Pariwisata Regeneratif: Jalan Baru Bali Menjaga Desa, Budaya, dan Alam

Oleh: Dr. Trisno Nugroho, S.E., MBA

Bali tidak pernah kekurangan pesona. Alamnya indah, budayanya kuat, masyarakatnya ramah, dan tradisinya tetap hidup di tengah arus perubahan zaman.

Namun, justru karena begitu dicintai dunia, Bali juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kunjungan wisatawan terus meningkat, ruang semakin padat, sampah menjadi persoalan serius, air dan lahan menghadapi tekanan, sementara budaya lokal harus terus dijaga agar tidak sekadar menjadi tontonan.

Di tengah kondisi tersebut, Bali membutuhkan cara pandang baru dalam membangun pariwisata. Tidak cukup lagi hanya bertanya berapa banyak wisatawan datang, berapa hotel terisi, atau berapa besar transaksi ekonomi tercipta.

Pertanyaan yang lebih penting hari ini adalah: apakah pariwisata membuat Bali menjadi lebih baik?

Inilah inti dari pariwisata regeneratif.

Pariwisata regeneratif bukan sekadar pariwisata yang berkelanjutan. Pariwisata berkelanjutan berusaha menjaga agar pariwisata tidak merusak. Sementara itu, pariwisata regeneratif bergerak lebih jauh: pariwisata harus ikut memulihkan, memperkuat, dan meningkatkan kualitas tempat.

Artinya, pariwisata bukan hanya mengurangi dampak negatif, tetapi menciptakan manfaat positif bagi masyarakat, budaya, alam, dan masa depan destinasi.

Dengan bahasa sederhana, pariwisata regeneratif bertanya: setelah wisatawan datang dan pergi, apakah desa menjadi lebih kuat? Apakah budaya semakin terjaga? Apakah lingkungan semakin pulih? Apakah masyarakat lokal semakin sejahtera? Apakah wisatawan pulang membawa kesadaran baru untuk lebih menghormati Bali?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi sangat relevan ketika kita melihat Desa Wisata Penglipuran.

Penglipuran adalah salah satu wajah terbaik Bali. Desa ini dikenal bersih, tertata, berbudaya, memiliki tata ruang tradisional yang kuat, hutan bambu yang indah, rumah adat yang terawat, serta masyarakat yang menjaga nilai-nilai desa adat.

Penglipuran adalah contoh bahwa pariwisata dan kehidupan adat dapat berjalan berdampingan. Namun, keberhasilan Penglipuran juga membawa tantangan baru.

Ketika semakin terkenal, kunjungan meningkat. Desa menjadi semakin ramai. Sampah harus dikelola lebih baik. Hutan bambu perlu ditata lebih serius. Jalur kunjungan harus dijaga. Rumput dan ruang desa tidak boleh terus-menerus menerima tekanan.

Masyarakat juga perlu tetap menjadi pemilik utama arah pembangunan desa, bukan hanya menjadi pelengkap dari aktivitas wisata.

Dari Penglipuran kita belajar satu hal penting: desa wisata yang berhasil tidak boleh berhenti pada keberhasilan. Ia harus terus memperbarui diri.

Dalam penelitian saya tentang Penglipuran, saya menemukan bahwa pengetahuan dan pemahaman masyarakat sangat menentukan keterlibatan mereka dalam pengembangan pariwisata.

Masyarakat yang hanya tahu belum tentu mau terlibat. Tetapi masyarakat yang memahami makna pariwisata, manfaatnya, risikonya, dan tanggung jawabnya akan lebih terdorong untuk ikut menjaga desanya.

Karena itu, pembangunan desa wisata tidak cukup hanya dengan promosi, pembangunan fasilitas, atau penambahan atraksi. Yang jauh lebih penting adalah membangun pemahaman bersama.

Desa wisata harus menjadi gerakan masyarakat, bukan hanya program pemerintah atau proyek pengelola.

Keterlibatan masyarakat terbukti menjadi kunci. Ketika masyarakat terlibat, pariwisata dapat memperkuat ekonomi lokal, menghidupkan UMKM, membuka ruang bagi generasi muda, memperkuat rasa memiliki, dan memberi pengalaman yang lebih bermakna bagi wisatawan.

Namun, ada catatan penting: keterlibatan masyarakat belum otomatis memulihkan lingkungan. Pemulihan lingkungan membutuhkan sistem yang lebih jelas, terukur, dan konsisten.

Di sinilah pariwisata regeneratif menjadi penting. Ia mengajak kita untuk tidak hanya merawat yang sudah baik, tetapi juga memperbaiki yang mulai tertekan.

Untuk menjelaskan gagasan ini secara sederhana, saya merumuskan Model REGENESIS, yang dapat dipahami sebagai Model 6M.

1. Memulihkan

Pariwisata harus ikut memulihkan lingkungan, budaya, dan kehidupan sosial. Jika ada kawasan yang rusak karena tekanan kunjungan, harus dipulihkan. Jika ada nilai budaya yang mulai melemah, harus dikuatkan kembali.

2. Menjaga Daya Dukung Tempat

Setiap desa, pantai, hutan, pura, kawasan heritage, dan kota memiliki batas. Pariwisata yang baik harus menghormati batas itu.

Bali tidak boleh dipaksa menanggung beban kunjungan tanpa memperhitungkan air, sampah, lalu lintas, ruang, dan kenyamanan warga.

3. Memberi Manfaat Lebih Besar

Pariwisata harus memberi manfaat positif yang lebih besar daripada beban yang ditimbulkan.

Pendapatan dari pariwisata harus kembali untuk masyarakat lokal, desa adat, lingkungan, budaya, dan peningkatan kualitas destinasi.

4. Menguatkan Budaya dan Masyarakat

Budaya Bali tidak boleh hanya menjadi dekorasi pariwisata.

Adat, ritual, bahasa, arsitektur, kuliner, seni, nilai Tri Hita Karana, dan kehidupan masyarakat harus semakin kuat karena pariwisata, bukan melemah karena pariwisata.

5. Menyatukan Para Pihak

Pariwisata regeneratif tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri.

Desa adat, pengelola destinasi, pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, wisatawan, dan generasi muda harus bekerja bersama.

6. Membangun Sistem yang Terus Belajar

Destinasi harus berani mengevaluasi diri.

Berapa sampah yang dihasilkan? Apakah masyarakat merasa diuntungkan? Apakah wisatawan memahami nilai budaya? Apakah lingkungan membaik? Apakah manfaat ekonomi merata?

Tanpa data dan evaluasi, pariwisata akan mudah terjebak pada rutinitas dan promosi semata.

Model ini lahir dari Penglipuran, tetapi pelajarannya penting bagi desa wisata lain di Bali dan Indonesia.

Setiap desa tentu tidak harus meniru Penglipuran. Desa pesisir punya tantangan berbeda dengan desa pegunungan. Desa pertanian berbeda dengan desa budaya. Kawasan kota tua berbeda dengan desa adat.

Tetapi prinsipnya sama: pariwisata harus membuat tempat menjadi lebih baik.

Di desa pesisir, pariwisata regeneratif dapat berarti membersihkan pantai, mengurangi sampah laut, memperkuat nelayan, dan memulihkan ekosistem pesisir.

Di desa pertanian, pariwisata regeneratif dapat berarti menjaga sawah, air, benih lokal, dan martabat petani.

Di desa budaya, pariwisata regeneratif berarti memperkuat adat, arsitektur, ritual, seni, dan generasi muda.

Di kawasan kota, pariwisata regeneratif dapat berarti menghidupkan kembali kawasan heritage, ruang publik, UMKM, transportasi publik, dan kualitas hidup warga.

Bagi Bali, pendekatan ini sangat mendesak.

Bali sudah menjadi destinasi dunia. Tetapi menjadi destinasi dunia tidak cukup. Bali harus tetap menjadi rumah budaya, ruang hidup masyarakat, dan pulau yang alamnya dijaga dengan sungguh-sungguh.

Masa depan pariwisata Bali tidak boleh hanya diukur dari ramainya kunjungan.

Masa depan Bali harus diukur dari semakin kuatnya desa adat, semakin pulihnya lingkungan, semakin sejahteranya masyarakat lokal, semakin berkualitasnya wisatawan, dan semakin terjaganya taksu Bali.

Penglipuran telah memberi pelajaran penting. Ketenaran bukan tujuan akhir. Ketenaran harus menjadi energi untuk merawat desa, menjaga budaya, memulihkan alam, dan memperkuat masyarakat.

Itulah jalan pariwisata regeneratif.

Bali tidak cukup hanya lestari. Bali harus mampu beregenerasi.

Karena pariwisata terbaik bukan hanya yang membuat wisatawan datang, tetapi yang membuat desa, budaya, masyarakat, dan alam menjadi lebih baik setelah wisatawan pergi.

Tentang Penulis

Merupakan pengamat ekonomi dan pariwisata, Pengurus PHRI Bali, dan Dewan Pembina BaliCeb.

Komentar