhtiar Spiritual

Habib Abu Djibril Basyaiban menuturkan bahwa kepedulian Panglima Jilah terhadap kondisi Kalimantan menjadi alasan dirinya turut bersinergi dalam upaya tersebut.

Menurutnya, sebagai kalangan santri, doa dan munajat kepada Tuhan merupakan bagian dari ikhtiar ketika menghadapi persoalan. Ia menjelaskan bahwa pendekatan spiritual tersebut dijalankan bersama kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.

“Alhamdulillah, hujan rahmat mengguyur Kalimantan. Puncaknya hari Rabu, hampir seluruh masyarakat Kalimantan merasakan kebahagiaan dengan turunnya hujan sehingga dapat meredakan karhutla,” ujar Habib Abu Djibril.

Ia mengungkapkan bahwa dalam tradisi keagamaan Islam, umat diajarkan untuk berdoa dan memohon pertolongan Allah SWT ketika menghadapi kesulitan. Salah satu bentuk ikhtiar yang dikenal saat terjadi kekeringan adalah salat istisqa, yakni salat untuk memohon turunnya hujan.

Habib Abu Djibril juga menekankan bahwa doa perlu dilakukan dengan kesungguhan dan mengikuti tuntunan agama. Menurutnya, kebersamaan serta ketertiban dalam menjalankan suatu upaya menjadi bagian penting untuk mencapai tujuan bersama.

Pandangan tersebut merupakan keyakinan spiritual yang disampaikan Habib Abu Djibril. Sementara itu, penyebab turunnya hujan dan pengaruhnya terhadap penurunan karhutla perlu dinilai secara terpisah berdasarkan data meteorologi serta laporan penanganan kebakaran.

Hujan di Kalimantan Disambut sebagai Harapan

Hujan yang turun di sejumlah wilayah Kalimantan menjadi kabar yang disambut dengan harapan di tengah upaya penanganan karhutla.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan potensi hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang di sejumlah wilayah Kalimantan Barat pada 28 Oktober 2026. BMKG juga memasukkan Kalimantan Barat dan beberapa wilayah Kalimantan lainnya dalam prakiraan peningkatan peluang hujan pada periode akhir Oktober.

Meski demikian, peringatan cuaca tersebut merupakan informasi mengenai potensi hujan di wilayah tertentu. Data itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa hujan telah turun merata di seluruh Kalimantan ataupun memastikan bahwa seluruh titik karhutla telah padam.

Dampak hujan terhadap kebakaran bergantung pada intensitas dan durasi curah hujan, kondisi lahan, jenis vegetasi, serta karakteristik gambut di wilayah terdampak. Pada lahan gambut yang telah mengering, api juga dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul apabila kondisi masih memungkinkan terjadinya pembakaran.

Karena itu, hujan dapat membantu mengurangi kekeringan dan mendukung proses pemadaman di sejumlah lokasi, tetapi pemeriksaan lapangan, pemantauan titik panas, serta upaya pemadaman tetap diperlukan untuk memastikan kondisi kebakaran terkendali.

Penanganan Karhutla Membutuhkan Upaya Bersama

Karhutla dapat menimbulkan dampak luas, termasuk kerusakan hutan, pencemaran udara, gangguan kesehatan, dan terganggunya kegiatan masyarakat. Risiko tersebut dapat meningkat ketika kekeringan berlangsung lama dan vegetasi menjadi mudah terbakar.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, pendekatan spiritual dan solidaritas sosial dapat berjalan berdampingan dengan upaya teknis. Penanganan di lapangan tetap membutuhkan pemadaman titik api, pemantauan wilayah rawan, kesiapan personel, dukungan peralatan, serta koordinasi antara pemerintah dan masyarakat.

Keterlibatan masyarakat adat juga berperan dalam menyampaikan informasi mengenai kondisi wilayah dan membantu mengidentifikasi lokasi yang memerlukan perhatian. Sementara itu, tokoh agama dapat mendorong solidaritas, mengajak masyarakat saling membantu, dan memperkuat kepedulian terhadap warga terdampak.

Panglima Jilah dan Habib Abu Djibril berharap kebersamaan tersebut terus terjaga dalam menghadapi persoalan lingkungan di Kalimantan.

Jaga Silaturahmi dan Nilai Kebangsaan

Habib Abu Djibril menyatakan akan terus bersinergi dengan Panglima Jilah, termasuk menjalin silaturahmi dengan pesantren-pesantren dan memperkuat hubungan dengan masyarakat.

Ia juga mengajak masyarakat menjaga nilai-nilai kebangsaan, termasuk Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Undang-Undang Dasar 1945.

Menurutnya, persatuan dan kepedulian terhadap sesama perlu terus dijaga ketika masyarakat menghadapi persoalan bersama, termasuk kebakaran hutan dan lahan serta dampak kabut asap.

Kolaborasi antara masyarakat adat, tokoh agama, pemerintah, dan berbagai elemen masyarakat diharapkan dapat memperkuat kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membantu warga yang terdampak.

Harapan untuk Kalimantan

Panglima Jilah dan Habib Abu Djibril Basyaiban berharap upaya bersama yang dilakukan dapat memperkuat kepedulian masyarakat terhadap penanganan karhutla di Kalimantan.

Bagi Habib Abu Djibril, doa dan munajat merupakan bagian dari ikhtiar spiritual yang dijalankan bersama usaha nyata untuk membantu masyarakat. Ia berharap hubungan dengan pesantren dan tokoh masyarakat terus berkembang agar semangat kebersamaan tetap terjaga.

Sementara itu, perkembangan penanganan karhutla tetap perlu dipantau berdasarkan data resmi mengenai titik api, kondisi cuaca, kualitas udara, dan laporan petugas di lapangan.

Turunnya hujan di sejumlah wilayah memberikan harapan bagi masyarakat yang menghadapi musim kering. Namun, memastikan karhutla benar-benar terkendali membutuhkan kerja berkelanjutan, dukungan pemerintah, keterlibatan masyarakat, serta upaya pencegahan agar kebakaran tidak kembali terjadi.

Dengan semangat kebersamaan tersebut, para pihak berharap Kalimantan dapat segera pulih dari dampak karhutla dan masyarakat kembali menjalankan aktivitas dengan kondisi lingkungan yang lebih baik.

Komentar