Diaspora India di Inggris: Berkunjung ke Kawasan Pusat Masakan Asia Selatan ‘Paling Otentik Dengan Rasa Rumahan’ di London

Pemilik restoran, Patel, memegang sepiring makanan khas India di luar restoran miliknya 'Diwana Bhel Poori House' di Euston, London, Inggris, 7 November 1979. EVENING STANDARD/GETTY

JurnalPatroliNews – Orang-orang Asia Selatan sudah tinggal di London sejak pertengahan abad ke 17, ketika kapal-kapal kolonial East India Company berlabuh di ibu kota.

Namun, sebagian besar tiba pada pertengahan abad ke-20; banyak yang datang dari India, Pakistan dan Bangladesh pasca pemisahan, untuk membantu pembangunan kembali Inggris pasca-perang, ada yang bekerja di National Health Service atau sebagai mahasiswa diaspora.

Era 1960-an dan 70-an adalah puncak kedatangan orang-orang Asia, dan wilayah Afrika timur ke Inggris.

Seperti keluarga saya dari Punjabi atau Gujarati, India, yang diasingkan dari atau meninggalkan bekas koloni Inggris.

Pada saat pergolakan, terjadi perubahan dan sesekali tindakan rasisme, Drummond Street benar-benar merupakan rumah bagi komunitas Asia Selatan yang ramai di London, berkat kehadiran kafe dan toko yang dikelola keluarga yang kecil namun terus berkembang.

Namun terlepas dari aktivitas perdagangan selama beberapa dekade, Drummond Street tetap tidak mencolok.

Jalan kecil di antara Regents Park dan British Library ini lebih dekat ke stasiun kereta api ketimbang ke lokasi utama dan terhalang oleh lokasi yang lebih terkenal, Brick Lane dekat Liverpool Street di timur kota.

Di sana, jumlah restoran Bangladesh yang jauh lebih banyak dan berkembang dari 1980-an, dikenal dengan istilah “Banglatown” yang selalu menyambut komunitas penduduknya yang sudah lama ada.

Tetapi, ketika Brick Lane menjadi trendi, karena adanya klub, toko, dan bar, termasuk yang ada di dalam Truman Brewery yang terus berkembang, dan menarik orang London dan turis, Drummond Street tetap tidak berubah, meskipun lokasinya di pusat – itulah sebabnya begitu banyak orang kembali ke sana.

Saat ini, praktis setiap kota di Inggris adalah tempat bagi makan dari Asia Selatan, dan tiruan Drummond Street berkembang di pinggiran kota London;

Seperti Southall di London Barat; Ealing Road di barat laut Wembley; dan Green Street di London timur, dengan toko-toko kelontong, toko-toko sari, dan dhaba (restoran di pinggir jalan bergaya cafe).

Tetapi Drummond Street sudah ada lebih dulu dari semuanya. Tidak ada tempat lain yang dapat menangkap pengalaman asli Asia Selatan di jantung ibu kota.

Di luar eksterior restoran Ravi Shankar berwarna hijau terang, yang menjadi favorit sejak 1982, manajer Israb Miah mengingat antrian di masa-masa awal.

Dan mereka masih datang, katanya. “Banyak yang bernostalgia, barangkali bekas mahasiswa, demi mencari ‘Drummond lama mereka’.”

Tetapi mereka juga datang demi hidangan chaat (street food) yang baru dibuat, terinspirasi oleh kios pinggir jalan dan gerobak makanan di pantai Chowpatty dan Juhu Mumbai:

Hidangan seperti bhel poori yang renyah, nasi kembung dengan sayuran, yogurt, dan saus asam yang tajam;

Atau aloo chaat, kentang goreng dengan bawang mentah, chutney, air jeruk nipis dan masala (rempah-rempah).

Mereka datang demi dosa, isi panekuk ala India Selatan dari nasi fermentasi dan adonan miju-miju (kacang lentil merah), disajikan dengan chutney; dan sambar, lentil dan rebusan asam.

Dan untuk sajian prasmanan legendaris dan thalis (bahasa India untuk “piring”) untuk pesta dengan semangkuk daal (lentil), acar, sayuran, dan nasi, disajikan dengan roti pipih seperti chapatis.

Apa kunci daya tarik Drummond Street yang mampu bertahan lama?

Koki dan penulis makanan, Anjula Devi, sekaligus penggemar kawasan Drummond dan ahli rempah-rempah, melihat hal itu tak lepas dari persiapan dan kesegarannya.

“Makanan Asia Selatan yang enak itu berlapis-lapis, dengan bumbu yang dimasukkan pada tahap tertentu,” jelasnya.

“Misalnya, Anda menambahkan biji sesawi terlebih dahulu, sehingga melunak dan lembut, kemudian, misalnya, biji jintan dan adas. Rasa ini bergejolak di mulut Anda – Anda merasakannya di tempat-tempat seperti Diwana.”

Hal itu juga tak terlepas dari atmosfir nan-rileks.

“Saya merasa mereka ingin memperhatikan saya, seperti saya datang ke rumah bibi,” ujar Devi.

“Dan Anda mendapatkan acar, lauk, dan chutney yang Anda dapatkan di rumah.” Itu adalah pendapat khalayak.

Baik di Drummond Villa Restaurant, Masala King, Chutney’s, Euston Spice, Taste of India, Shah Tandoori, dan lainnya, adalah tempat yang dikelola oleh keluarga, seringkali dengan karyawan lama.

Banyak yang telah tinggal di sini selama sekian dekade dan pergi ke sekolah bersama.

Bukan hal yang aneh melihat mereka mengobrol satu sama lain di ruangan di dekat pintu.

Itu adalah kisah di Raavi Kebab, di mana saya bertemu sang pemiliknya, Tehreem Riaz.

“Kami tinggal di atas toko sebagai penyewa yang diakomodasi pemerintah (council tenants) sebelum orang tua saya mendapatkan status sewa pada 1976,” katanya kepada saya.

“Ibu mulai memasak makanan Lahori Punjabi. Itu yang disukai orang-orang.”

Koki mereka, Khalid Jamil, tiba dari Kashmir pada 1985, yang mengawalinya sebagai pekerja dapur berusia 16 tahun.

Kini dia menjadi tukang masak spesialis makanan khas Pakistan selama 35 tahun.

Ketika Riaz dan saya mengobrol, seorang pelanggan mendengar percakapan itu dan menimpali bahwa dia membeli kebabnya di sini sejak tiba di London dari Pakistan pada 1990-an untuk belajar hukum.

“Ini makanan rumahan,” kata pengacara Saamir Mahmud.

“Saya selalu datang ke sini demi domba nihari buatan Khalid yang dimasak dengan suhu rendah dengan waktu lama. Ini membawa saya kembali ke masa kecil saya.”

Hubungan yang selalu ada antara makanan dan rumah ini adalah detak jantung Drummond Street.

Di seberang jalan ada Ambala, ruas jalan tertua, pusat aktivitas bisnis tertua oleh orang-orang Asia tertua sejak tahun 1965.

Lokasi itu juga semi-legendaris di kalangan orang-orang Asia Selatan sebagai pusat pembuatan manisan dan makanan gurih yang disajikan dalam segala hal, mulai pernikahan mewah hingga sarapan keluarga.

Itu adalah toko paling mewah di ruas jalan itu, dengan tempat duduk sofa, konter serba mengkilap, dan rak-rak penuh acar dan saus bermerek Ambala.

Di dekat pintu toko Gupta, yang didirikan Ricky dan Rakhee Gupta pada 1979, nampan samosa, kachori (bola lentil goreng), pakora (sayuran goreng) dan jalebi oranye berkilau (permen berlapis sirup gula) memikat Anda untuk masuk ke dalam.

Di dalam toko itu, Anda juga dapat menyesap teh masala atau mencoba es krim kulfi buatan sendiri yang lembut.

Drummond Street bukanlah kawasan eksklusif yang dihuni hanya orang-orang dari Asia Selatan.

Ada Camden People’s Theatre, restoran China-supermarket, kedai es krim, dan pub Crown and Anchor yang terdaftar sebagai Grade II seperti Crown dan Anchor pub.

Bisnis sehari-hari seperti penata rambut, apotek, dan toko serba ada merupakan pengingat bahwa ini adalah lingkungan yang hidup dan ditinggali.

Drummond Street juga memelopori kehadiran imperium makanan global.

Pada 1950-an, keluarga Pathak mulai menjual samosa dari rumah mereka di Kentish Town beberapa mil jauhnya, dibantu putranya berusia 10 tahun, Kirit.

Pada 1958, di mana Indian Spice Shop berdiri hingga hari ini, ayah Kirit, L G Pathak, membuka toko kelontong Pathak – banyak orang, termasuk ayah saya, ingat memesan makanan India untuk dikirim ke sekolah asrama atau penginapan.

Toko sederhana ini akan menjadi cikal bakal merek makanan ikonik Patak (huruf ‘h’ dihilangkan karena alasan pengucapan) yang didirikan oleh Kirit Pathak, yang tewas secara tragis dalam kecelakaan mobil pada 2021, dan istrinya Meena.

Sebagai sosok yang dikenal, saus kari, acar jeruk nipis, dan chutney mangga produk mereka berjajar di rak-rak supermarket di Inggris dan sekitarnya.

Hari-hari ini ada berbagai tantangan baru bagi kawasan tersebut.

Drummond Street, seperti kawasan lainnya, menderita tak hanya lantaran pandemi, tetapi pekerjaan konstruksi oleh HS2, yang mengelola jaringan kereta api berkecepatan tinggi di Inggris dengan Euston sebagai terminalnya, mengancam akses jalan kaki dari stasiun, jalan-jalan, serta lokasi parkir.

Jalan tersebut telah menerima hibah revitalisasi sebagai pengakuan atas betapa pentingnya lokasi itu.

Itulah sebabnya, status itu menghasilkan Drummond Streatery yang baru-baru ini diluncurkan, di mana muncul kabin di sisi jalan yang berwarna-warni, yang memungkinkan warga bersantap di udara terbuka; dan program pesta jalanan setiap Agustus dengan kehadiran DJ, tarian, kios jalanan, dan menu pencicip.

Rencana lainnya termasuk merenovasi bagian depan toko, festival makanan jalanan, kegiatan di malam hari dengan tema tertentu, dan aneka lampu hias demi mendorong ekonomi di malam hari.

Planters, yang dibuat oleh Global Generation, sebuah badan amal lingkungan lokal yang menghubungkan kaum muda dengan alam di lingkungan perkotaan, juga ada.

Kata-kata seperti regenerasi dan revitalisasi sering kali merupakan kode untuk gentrifikasi, tetapi “ini bukan tentang menciptakan lingkungan yang lebih modern.”

Tapi, “ini tentang merayakan apa yang ada di sini,” Georgie Street, kepala proyek Euston Town, memberi tahu saya saat kami berbagi dosa bayam dan keju serta setumpuk mithai (permen) di luar restoran Ravi Shankar.

Jalan-jalan dengan sebuah kisah adalah jiwa sebuah kota.

Sejumlah pedagang tetap khawatir perihal bisnisnya, tetapi ada rasa optimisme, sebuah tekad, dan persatuan.

Bagi Riaz, melihat Mahmud masih menikmati sajian domba niharinya, 30 tahun setelah ia pertama kali datang sebagai mahasiswa hukum di London, adalah hal yang menenangkan.

“Saya pikir bagi banyak orang, Drummond Street benar-benar merupakan cita rasa rumahan,” katanya.

“Makanan memiliki begitu banyak sejarah dan membawa kembali begitu banyak kenangan.

“Saya merasa kami sangat diberkati untuk memiliki tempat khusus di hati orang-orang.”

Pos terkait