Pelatihan Kerja Internasional untuk 1.280 Lulusan Jabar, Skill hingga Mental Ditempa

JurnalPatroliNews | Bandung — Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai memperkuat strategi menyiapkan generasi muda menghadapi persaingan pasar kerja internasional. Sebanyak 1.280 lulusan SMA, SMK, dan MA asal Jawa Barat lolos seleksi mengikuti Program SMK Go Global.

Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kompetensi lulusan sekaligus membuka akses mereka menuju pasar kerja global.

Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan peserta akan menjalani pelatihan di sejumlah lembaga vokasi dan perguruan tinggi yang menjadi mitra program.

Beberapa lokasi pelatihan di antaranya Balai Latihan Kerja Kabupaten Garut, Universitas Indonesia (UI), Migran Center Universitas Teknologi Bandung (UTB), Migran Center Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, STIKES Budi Luhur, serta Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) Bandung.

Materi pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja. Peserta akan mendapatkan pembekalan operasional produksi, manufaktur, bahasa Inggris serta keterampilan teknis lainnya.

“Ini skema kolaborasi yang keren, di mana kementerian yang terkait dengan perguruan tinggi, pemerintah dan perguruan tinggi berkolaborasi untuk mempersiapkan anak-anak kita ikut di bursa kerja global melalui program SMK Go Global,” ujar Herman usai menghadiri Kick Off Program SMK Go Global di Universitas Teknologi Bandung, Rabu (26/8/2026).

Skill Tidak Cukup, Bahasa Asing Jadi Bekal

Khusus di UTB, sebanyak 180 lulusan SMA, SMK dan MA dari sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Barat mengikuti pelatihan teknis.

Program tersebut juga diikuti peserta dari Banjarnegara, Jawa Tengah.

Di lokasi tersebut, peserta mendapatkan pelatihan bahasa Inggris, Korea dan Jepang. Selain bahasa asing, materi yang diberikan mencakup operasional produksi, manufaktur hingga keperawatan.

Pola pelatihan tersebut diarahkan agar peserta tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kompetensi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja di negara tujuan.

Bagi pemerintah daerah, kemampuan komunikasi dan keterampilan teknis menjadi dua modal penting yang harus berjalan beriringan ketika lulusan ingin bersaing di tingkat internasional.

Pemprov Jabar Ingin Perluas Akses

Herman mengatakan program tersebut tidak boleh berhenti pada sejumlah perguruan tinggi yang saat ini terlibat.

Pemprov Jabar berencana memperluas jejaring kolaborasi dengan perguruan tinggi negeri dan swasta di seluruh wilayah Jawa Barat.

“Dan kita akan hajar terus, kita akan perluas bukan hanya beberapa perguruan tinggi. Kita akan dorong semua perguruan tinggi negeri dan swasta,” katanya.

Jejaring perguruan tinggi swasta melalui Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) juga akan diperkuat.

Kolaborasi kemudian akan diperluas ke pemerintah daerah hingga tingkat kecamatan dan desa atau kelurahan.

Herman menyebut Pemprov Jabar ingin membangun sistem yang membuat akses pelatihan, pembiayaan dan kesempatan kerja semakin dekat dengan masyarakat.

“Kita akan kolaborasi dengan 27 kabupaten/kota, 627 kecamatan, 5.927 desa/kelurahan. Pokoknya kita akan kolaborasi dengan semua komponen, bahu membahu untuk memastikan Jabar 2029 itu tidak ada anak muda yang nganggur,” ujarnya.

Pelatihan Tak Boleh Berakhir Jadi Seremoni

Herman mengingatkan agar pelaksanaan program tidak hanya berorientasi pada terselenggaranya pelatihan.

Menurutnya, keberhasilan harus dilihat dari manfaat nyata yang diterima peserta setelah program selesai.

“Harapannya bukan hanya formalitas pelatihan dua bulan, kemudian SPJ, karena ini anggarannya APBN. Tapi harus jelas output, outcome, benefit, impact,” tegasnya.

Karena itu, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh sertifikat pelatihan, tetapi memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan industri dan dapat digunakan untuk memperoleh pekerjaan.

Pemerintah juga mendorong agar pengalaman bekerja di luar negeri dapat menjadi modal ekonomi jangka panjang bagi peserta.

Pulang Bawa Pengalaman, Bukan Sekadar Gaji

Herman melihat peluang bekerja di luar negeri bukan semata-mata sebagai jalan memperoleh pendapatan.

Peserta yang memiliki karier baik dan mampu mengumpulkan tabungan diharapkan dapat membawa pulang pengalaman serta modal untuk membangun usaha ketika kembali ke Indonesia.

“Kalau di sana kariernya bagus, silakan. Kalau sudah punya tabungan, silakan kembali, jadi entrepreneur, jadi pengusaha di sini dengan modal yang memadai dan pengalaman kerja di luar negeri,” tutur Herman.

Dengan pola tersebut, tenaga kerja yang berangkat ke luar negeri tidak hanya diposisikan sebagai pencari pekerjaan, tetapi juga sebagai calon pelaku usaha yang dapat membawa pengalaman internasional kembali ke daerah asal.

Mental Peserta Ikut Ditempa

Herman juga menekankan pentingnya kesiapan mental.

Menurutnya, tantangan bekerja di luar negeri tidak cukup dihadapi hanya dengan kemampuan teknis. Peserta perlu memiliki disiplin, daya tahan, kemampuan beradaptasi dan pola pikir yang siap menghadapi lingkungan kerja baru.

“Pelatihannya harus super serius dan yang paling penting ada spirit dari anak-anaknya untuk maju. Pola pikirnya dibangun, mental model-nya harus diberdayakan, jangan pantang menyerah karena di sana itu berat,” katanya.

Karena itu, pelatihan diharapkan dapat membangun karakter sekaligus kompetensi peserta.

Akses Jadi Kunci

Herman menilai persoalan pengangguran tidak dapat diselesaikan hanya dengan membuka pelatihan.

Yang lebih penting adalah memastikan anak muda memiliki akses menuju peningkatan kompetensi, pembiayaan, kesempatan kerja hingga penempatan.

“Kalau semua orang punya akses untuk meningkatkan kapasitas, punya akses untuk mendapatkan permodalan, punya akses untuk bisa bekerja di mana pun, di dalam dan di luar negeri bahkan, saya kira anak-anak kita bisa bersaing. Yang penting aksesnya,” ujarnya.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membuka akses tersebut.

Pelatihan tidak seharusnya hanya menjadi domain Dinas Ketenagakerjaan. Perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha hingga pemerintahan di tingkat lokal perlu terlibat dalam menciptakan ekosistem pengembangan tenaga kerja.

“Aksesnya diperluas, bukan hanya oleh Disnaker. Diinisiasi dan difasilitasi juga oleh perguruan tinggi. Semua anak muda di Jabar punya akses untuk mendapatkan pelatihan, bahkan nanti permodalan, termasuk penempatannya juga,” kata Herman.

Bidik Pengangguran Turun

Program SMK Go Global pada akhirnya ditempatkan sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia Jawa Barat.

Herman optimistis pola kolaborasi yang dilakukan secara konsisten dapat memperbesar kesempatan kerja sekaligus mendorong penurunan pengangguran dan kemiskinan.

“Kalau ini konsisten dilakukan, pengangguran pasti turun, kemiskinan pasti turun,” pungkasnya.

Dengan 1.280 lulusan yang masuk dalam tahap awal program, Pemprov Jawa Barat kini menghadapi tantangan berikutnya: memastikan pelatihan benar-benar menghasilkan kompetensi, membuka jalan menuju penempatan kerja, dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi para peserta.

Sebab, ukuran keberhasilan SMK Go Global bukan berhenti ketika pelatihan selesai, tetapi ketika lulusan benar-benar mampu memasuki dunia kerja, bersaing secara profesional, dan memiliki masa depan ekonomi yang lebih baik.

Komentar