Prasetyo Hadi Ungkap Capaian OMC, Kalbar Catat 107 Sorti Penerbangan

JurnalPatroliNews | Jakarta – Pemerintah terus mengintensifkan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia melalui operasi modifikasi cuaca (OMC). Berbagai langkah dilakukan, mulai dari penebaran garam atau natrium klorida (NaCl) hingga penggunaan dry ice untuk mendukung pembentukan hujan di wilayah sasaran.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa operasi tersebut telah dilaksanakan di sejumlah provinsi yang terdampak karhutla. Pemerintah, menurutnya, mengerahkan berbagai upaya untuk membantu mengatasi kebakaran sekaligus mengurangi dampaknya terhadap masyarakat.

“Ya, kita semua berusaha sekeras-kerasnya, semua dilakukan,” kata Prasetyo kepada wartawan, Selasa (20/10/2026).

Dalam pemaparannya, Prasetyo merinci pelaksanaan OMC di Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. Setiap wilayah memiliki catatan penerbangan, jumlah material yang ditebar, serta laporan curah hujan yang berbeda.

Sumatera Selatan dan Lampung

Di Sumatera Selatan, operasi modifikasi cuaca telah berlangsung sejak 16 Oktober 2026 melalui Posko Palembang. Hingga laporan disampaikan, tercatat delapan sorti penerbangan dengan penebaran 1.600 kilogram garam dan 4.000 kilogram dry ice.

Prasetyo menyebut pelaksanaan OMC di Sumatera Selatan menunjukkan hasil positif berupa penurunan konsentrasi partikel halus PM2.5 dan peningkatan jarak pandang atau visibility.

Sementara itu, dari Posko Lampung, operasi berlangsung pada 15–18 Oktober 2026. Selama periode tersebut, enam sorti penerbangan dilaksanakan dengan total penebaran 4.800 kilogram dry ice.

Langkah tersebut menjadi bagian dari dukungan pemerintah dalam mengupayakan kondisi atmosfer yang mendukung penanganan karhutla di wilayah terdampak.

Kalimantan Tengah Catat Puluhan Sorti Penerbangan

Di Kalimantan Tengah, operasi modifikasi cuaca telah dilaksanakan sejak 26 Agustus 2026. Berdasarkan keterangan Prasetyo, sebanyak 48 sorti penerbangan dilakukan dengan total penebaran 43.800 kilogram garam.

Selama pelaksanaan kegiatan tersebut, volume curah hujan yang dilaporkan mencapai 67,45 juta meter kubik.

Dukungan operasi di wilayah Kalimantan Tengah juga dilakukan melalui Posko Bantuan Kalimantan Selatan. Dari posko ini, tercatat dua sorti penerbangan dengan penebaran 800 kilogram dry ice dan 800 kilogram garam.

Prasetyo mengatakan, laporan lapangan serta pengamatan melalui alat penakar hujan AWS/ARG mencatat terjadinya hujan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kapuas, Gunung Mas, dan Barito Timur.

Kalimantan Selatan Kerahkan Dua Pesawat

Untuk Kalimantan Selatan, OMC telah berjalan sejak 10 Oktober 2026. Hingga laporan disampaikan, sebanyak 23 sorti penerbangan dilakukan dengan menebarkan total 23.000 kilogram garam.

Dalam operasi tersebut, dua unit pesawat dikerahkan untuk mendukung pelaksanaan modifikasi cuaca. Pemerintah melaporkan volume curah hujan yang dihasilkan selama kegiatan mencapai 222,67 juta meter kubik.

Hujan juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, di antaranya Kabupaten Tabalong, Tapin, dan Barito Kuala.

Data tersebut menjadi bagian dari laporan pelaksanaan operasi, meskipun dampak terhadap pemadaman karhutla tetap perlu dilihat berdasarkan kondisi lapangan dan perkembangan titik kebakaran.

Kalimantan Barat Catat 107 Sorti Penerbangan

Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat pelaksanaan OMC sejak 22 Agustus 2026. Menurut Prasetyo, hingga laporan disampaikan telah dilakukan 107 sorti penerbangan dengan total penebaran 98.800 kilogram garam.

Volume curah hujan yang dilaporkan selama kegiatan tersebut mencapai 471,2 juta meter kubik.

Untuk kejadian hujan pada 19 Oktober 2026, laporan mencakup sejumlah wilayah, yakni Kabupaten Sanggau, Kubu Raya, Sambas, Landak, Kayong Utara, Pontianak, Bengkayang, Kapuas Hulu, Ketapang, serta Kota Singkawang.

Pemerintah Lanjutkan Upaya Penanganan Karhutla

Rangkaian operasi modifikasi cuaca tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk membantu penanganan karhutla di berbagai daerah. Penebaran material dilakukan sebagai bagian dari strategi teknis yang pelaksanaannya bergantung pada kondisi atmosfer dan analisis tim terkait.

Pemerintah juga menghadapi tantangan untuk memastikan bahwa upaya peningkatan curah hujan memberikan dukungan nyata bagi wilayah yang membutuhkan penanganan kebakaran.

Laporan mengenai curah hujan, kualitas udara, dan jarak pandang menjadi sejumlah indikator yang dapat digunakan untuk memantau perkembangan kegiatan. Namun, keberhasilan penanganan karhutla secara keseluruhan tetap perlu dinilai bersama data titik api, luas area terbakar, kondisi cuaca, serta dampak yang dirasakan masyarakat.

Melalui koordinasi lintas instansi dan pemantauan berkelanjutan, operasi modifikasi cuaca diharapkan dapat mendukung langkah penanganan karhutla sekaligus membantu mengurangi risiko terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Komentar