Memaknai dan Mengambil Hikmah dari Penjajahan dan Kemerdekaan Indonesia
Oleh: Kolonel Inf. (Purn) Eko Ismadi.
17 Agustus 1945 adalah sebuah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pada hari itu terjadi sebuah peristiwa besar yang diakui oleh bangsa Indonesia sebagai karunia, anugerah, dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, yakni bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Semenjak itulah bangsa Indonesia tidak lagi menjadi bangsa yang terjajah, dikuasai, dan ditindas oleh bangsa lain. Indonesia menjadi sebuah bangsa yang memiliki identitas kebangsaan, negara, dan pemerintahan, serta dapat duduk dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia, seperti Amerika, Inggris, Prancis, Jerman Barat, dan Rusia.
Sekarang kita telah menjalani kehidupan sebagai bangsa yang merdeka selama 81 tahun. Sebuah perjalanan hidup yang tidak sebentar. Ibarat kehidupan manusia, usia Negara Republik Indonesia sudah tidak muda lagi, tetapi telah cukup dewasa. Sebuah kehidupan yang memiliki kemandirian, kekuatan jiwa spiritual yang kuat, serta rasa kebangsaan yang kokoh.
Negara Republik Indonesia dapat diibaratkan sebagai sebuah proses kehidupan manusia. Ada benih yang dikandung, lahir, tumbuh, berkembang, dan kemudian lestari. Untuk itu, manakala kita memahami sejarah nasionalisme Indonesia, pemikiran tersebut harus berorientasi pada upaya melestarikan Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pola pikir dalam memahami sejarah Proklamasi 17 Agustus 1945 dalam rangka melestarikan Negara Republik Indonesia dapat dijelaskan melalui beberapa pertanyaan: Bagaimana memahami sejarah Proklamasi Indonesia? Bagaimana memaknai Proklamasi 17 Agustus 1945? Bagaimana mengambil hikmah dari penjajahan di Indonesia? Bagaimana sejarah menjadi kekuatan spiritual nasionalisme Indonesia?
MEMAHAMI SEJARAH PROKLAMASI INDONESIA
Generasi muda Indonesia saat ini banyak yang belum memahami sejarah Proklamasi Indonesia. Sejarah yang dipelajari di sekolah saat ini lebih banyak membahas peristiwa yang terjadi pada 17 Agustus 1945 serta peran Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Proklamator.
Bila kita memahami perjalanan sejarah nasionalisme Indonesia, Republik Indonesia yang diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta tersebut didahului oleh sebuah proses yang dapat disebut sebagai embrio Proklamasi Indonesia.
Pada kenyataannya, sebelum terbentuk Republik Indonesia, lahir terlebih dahulu nama Indonesia, bangsa Indonesia, politik Indonesia, serta Sumpah Pemuda sebagai bagian dari perjalanan menuju Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
1. Sebutan Indonesia
Sekalipun bukan bagian langsung dari Proklamasi, munculnya sebutan Indonesia menjadi tonggak dan tumpuan pertama bagi bangsa Indonesia. Karena tanpa sebutan Indonesia, kita tidak akan menjadi bangsa dan memiliki negara seperti sekarang ini.
Siapa yang menyebut Indonesia? Bukan orang Indonesia, tetapi orang Inggris.
Nama “Indonesia” berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu Indus yang berarti India dan nesos yang berarti pulau. Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1850 oleh ilmuwan Inggris George Windsor Earl dan James Richardson Logan dalam jurnal ilmiah untuk menyebut kepulauan Nusantara yang dahulu dijajah Belanda dengan nama Hindia Belanda.
2. Proklamasi Pertama Bangsa Indonesia kepada Dunia: Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara dapat melakukan hal tersebut karena adanya politik balas budi pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1901.
Politik balas budi atau Politik Etis merupakan kebijakan resmi pemerintah kolonial Belanda yang dimulai pada tahun 1901. Kebijakan ini bertujuan membalas jasa rakyat Nusantara karena dianggap telah memberikan keuntungan ekonomi bagi Belanda. Hal tersebut diwujudkan melalui tiga program utama, yaitu irigasi, edukasi, dan emigrasi.
Pada masa itu, bangsa Indonesia mendapatkan sejumlah fasilitas umum dari pemerintah Belanda, seperti transportasi, pengairan pertanian, gedung pendidikan, serta kesempatan untuk keluar negeri. Kebijakan pemerintah Hindia Belanda tersebut memberikan kesempatan kepada pemuda Indonesia untuk belajar di Belanda.
Ketika menjadi mahasiswa di Belanda, Ki Hajar Dewantara memahami dirinya sebagai orang yang tinggal di Indonesia. Kemudian, beliau mengumumkan kepada dunia bahwa dirinya adalah orang Indonesia, yaitu Indonesia yang dimaksud oleh ilmuwan Inggris George Windsor Earl dan James Richardson Logan.
3. Proklamasi Kedua: Peristiwa Kebangkitan Nasional Indonesia melalui Budi Utomo
Lahirnya organisasi Budi Utomo menjadi bagian penting dalam perjalanan kebangkitan nasional Indonesia.
Kebangkitan nasional merupakan titik awal bagi bangsa Indonesia untuk bangkit dan memiliki jiwa nasionalisme, persatuan, serta kesatuan yang tinggi. Masa ini merupakan periode ketika rakyat Indonesia mulai sadar akan pentingnya persatuan, kesatuan, dan perjuangan untuk meraih kemerdekaan dari penjajahan.
Kebangkitan Nasional 1908 ditandai dengan berdirinya Budi Utomo atau Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.
Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 memproklamasikan kepada dunia bahwa nama Indonesia merupakan bagian dari nasionalisme orang Indonesia. Pada masa itu, istilah bangsa Indonesia belum disebutkan secara spesifik dalam kehidupan masyarakat.
Nasionalisme dapat diartikan sebagai cara dan paham bangsa Indonesia untuk menumbuhkembangkan kehidupan kebangsaan dan mencapai tujuan kehidupan kebangsaannya. Kemudian, cara dan paham tersebut disebut politik.
Dihadapkan dengan peristiwa Kebangkitan Nasional, politik Indonesia adalah politik nasionalisme. Dengan peristiwa ini, bangsa lain dapat memahami bahwa orang Indonesia adalah sebuah bangsa yang memiliki tujuan dan cara untuk mencapai tujuan kehidupannya.
Indonesia yang dimaksud Budi Utomo dalam nasionalisme adalah Indonesia yang disebutkan oleh Ki Hajar Dewantara.
4. Proklamasi Ketiga: Sumpah Pemuda
Dengan Sumpah Pemuda, bangsa Indonesia memproklamasikan nasionalisme Indonesia yang telah diproklamasikan oleh Budi Utomo pada tahun 1908.
Sumpah Pemuda lahir pada 28 Oktober 1928 dari Kongres Pemuda II di Jakarta. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh kesadaran kaum terpelajar bahwa perjuangan yang bersifat kedaerahan gagal mengusir penjajah. Para pemuda dari berbagai suku dan agama akhirnya bertekad bersatu membentuk identitas nasional demi kemerdekaan Indonesia.
Apa yang diproklamasikan dalam Sumpah Pemuda?
Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Putra-putri Indonesia yang dimaksud dalam Sumpah Pemuda adalah termasuk putra-putri yang disebutkan oleh Ki Hajar Dewantara. Tanah Air Indonesia yang dimaksud dalam Sumpah Pemuda adalah tanah air yang dipahami oleh Ki Hajar Dewantara dan didapat dari penyebutan oleh ilmuwan Inggris.
Bahasa Indonesia yang digunakan dalam Sumpah Pemuda juga sama dengan bahasa yang ditulis dalam penerbitan majalah Ki Hajar Dewantara di Belanda. Begitu pula bahasa yang digunakan oleh Budi Utomo.
5. Proklamasi Keempat: Proklamasi 17 Agustus 1945
Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan peristiwa yang menampilkan Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Proklamator Indonesia.
Tidak bisa dipungkiri bahwa beliau berdua memiliki andil dan peranan yang sangat besar. Terutama Bung Karno yang dapat disebut sebagai perintis perjuangan kemerdekaan, pejuang kemerdekaan, simbol perjuangan bangsa Indonesia, simbol pemersatu bangsa Indonesia, serta simbol kekuatan nasional Indonesia.
Kenapa disebut Proklamasi Keempat?
Karena yang melatarbelakangi pengetahuan Soekarno tentang nasionalisme dan kebangsaan Indonesia berasal dari sejarah yang dilahirkan oleh para pendahulunya dalam kehidupan kebangsaan Indonesia, terutama Ki Hajar Dewantara dan Budi Utomo.
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia lahir berkat kecerdasan Soekarno dan kekuatan spiritual yang menyertai dirinya. Beliau tidak sekadar mengandalkan pengetahuan dari bangku kuliah, tetapi juga belajar dari kemampuan bergaul dengan tokoh-tokoh bangsa yang hidup pada masa itu.
Oleh karena kemampuan spiritualnya tersebut, tokoh dan negarawan Jepang pun menghormati dan menghargai Soekarno, bukan sekadar sebagai tokoh atau pemimpin bangsa, tetapi juga sebagai seseorang yang memiliki kedudukan dan posisi terhormat sekelas Kaisar Jepang.
Catatan: Ketika Soekarno diajak mengunjungi pangkalan militer Jepang di Vietnam, Panglima Militer Jepang memberikan hormat kepada Bung Karno.
Bung Karno juga belajar dari penjajah Jepang. Beliau belajar tentang negara, perjuangan kemerdekaan melalui perang bersenjata, menumbuhkan cinta tanah air, membela tanah air, rela berkorban, simbol perjuangan, dan identitas negara, terutama Bendera Merah Putih.
Dari hasil pembelajaran tersebut, Soekarno dapat menyatukan pendapat dan persepsi tentang kemerdekaan serta mendapatkan dukungan sebagian besar rakyat dan bangsa Indonesia.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah sebuah proklamasi yang melanjutkan, melengkapi, mengakhiri, dan menyukseskan perjuangan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka.
Indonesia memiliki wilayah sebagai negara yang berdaulat, memiliki pemerintahan yang berdaulat, serta menjadi bangsa yang memiliki identitas yang setara dengan bangsa mana pun di dunia.
HIKMAH DARI PENJAJAHAN
Dalam logika berpikir, kita pasti berkata bahwa penjajah itu jahat dan kejam. Itu betul sekali. Tidak ada yang menyangkal pernyataan tersebut.
Sekalipun demikian, kita sebagai orang beriman diingatkan untuk menerima segala sesuatu yang terjadi dalam hidup dengan mengambil hikmah, manfaat, dan pelajaran yang bisa diambil.
Pelajaran bermanfaat yang dapat kita ambil dari penjajahan dalam kehidupan bangsa Indonesia adalah bahwa dari penjajahan Belanda kita belajar hidup berbangsa dan bernegara. Kita mendapatkan pengetahuan tentang hukum, manajemen pemerintahan, dan aturan kepegawaian.
Sedangkan dari Jepang, kita belajar ilmu kemiliteran dan ketentaraan, cinta tanah air, serta rela berkorban. Bila Jepang tidak datang ke Indonesia, belum tentu Indonesia merdeka pada tahun 1945.
MEMAHAMI SEJARAH UNTUK MELESTARIKAN INDONESIA
Sebuah pemahaman sejarah harus didasarkan pada pemikiran nasionalisme Indonesia. Bahwa kemerdekaan dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 adalah berkat dan rahmat Tuhan, bukan semata-mata karya manusia dan bukan hanya hasil usaha manusia.
Fakta sejarah menulis bahwa sebelum proklamasi pun Bung Karno melakukan ritual ke beberapa makam leluhur dan raja-raja, serta bertemu dengan berbagai ulama untuk meminta dukungan agar dapat memerdekakan bangsa Indonesia.
Memahami sejarah bangsa Indonesia harus berdasarkan Bhinneka Tunggal Ika, bukan sekadar kebhinekaan.
Terlihat memang bagus jika berbicara mengenai kebhinekaan. Tetapi sikap yang didasarkan pada kebhinekaan justru dapat menumbuhsuburkan sikap intoleran dalam kehidupan komponen bangsa. Karena berbeda-beda, maka membiarkan adanya perbedaan tanpa memedulikan perbedaan dengan yang lain.
Ideologi bangsa Indonesia adalah Pancasila yang tertulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang diresmikan pada tanggal 18 Agustus 1945. Bukan Pancasila yang bisa diubah-ubah atau disederhanakan, dan bukan pula Pancasila yang mengistimewakan salah satu pemeluk agama di Indonesia.
Demikian tulisan ini saya akhiri. Tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna. Ulasan ini masih belum lengkap dan masih perlu penambahan. Semua terjadi karena keterbatasan halaman sehingga uraian dalam tulisan ini kita batasi.
Sebagai bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya, dan sebagai bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mampu memahami sejarah nasionalisme bangsanya untuk tujuan melestarikan bangsa dan negaranya.
Salam NKRI.










Komentar