Bahlil Dinilai Terlalu Percaya Diri Soal Ketahanan Energi RI


JurnalPatroliNews – JAKARTA — Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia terkait ketahanan energi nasional menuai kritik. Pengamat menilai optimisme pemerintah tidak sepenuhnya sejalan dengan kondisi riil di tengah gejolak pasar energi global.

Pengamat politik Igor Dirgantara menyebut pernyataan Bahlil yang menyatakan Indonesia memiliki ketahanan energi kuat cenderung terlalu percaya diri dan kurang mempertimbangkan dinamika global.

“Problem Menteri Bahlil itu memang terlalu percaya diri, sehingga terkadang jadi kurang realistis terhadap realitas pasar energi global saat ini,” ujar Igor kepada RMOL, Minggu (29/3/2026).

Ia menyoroti dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya agresi militer Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran, yang memicu gangguan distribusi energi global.

Menurutnya, pembatasan akses di Selat Hormuz telah menghambat pergerakan kapal tanker, termasuk yang mengangkut minyak mentah untuk Indonesia.

“Kapal tanker yang membawa minyak untuk Indonesia dikabarkan tertahan melintasi Selat Hormuz. Ini jelas mengguncang rantai pasokan minyak dunia,” katanya.

Igor menilai ketergantungan Indonesia terhadap impor energi dari kawasan Timur Tengah menjadi tantangan serius dalam menjaga stabilitas pasokan bahan bakar minyak (BBM).

Di sisi lain, ia menyebut sejumlah negara Asia lain seperti Malaysia, Thailand, dan Pakistan telah memperoleh akses untuk melintasi Selat Hormuz, sehingga memiliki posisi lebih baik dalam menjaga pasokan energi.

“Faktanya, Indonesia juga bergantung pada impor energi dari kawasan Timur Tengah. Apalagi cadangan energi nasional relatif terbatas, sementara negara-negara Asia semakin ketat berkompetisi mendapatkan energi,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan bahwa tanpa langkah strategis yang realistis dan adaptif, Indonesia berpotensi tertinggal dalam persaingan energi di kawasan, terutama di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat.