JurnalPatroliNews – JAKARTA – Kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal terhadap intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto memicu respons keras dari Wakil Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman.
Politikus Gerindra itu menilai pernyataan Dino tidak perlu menggiring publik untuk membandingkan kinerja pemerintahan saat ini dengan periode sebelumnya. Menurutnya, kritik tersebut justru dapat memunculkan penilaian balik terhadap capaian diplomasi pada masa Dino masih aktif di Kementerian Luar Negeri.
“Jangan memancing publik untuk membanding-bandingkan. Kan susah kalau dibanding-bandingkan. Kalau ditanya, zamannya Pak Dino sehebat apa sih? Kok sekarang merasa orang paling Kemlu gitu loh. Sok paling Kemlu sendiri sedunia,” kata Habiburokhman kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Habiburokhman menegaskan, di tengah kondisi geopolitik global yang semakin dinamis, Presiden Prabowo justru dituntut untuk aktif membangun komunikasi dan hubungan langsung dengan para pemimpin dunia. Menurutnya, diplomasi tingkat tinggi menjadi instrumen penting dalam memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia.
“Menurut kami, justru Presiden Prabowo harus sangat proaktif, baik menerima kunjungan maupun juga mengunjungi pemimpin negara lain,” ujarnya.
Pernyataan tersebut merupakan tanggapan atas kritik yang sebelumnya disampaikan Dino Patti Djalal. Diplomat senior yang juga mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat itu meminta Presiden Prabowo mengurangi frekuensi perjalanan luar negeri yang dinilainya terlalu tinggi sejak menjabat sebagai kepala negara.
Dalam unggahan yang dikutip dari akun Instagram pribadinya pada Sabtu (30/5/2026), Dino mengaku menyampaikan pandangan tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral setelah menerima penghargaan Bintang Mahaputera.
“Sebagai sahabat lama Bapak, saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia menghimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini,” kata Dino.
Dino menilai intensitas lawatan luar negeri Presiden Prabowo tergolong sangat tinggi jika dibandingkan dengan para pemimpin negara lain di dunia.
“Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan keluar negeri,” tegasnya.
Perdebatan mengenai frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo belakangan menjadi perhatian publik. Di satu sisi, sejumlah pihak menilai aktivitas diplomasi internasional diperlukan untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah berbagai tantangan global. Namun di sisi lain, terdapat pandangan yang menginginkan agar pemerintah lebih banyak memberikan perhatian pada persoalan domestik yang dihadapi masyarakat.
Hingga kini, pemerintah menegaskan bahwa setiap kunjungan luar negeri Presiden dilakukan dalam rangka menjalankan agenda kenegaraan, memperkuat kerja sama strategis, serta mengamankan kepentingan nasional Indonesia di berbagai sektor.














