JurnalPatroliNews | Jakarta – Otoritas Pasar Energi Singapura atau Energy Market Authority (EMA) menyatakan pengurangan pasokan gas alam dari Indonesia diperkirakan tidak berdampak signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan energi negara tersebut. Meski demikian, salah satu pemasok gas utama Singapura mengakui penyaluran kepada sejumlah pelanggan telah terdampak pengurangan pasokan sementara.
Dalam keterangannya kepada The Straits Times pada Sabtu (24/10/2026), EMA menyebut pengurangan pasokan yang diterima importir Singapura mencapai 17 miliar British thermal unit per hari (BBTUD) selama 18 hari. Jumlah tersebut kurang dari 2 persen dari total kebutuhan gas harian Singapura yang mencapai lebih dari 1.000 BBTUD.
“EMA memahami bahwa importir kami akan menempuh semua langkah yang tersedia dalam kontrak mereka terkait gangguan pasokan gas ini,” kata juru bicara EMA, sebagaimana dikutip The Straits Times.
EMA juga menegaskan telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi gangguan pasokan. Menurut otoritas tersebut, Singapura pernah mengalami pengurangan pasokan gas akibat pemeliharaan terencana maupun mendesak dalam beberapa bulan terakhir, tetapi kekurangan itu dapat ditutup melalui sumber pasokan lainnya.
Singapura andalkan sumber gas alternatif
Singapura mengandalkan gas alam untuk menghasilkan sekitar 95 persen listriknya. Pasokan selama ini berasal dari jaringan pipa yang terhubung dengan Indonesia dan Malaysia, serta impor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari berbagai negara.
Untuk menjaga keandalan energi, EMA menyatakan Singapura memiliki sumber pasokan alternatif yang dapat dimanfaatkan apabila pengiriman melalui pipa mengalami gangguan.
Singapore GasCo, perusahaan yang menangani pengadaan dan penyaluran gas alam di Singapura, disebut siap meningkatkan impor apabila diperlukan. Perusahaan pembangkit listrik juga diwajibkan mempertahankan cadangan bahan bakar yang memadai, termasuk solar, untuk membantu menjaga kontinuitas pasokan listrik.
Selain mengandalkan gas dari berbagai negara, Singapura terus mengembangkan diversifikasi energi. Upaya tersebut mencakup pengembangan energi surya serta penelitian terhadap teknologi nuklir dan panas bumi.
Meski EMA menilai dampak pengurangan pasokan relatif terbatas, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa penyesuaian tersebut tetap dirasakan sebagian pelaku usaha.
Pemasok gas akui penyaluran pelanggan terdampak
Gas Supply, salah satu pemasok gas utama di Singapura yang dimiliki sepenuhnya oleh Temasek, menyatakan pengurangan sementara pasokan dari pemasok hulunya di Indonesia telah memengaruhi penyaluran gas kepada sejumlah pelanggan.
Perusahaan tersebut mengatakan telah berkomunikasi langsung dengan pelanggan yang terdampak dan terus berkoordinasi dengan pemasok hulu untuk menangani situasi tersebut.
Perbedaan antara pernyataan EMA dan pengakuan Gas Supply menunjukkan bahwa dampak pengurangan pasokan dapat berbeda menurut skala kebutuhan dan kontrak masing-masing importir. Secara agregat, EMA menilai volume yang berkurang masih dapat ditutup dari sumber lain, sementara sebagian pelanggan tetap merasakan gangguan penyaluran.
Indonesia kurangi ekspor gas 31 BBTUD
Sebelumnya, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengumumkan pengurangan ekspor gas alam Indonesia ke Singapura mulai Sabtu (24/10/2026).
Djoko menjelaskan pengurangan tersebut berasal dari dua wilayah pasokan, yakni Natuna sebesar 15 BBTUD dan Sumatra sebesar 16 BBTUD. Dengan demikian, total pengurangan ekspor yang diumumkan Indonesia mencapai 31 BBTUD.
“Mulai besok (Sabtu 24/10), kita kurangi ekspor gas ke Singapura. Dari Natuna 15 BBTUD, dari Sumatera 16 BBTUD,” kata Djoko, pada 24 Oktober 2026.
Khusus pasokan dari Sumatra, pengurangan alokasi berasal dari Wilayah Kerja (WK) Jambi Merang. Djoko juga menyatakan penyesuaian tersebut hanya menyasar ekspor ke Singapura karena jaringan pipa ekspor yang dimaksud terhubung langsung dengan negara tersebut.
Pemerintah ingin prioritaskan kebutuhan domestik
Kebijakan penyesuaian ekspor gas tersebut berlangsung di tengah dorongan pemerintah Indonesia untuk menata kembali alokasi gas bumi agar kebutuhan dalam negeri dapat terpenuhi secara optimal, termasuk untuk mendukung industri dan program hilirisasi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, sebelumnya menyoroti besarnya porsi produksi gas yang masih diekspor. Berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam laporan terkait, sekitar 30 persen produksi gas nasional diekspor, sedangkan 70 persen digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Penataan alokasi gas menjadi salah satu isu penting dalam menjaga keseimbangan antara penerimaan ekspor, ketahanan energi nasional, dan ketersediaan bahan baku bagi industri domestik.
Di sisi lain, pengurangan pasokan kepada mitra dagang juga berkaitan dengan komitmen kontrak dan hubungan komersial antarpihak. Karena itu, perkembangan selanjutnya akan bergantung pada pelaksanaan penyesuaian pasokan, pemenuhan kewajiban kontraktual, serta kemampuan para importir mengamankan sumber alternatif.
Bagi Singapura, EMA menyatakan pasokan energi masih mencukupi dan langkah antisipasi telah tersedia. Namun, pengakuan Gas Supply bahwa sebagian pelanggannya terdampak memperlihatkan bahwa kecukupan pasokan nasional tidak selalu berarti seluruh penyaluran bebas dari gangguan.















Komentar