Pemerintah Kena Kritik Karena Nafsu Mengejar Pertumbuhan Ekonomi: Terlalu Bermain-main dengan Nyawa

  • Whatsapp
Foto: Antara/Aprillio Akbar

JurnalPatroliNews, Jakarta – Managing Director Political Economy & Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menilai pengendalian Covid-19 saat ini terbilang gagal dan ekonomi negara menuju kolaps.

Menurutnya, di dalam ekonomi pandemi, semakin pertumbuhan ekonomi dikejar, maka kesehatan akan semakin tertinggal.

BACA JUGA :

“Pemerintah semakin mengejar pemulihan ekonomi, maka kita akan semakin tertinggal. Karena kesehatan itu akan semakin dalam, tidak akan tuntas,” ujarnya dalam diskusi virtual Narasi Institute, Jumat (9/7/2021).

Anthony menolak dalih pemerintah yang mengatakan Indonesia minim anggaran. Ia memandang pernyataan tersebut tidak bisa menjadi alasan faktor kegagalan penanganan pandemi karena Vietnam yang memiliki kekayaan lebih rendah daripada Indonesia berhasil mengatasi pandemi.

“Jadi kalau kita lihat pemerintah memang tidak capable, tidak menunjukkan bahwa mampu menangani pandemi. Saya menggunakan kata-kata ini biar pemerintah bangun. Kalau pake kata-kata kurang tajam ya tidur terus,” tukasnya.

Kemudian, Anthony meninjau kembali upaya pemerintah menghadapi pandemi selama ini. Pemerintah seringkali melakukan pembatasan sosial sebagai upaya menekan angka kasus Covid-19. Akan tetapi, Anthony melihat pemerintah selalu menghentikan kebijakan sebelum Covid-19 benar-benar bisa ditangani.

Misalnya pada PSBB pertama di 10 April-4 Juni 2020 lalu, kebijakan dihentikan dengan alasan ingin mengejar pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga. Padahal angka kasus pada saat ini belum menunjukkan penurunan.

“Kenapa direm? Begitu direm itu naik sampai 3 ribu. Harusnya di sini kalau kita kontrol bener maka kita bisa seperti Vietnam. Tapi karena ekonomi, untuk mengejar ekonomi, karena sudah bulan Juni kita mau pertumbuhan Q3 tidak drop, maka kita buka untuk ekonomi,” paparnya.

Kejadian yang sama terulang lagi pada periode Idulfitri 2021 lalu. Meskipun ada larangan mudik, namun tempat pariwisata tetap dibuka sehingga terjadi kerumunan masif di berbagai lokasi.

“Ini ekonomi lebaran di atas penderitaan rakyat. Ini (kerumunan) di masa pandemi bisa begini. Apakah ini pemimpin yang bertanggung jawab? Nah di sinilah, ekonomi pandemi semakin dikejar semakin anjlok. Apalagi kita tadi mengatakan ada varian delta dan sebagainya, ini pintu masuk varian baru demi ekonomi ini dilepas,” kata Anthony.

Akan tetapi, lanjut Anthony, hingga sejauh ini pemimpin atau pejabat selalu mengatakan segala upaya menghadapi pandemi masih tertangani dengan baik, tidak ada yang meminta maaf kepada rakyat. Terlebih, Anthony menilai kondisi semakin diperparah dengan kartel penguasa dan pengawas, di mana DPR sudah tidak lagi berperan sebagai pengawas.

Pada akhirnya, kartel itu telah memakan ratusan ribu nyawa.

“Kalau kita lihat ini mereka bermain-main dengan nyawa, dengan nafsu mengejar pertumbuhan ekonomi yang kemudian membawa malapetaka ke kita semua,” kritiknya.

Anthony menilai perbaikan ekonomi tidak akan bisa terjadi jika virus belum tertangani. Justru jika penanganan virus semakin baik, maka ekonomi otomatis juga akan membaik tanpa perlu dikejar.

“Nah di mana pandemi memburuk, apalagi fasilitas kesehatan sudah banyak yang kolaps, akan membuat ekonomi memburuk. Bahwa fiskal kita akan kolaps,” tambahnya.

Anthony menegaskan ekonomi negara yang mampu mengontrol pandemi mengalami pertumbuhan yang baik. “Jadi, pengontrolan pengendalian pandemi akan berkolerasi positif dengan pertumbuhan ekonomi.”

(wte)

Pos terkait