“Tanah Tota Adalah Mama Kami”, Suara Keras Masyarakat Mapia dari Papua Tengah

JurnalPatroliNews | Papua Tengah — Tanah Mapia adalah mama bagi seluruh rakyat Tota Mapiha, mulai dari KM 21, Degeidimi, Utaa, Wosokunu, hingga Kobougepuga, Provinsi Papua Tengah.

Tanah itulah yang melahirkan, memelihara, memberi makan dan minum kepada kami. Setiap ruang dan waktu, tanah Mapia terus menjadi sumber kehidupan tanpa henti.

Kami semua diciptakan dari debu tanah Mapia. Kami beraktivitas di atas tanah Mapia, hidup dari tanah Mapia, dan kelak kembali ke tanah Mapia. Bagi kami, tanah bukan sekadar tempat berpijak, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan, identitas, sejarah, dan masa depan orang Mapia.

Di tanah inilah kami menjalani kehidupan dan menantikan kedatangan Sang Guru, tokoh revolusi dunia, yakni Yesus Kristus. Kami percaya, harapan dan masa depan kami tetap berpijak di tanah Mapia.

Karena itu, keberlangsungan hidup masyarakat Tota Mapiha sangat bergantung pada tanah. Tanah tidak boleh dipandang semata-mata sebagai komoditas atau objek investasi.

Harapan hidup kami bukan bergantung kepada Satgas PKH, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, TNI dan Polri, perusahaan, maupun pihak pendatang. Harapan hidup kami bertumpu pada tanah adat yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Mapia.

Atas dasar itu, seluruh rakyat Tota Mapiha harus bersatu menjaga dan melindungi tanah Mapia yang kini dinilai sedang menjadi sasaran berbagai kepentingan.

Jika tanah kami dirampas atau dikuasai oleh pihak-pihak tertentu, lalu anak cucu kami harus tinggal di mana? Mereka akan makan dari mana, beraktivitas di mana, dan berburu di mana?

Wilayah adat suku lain tentu memiliki aturan dan batasnya sendiri. Karena itu, kehilangan tanah adat berarti mempertaruhkan masa depan generasi yang akan datang.

Kami tidak ingin anak cucu kami hidup dalam penderitaan karena tanah yang seharusnya menjadi warisan mereka telah hilang.

Anak cucu kami bisa saja terpaksa hidup sebagai pengamen di jalan atau tinggal di bawah jembatan apabila generasi hari ini tidak menjaga tanah dan justru menjualnya. Semua kemungkinan itu harus dicegah sejak sekarang.

Kami, Tim Peduli Alam dan Manusia Tota Mapiha, bersama Himiho, Iboniha, para tuan tanah, Adau Madou, serta keluarga dan orang-orang tua kami yang telah mendahului kami dan kini telah kembali ke tanah Mapia, menyatakan sikap menolak segala bentuk investasi ilegal dan setiap kegiatan perusahaan yang mengambil atau menguasai tanah adat tanpa persetujuan masyarakat pemilik hak.

Kami juga menolak setiap tindakan yang mengarah pada perampasan tanah adat serta proses pemberian izin kepada perusahaan tanpa melibatkan dan memperoleh persetujuan masyarakat adat.

Siapa pun yang mengizinkan perusahaan masuk atau menjual tanah kepada konglomerat maupun pihak lain—baik melalui pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, TNI, Polri, maupun investor lokal, nasional dan internasional—harus mempertanggungjawabkan keputusan tersebut kepada masyarakat adat.

Tanah adat bukan sekadar lahan. Tanah adalah ruang hidup, tempat mencari makan, tempat menjalankan kehidupan sosial dan budaya, sekaligus warisan bagi generasi berikutnya.

Karena itu, Tim Peduli Alam dan Manusia Mapia bersama seluruh pemuda Mapia menyatakan tidak akan menyerahkan tanah adat kami kepada siapa pun yang menguasainya tanpa persetujuan masyarakat adat.

Kami siap menjaga tanah Mapia dan berdiri bersama demi kepentingan anak cucu kami.

Saatnya seluruh masyarakat menyatukan kekuatan dan memperkuat barisan untuk menjaga tanah adat Mapia yang kami yakini sedang menghadapi berbagai kepentingan penguasaan.

Tanah adalah mama kami. Tanah adalah kehidupan kami. Tanah Mapia adalah warisan yang harus kami jaga untuk anak cucu kami.

Oleh: Musa Boma Mapiha 777
Ketua Tim Peduli Alam dan Manusia Tota Mapiha

Komentar